BeritaArrow iconBareksaArrow iconArtikel

Antony Dirga: Dedolarisasi dan Dampaknya pada Ekonomi Indonesia

Hanum Kusuma Dewi08 Agustus 2023
Tags:
Antony Dirga: Dedolarisasi dan Dampaknya pada Ekonomi Indonesia
Direktur Utama PT Trimegah Asset Management, Antony Dirga. (Bareksa)

Peluang berkurangnya dominasi dolar, meski butuh waktu, bisa positif bagi ekonomi global dan Indonesia

Bareksa.com - Akhir-akhir ini banyak opini yang berkembang bahwa tren dedolarisasi sedang berlangsung dan mata uang US dollar akan segera ditinggalkan sebagai mata uang utama reserve (cadangan devisa) dunia. Dalam artikel ini kita akan membahas beberapa aspek terkait sejarah berbagai mata uang yang pernah menjadi mata uang reserve dunia sehingga kita memiliki konteks yang lebih tepat dalam mengantisipasi apa saja efek ataupun dampaknya terhadap perekonomian global pada umumnya dan perekonomian Indonesia pada khususnya.

Sejarah singkat mata uang di dunia

Ribuan tahun yang lalu, transaksi komersial dilakukan secara barter. Karena ketidakefisienan sistem perdagangan barter, sejarah menunjukkan tiap peradaban selalu berusaha menggunakan satu mata uang universal yang dapat digunakan secara efisien untuk mendukung sistem perdagangan. Mata uang yang digunakan dapat berupa kulit kerang, batu, logam, bulu, garam, perak, emas, koin logam, uang kertas, maupun uang elektronik pada akhir-akhir ini.

Apapun bentuknya, mata uang universal yang menjadi mata uang utama pendukung perdagangan membutuhkan dukungan ekonomi, dukungan politik, area perdagangan luas yang menggunakan mata uang tersebut, dan yang terakhir, membutuhkan tingkat kepercayaan yang tinggi. Dalam sejarahnya, beberapa mata uang universal yang sukses digunakan dalam kurun waktu yang lama terbentuk setelah berdirinya kerajaan politik di Eropa, Timur Tengah dan Asia. Berakhirnya penggunaan mata uang universal di Eropa pada jaman kerajaan Romawi Kuno maupun di China pada jaman dinasti Qin dan Han dipicu oleh ketidakstabilan ekonomi dan politik.

Promo Terbaru di Bareksa

Sejarah terus menunjukkan bahwa digunakannya mata uang universal sejalan dengan kestabilan ekonomi dan kekuatan politik yang dapat meng-enforce penggunaan mata uang tersebut. Dalam beberapa abad terakhir pasca abad pertengahan, kita dapat mengamati mata uang beberapa negara yang menjadi mata uang reserve dunia seperti Portugal dari tahun 1450-1530, Spanyol 1530-1640, Belanda 1640-1720, Perancis dengan mata uang Assignat-nya dari tahun 1720-1815, Inggris dengan Poundsterlingnya dari tahun 1815-1920 dan terakhir, US dollar dari tahun 1921 hingga sekarang. Jika kita amati dengan seksama, semua pergantian mata uang universal di atas didasari oleh bangkit jatuhnya kestabilan ekonomi dan kekuatan politik negara tertentu.

Kekuatan US Dollar sebagai mata uang utama reserve dunia dimulai pasca perang dunia kedua, pada perjanjian Bretton Woods di tahun 1944, ketika negara-negara sekutu mengukuhkan Dollar Standard sebagai pengganti Gold Standard. Meskipun sistem fixed exchange rate yg dijaga oleh perjanjian Bretton Woods akhirnya berakhir di tahun 1973, US dollar tetap menjadi mata uang utama dalam perekonomian dunia yang sekarang menganut sistem flexible exchange rate.

Klik untuk Beli Emas Logam Mulia

Posisi US Dollar dan Tren Dedolarisasi

Menurut artikel IMF yang terbit pada bulan Mei 2021, market share US Dollar sebagai mata uang reserve utama dunia turun ke level yang terendah dalam 25 tahun terakhir (dapat dilihat pada chart di bawah ini).

C:\Users\antony.dirga.TRIMEGAH\Desktop\Trend in USD as Reserves Currency.jpg

Katalis utama dari tren ini adalah peluncuran Euro sebagai mata uang dominan yang dapat dijadikan alternatif dalam transaksi perdagangan global. Namun jika kita amati lebih detil, posisi market share Euro selama 25 tahun sebenarnya hanya diam di kisaran 20%, sedangkan mata uang lain seperti Australian Dollar, Canadian Dollar, dan Chinese Renminbi naik ke level 9%.

Posisi market share terakhir US Dollar pada akhir tahun 2022 di level 58,3% dapat dilihat pada chart di bawah ini. Posisi kedua diduduki oleh Euro di 20,5%, Yen di 5,5%, Poundsterling di 5%, dan Chinese Renminbi di 2,7%.

Illustration

Akhir-akhir ini kita mulai melihat gerakan dari beberapa negara besar di dunia seperti yang diinisiasi oleh BRICS (Brazil, Russia, India, China, dan South Africa) untuk beralih ke mata uang baru dan sekaligus meninggalkan US Dollar dalam perdagangan mereka. Selain itu, kita pun melihat gerakan dari pemerintah Indonesia yang mengadakan banyak perjanjian bilateral di lingkup regional supaya perdagangan antar negara dapat dilakukan menggunakan Rupiah dan mata uang regional lainnya. Pertanyaan utama bagi kita tentunya adalah: apakah US Dollar akan segera ditinggalkan dan Dedolarisasi akan segera terjadi dalam waktu dekat ini?

Dapatkah Dunia Meninggalkan US Dollar Dalam Waktu Dekat?

Jika kita pelajari data perdagangan di dunia yang diterbitkan oleh WTO (World Trade Organization) baik itu perdagangan barang maupun jasa pada kedua chart di bawah ini, US hanya berkontribusi 8,3% dari total ekspor barang yang beredar secara global, 13.1% dari total ekspor jasa secara global dan 16,6% dari total impor jasa secara global. Tentu saja ini sangat kontras dengan porsi market share US Dollar yang sangat dominan di level 58,3% sebagai mata uang reserve di dunia. Berdasarkan data ini, secara teori Dedolarisasi dapat saja terjadi dalam waktu yang singkat, jika ada komitmen dari mayoritas negara di dunia untuk meninggalkan US Dollar secara bersama-sama. Pertanyaannya adalah: adakah motivasi politik yang dominan dan bisa menyatukan negara-negara besar di dunia untuk menggantikan US Dollar sebagai mata uang utama? Pertanyaan berikut untuk kita tentunya: mata uang apa yang akan digunakan untuk menggantikan US Dollar?

Total Ekspor Barang Dunia 2022 – by WTO Stats Board

C:\Users\antony.dirga.TRIMEGAH\Desktop\World

WTO-OECD neraca perdagangan jasa 2021 – by WTO Stats Board

C:\Users\antony.dirga.TRIMEGAH\Desktop\World

Mari kita coba jawab pertanyaan pertama tentang motivasi politik yang dapat memicu negara-negara besar untuk segera meninggalkan US Dollar. Jika kita menggunakan framework Game Theory di mana aksi dari suatu negara tentunya mempertimbangkan aksi dari negara-negara yang lain, posisi US Dollar sebagai mata uang yang mendominasi perdagangan internasional adalah hasil dari equilibrium yang terbentuk melalui proses puluhan tahun lamanya. Proses yang tentunya terkait dengan melajunya ekonomi Amerika sebagai ekonomi nomor satu di dunia, kemenangan Amerika dalam perang dingin melawan Rusia di masa lalu dan posisi Amerika sebagai kekuatan militer dan politik nomor satu di dunia. Semuanya adalah satu kesatuan paket.

Belajar dari sejarah dimana posisi utama mata uang dunia bergeser dari Portugal, Belanda, Perancis, Inggris dan kemudian Amerika, semua sejalan dengan kekuatan ekonomi, militer, dan politik dari negara-negara tersebut yang jaya pada masanya. Berbicara tentang kekuatan politik dan militer di masa modern kali ini, ada satu variabel yang menyebabkan persaingan dunia secara militer dan politik telah menemui jalan buntu, yaitu ditemukannya senjata nuklir pada tahun 1942 dan digunakan untuk pertama kali pada perang dunia kedua di tahun 1945.

Dengan banyaknya negara adidaya yang memiliki senjata nuklir, pengambilalihan kekuasan menggunakan kekuatan militer secara frontal sudah tidak memungkinkan. Semua negara tahu bahwa saat di mana satu negara menekan tombol senjata nuklir mereka, semua negara akan menekan dan berakhirlah peradaban dunia yang kita kenal sekarang. Kesimpulannya, perebutan kekuasaan politik secara frontal dan militer tidaklah merupakan opsi yang feasible. Jalan politik yang cenderung diambil adalah perang dingin yang berlangsung sejak berakhirnya perang dunia kedua. Inilah sebabnya, menurut penulis, jalan satu-satunya yang masih terbuka untuk mengambil alih dominansi dunia adalah jalur perekonomian.

Dengan terjadinya perang Ukraina dan Rusia akhir-akhir ini, kelihatannya dunia sudah masuk pada fase perang dingin yang baru, di mana Rusia, China, dan beberapa negara lain yang berseberangan dengan Amerika dan sekutunya (NATO Alliance) mencoba mendilusi kekuatan politik Barat. Dedolarisasi adalah salah satu cara untuk melemahkan dominansi Amerika di sisi ekonomi. Berdasarkan framework Game Theory tadi, tentunya usaha-usaha untuk melemahkan posisi Amerika secara ekonomi dapat dilakukan, akan tetapi secara logika Amerika-pun tentunya akan bereaksi dan berupaya untuk mempertahankan posisi mereka. Masing-masing negara pun memiliki agenda yang tidak selalu sejalan dengan semangat “anti Amerika” mengingat mereka pun masih membutuhkan Amerika sebagai pasar besar untuk ekspor ataupun supplier utama untuk impor.

Memang secara ekonomi, posisi Amerika perlahan-lahan akan diambil alih oleh China. Menurut Capital Economics dan juga Goldman Sachs, ekonomi China akan melampaui ekonomi Amerika sebagai yang terbesar di dunia pada tahun 2030-2040 (masih sekitar 10 tahun lagi). Prediksi inipun bukan tanpa tantangan, karena China-pun memiliki masalah demografi yang akhirnya akan mengganggu pertumbuhan ekonomi mereka secara fundamental. Capital Economics bahkan memprediksi karena problem demografi yang disebabkan oleh “One Child Policy” nya di masa lalu, ekonomi China akan kembali dilampaui oleh Amerika pada akhirnya. Kebijakan tertutup yang diterapkan China dalam mengelola ekonominya (contoh konkret adalah campur tangan dan kepemilikan pemerintah China pada perusahaan raksasa Alibaba dan Tencent melalui “golden shares”) memang membuat China lebih tidak diminati oleh para entrepreneur kelas dunia. Sistem perekonomian Amerika yang lebih terbuka, transparan dengan governance memang membuat Amerika sebagai ladang pertumbuhan ekonomi yang lebih sehat. Jika kita membandingkan China vs Amerika, memang tidak mudah bagi China untuk melampaui posisi Amerika sebagai ekonomi nomor satu di dunia.

Menurut hemat penulis, cara tercepat untuk menjatuhkan posisi ekonomi Amerika adalah jika Amerika sendiri yang melakukan kesalahan besar, contohnya jika mereka tidak meng-handle masalah debt ceiling di awal bulan Juni kemarin dengan baik. Masalah utang Amerika yang terus membumbung tinggi jika tidak diikuti dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup atau disiplin spending yang baik tentunya suatu saat dapat menjadi bom waktu buat ekonomi mereka.

Pertanyaan kedua yang harus kita bahas adalah meskipun secara politik ataupun ekonomi dominansi Amerika semisalnya berhasil digeser, mata uang mana yang akan menjadi alternatifnya? Moody’s dalam laporan yang mereka terbitkan pada tanggal 25 Mei 2023 menyatakan bahwa dominansi US Dollar dalam perdagangan internasional akan terus berlangsung dalam beberapa dekade ke depannya. Mereka percaya meskipun banyak tantangan-tantangan dan alternatif mata uang universal yang baru, US Dollar akan tetap dominan sebagai mata uang utama reserve dunia. Moody’s percaya bahwa US Dollar market share sebagai reserve dunia akan terus turun perlahan, namun alternatif utama seperti Euro dan bahkan Renminbi akan sulit untuk mengambil alih posisi utama karena mereka belum bisa menggantikan kombinasi stabilitas dan keterbukaan ekonomi dan juga belum dapat menyaingi likuiditas dan keamanan US treasury sebagai instrumen safe haven dunia.

Penulis setuju dengan pernyataan Moody’s bahwa dalam waktu dekat, sulit dibayangkan untuk Euro, Yen, Pound, Renminbi atau mata uang lainnya untuk menjadi alternatif pengganti dominansi US Dollar. Jika misalnya negara-negara BRICS akan mengeluarkan mata uang regional baru seperti Euro, tentunya butuh waktu yang sangat panjang mengingat Euro sendiri butuh 40 tahun sebelum terbentuk. Itupun dimulai dari terbentuknya European Union terlebih dahulu. Salah satu wild variable yang harus kita amati adalah perkembangan CBDC (Central Bank Digital Currencies). Digital currency tentunya dapat menjadi opsi independen yang, jika disetujui oleh banyak negara, akan menjadi contender sangat kuat bagi US Dollar. Tentunya Amerika akan sangat berhati-hati dalam menjaga kepentingan mereka, akan tetapi jika negara-negara besar dapat menyetujui satu framework yang kuat dalam penerapan digital currency, bukan tidak mungkin US dollar akan kehilangan dominansinya dalam waktu yang lebih singkat. Sejarah mengajarkan bahwa Portugal, Spanyol, Perancis dan Inggris semua kehilangan dominnasinya masing-masing setelah kurang lebih 100 tahun. Amerika sudah memegang tampuk dominansi selama kurang lebih 100 tahun. Apakah digital currency dapat menjadi mata uang alternatif yang menutup cycle 100 tahun kepemimpinan US Dollar? Waktu yang akan menjawab.

Berdasarkan analisa di atas, dunia dapat saja meninggalkan US Dollar dalam waktu dekat jika Amerika sendiri yang melakukan blunder seperti kesalahan pengelolaan utang atau malah default. Kemungkinan lainnya adalah jika perkembangan framework CBDC dapat disepakati oleh BRICS ataupun negara adidaya lainnya dengan cepat. Penulis berpendapat bahwa kedua kemungkinan di atas meskipun realistis, memiliki probabilitas yang kecil mengingat Amerika dan sekutunya pasti akan melakukan segala cara untuk memperlambat proses tersebut. Jadi skenario utama yang paling realistis adalah dedolarisasi akan terjadi, dalam kurun waktu yang panjang.

Dampak Dedolarisasi pada Perekonomian Dunia dan Indonesia

Jika dedolarisasi terjadi dalam jangka waktu yang panjang, misalnya puluhan tahun, dampaknya pada perekonomian global dan khususnya Indonesia cenderung netral. Jangka waktu yang panjang akan memberikan cukup waktu untuk para pelaku ekonomi dan pasar untuk melakukan adjustment yang dibutuhkan.

Dengan adanya dedolarisasi, tentunya mudah untuk menyimpulkan bahwa nilai tukar US Dollar akan turun dibandingkan dengan mata uang negara-negara lain dengan fundamental yang kuat. Namun jika kita analisa lebih lanjut, di antara mata uang alternatif, tidak ada satupun yang didukung oleh fundamental yang lebih kuat daripada ekonomi di Amerika. Eropa dan Jepang memiliki problem demografis yang akan membebani pembayaran utang ke depannya. Inggris memiliki posisi ekonomi yang lebih baik dari Eropa dan Jepang, namun tidak lebih baik dari Amerika dalam beberapa metrics. China mungkin dalam kondisi yang lebih baik, akan tetapi sistem ekonominya yang tidak transparan dan tertutup, ditambah motivasi politik untuk mempertahankan nilai Renminbi yang relatif murah akan menjadi tantangan tersendiri bagi Renminbi untuk terapresiasi.

Sejarahpun membuktikan bahwa dalam masa dedolarisasi yang sudah terjadi lebih dari 25 tahun yang lalu (sejak lahirnya Euro), dimana market share US Dollar sebagai mata uang reserve dunia turun dari 71% menjadi 58%, nilai DXY (US Dollar Index) yang seharusnya turun ternyata tidak jauh berubah berdasarkan chart di bawah ini.

Illustration

Kesimpulan yang dapat kita ambil, turunnya nilai US Dollar dengan berjalannya waktu, meskipun masuk akal, bukan sesuatu yang 100% pasti. Langkah terbaik untuk menyikapi ini adalah dengan mulai mendiversifikasikan exposure bisnis maupun investasi pada mata uang alternatif lainnya dan juga pada emas atau logam mulia lainnya.

Beli Emas Logam Mulia, Klik di Sini

Bagi pelaku sektor riil yang terlibat ekspor maupun impor yang berkelanjutan dengan counterparties di negara lain selain Amerika mulailah ikuti program bilateral agreement yang sudah ditandatangani oleh pemerintah kita dan bertransaksi menggunakan mata uang negara yang bersangkutan. Intinya pelaku bisnis harus proaktif mengikuti perkembangan tren dedolarisasi dan berdaptasi dengan perubahan-perubahan yang akan terjadi.

Pemerintah Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis dalam menyikapi tren dedolarisasi yang sedang terjadi. Posisi Indonesia sekarang merupakan ekonomi nomor 16 terbesar di dunia berdasarkan GDP (di akhir 2021). Langkah-langkah yang dilakukan pemerintah Pak Jokowi terkait hilirisasi, pembangunan infrastruktur, DHE (Dana Hasil Ekspor) dan perluasan partisipasi pajak semua bertujuan untuk membangun tabungan current account surplus yang berkelanjutan, menaikkan efisiensi transportasi dan menekan inflasi, memperdalam likuiditas rupiah, dan membangun posisi fiskal yang kuat untuk negara kita. Intinya, semua demi perbaikan kondisi fundamental di negara kita. Jika kebijakan ini terus dilakukan dengan konsisten, dalam 20 tahun ke depan, sangat mungkin posisi Indonesia akan naik menjadi nomor 5 ekonomi terbesar di dunia. Jika negara kita terus memperkuat fundamental kita, bukan tidak mungkin bahwa Rupiah dapat menjadi salah satu mata uang alternatif reserve dunia.

Investor asing tentunya akan terus memantau konsistensi dan perkembangan dari upaya-upaya pemerintah tersebut di atas sebagai variabel utama sebelum menambah investasi mereka di Indonesia. Sebagai investor lokal, kitapun wajib memonitor hal yang sama. Jika upaya pemerintah terus dilakukan secara konsisten, apalagi jika disertai dengan perbaikan corporate governance dan perluasan literasi keuangan, pasar modal kita akan semakin berkembang dan menarik untuk diinvestasikan. Konsistensi akan membuahkan recognition dari pengamat dan investor asing, bukan tidak mungkin credit rating kitapun dapat di-upgrade beberapa notch dalam 20 tahun ke depan. Dengan tingkat inklusi keuangan yang sudah tinggi, sejalan dengan bertambahnya GDP per kapita kita, pasar saham dan obligasi kita akan semakin dalam dan likuid. Ini tentunya akan meningkatkan prospek investasi di saham dan obligasi, baik secara langsung maupun melalui reksadana yang dikelola oleh manajer investasi profesional.

Beli Reksadana, Klik di Sini

Kesimpulan

Saat ini cycle perubahan mata uang utama dunia yang dalam sejarahnya terjadi setiap 100 tahun sekali sedang berjalan dalam bentuk dedolarisasi. Dedolarisasi sudah terjadi sejak tahun 1999 dengan lahirnya Euro sebagai contender utama. Meskipun begitu, US Dollar bukan mata uang yang mudah untuk ditinggalkan dalam waktu dekat mengingat dominansi US Dollar sekarang adalah proses dan equilibrium yang sudah terbentuk sejak berakhirnya perang dunia kedua. Sejarah mengajarkan bahwa mata uang utama dunia akan bertahan selama kekuatan ekonomi dan politik negara yang dominan tersebut terjaga.

Sulit dibayangkan bahwa kekuatan politik Amerika Serikat akan dapat dipudarkan melalui pertempuran frontal militer seperti yang selalu terjadi dalam sejarah pergeseran dinasti. Status Quo akan dijaga oleh adanya senjata nuklir yang dimiliki oleh negara-negara adidaya. Satu-satunya celah yang terbuka untuk menggeser posisi Amerika Serikat adalah melalui pertempuran ekonomi. Namun sistem perekonomian Amerika yang terbuka, jaminan yang kuat untuk investor, dan dinamika hukum yang bersahabat untuk para entrepreneur sangat sulit untuk dikalahkan dalam waktu dekat. Mata uang alternatif yang bisa menggantikan US Dollar pun sangat terbatas. Hanya dua kemungkinan yang penulis lihat bisa menjatuhkan posisi ekonomi atau US Dollar. Yang pertama adalah kesalahan fatal yang dilakukan oleh Amerika sendiri dengan melakukan mis-management of debt atau malah default. Yang kedua adalah berhasilnya negara-negara adidaya meluncurkan platform digital currency dalam framework yang disetujui oleh banyak negara. Kedua kemungkinan ini sangat dapat terjadi, tapi masih sangat kecil probabilitasnya.

Dedolarisasi secara realistis akan melalui proses yang sangat panjang, mungkin puluhan tahun ke depan. Investor, pebisnis, dan pemerintah Indonesia harus pandai beradaptasi. Jika Pemerintah Indonesia konsisten dalam melakukan hal-hal yang selama ini sudah dijalankan seperti hilirisasi, infrastruktur, DHE, perluasan pajak dan peningkatan governance, peluang Indonesia dalam merebut posisi ekonomi 5 besar di dunia dalam 20 tahun ke depan cukup tinggi. Investor asing akan tambah tertarik untuk berinvestasi di Indonesia. Pebisnis dan investor lokalpun akan diuntungkan dengan semakin majunya pasar saham dan obligasi di negara kita.

Oleh: Anthony Dirga, CFA
Penulis adalah CEO Trimegah Asset Management

* * *

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Artikel sepenuhnya adalah pemikiran penulis. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.


Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Capital Fixed Income Fund

1.775,04

Up0,58%
Up3,36%
Up0,03%
Up6,77%
Up17,29%
Up44,99%

Trimegah Dana Tetap Syariah

1.325,82

Up0,87%
Up4,24%
Up0,03%
Up5,87%
Up18,86%
-

STAR Stable Income Fund

1.925,53

Up0,51%
Up2,96%
Up0,02%
Up6,04%
Up29,37%
Up64,92%

I-Hajj Syariah Fund

4.821,21

Up0,54%
Up3,05%
Up0,02%
Up6,18%
Up21,87%
Up40,51%

Reksa Dana Syariah Syailendra OVO Bareksa Tunai Likuid

1.140,22

Up0,55%
Up2,80%
Up0,02%
Up4,95%
--

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua