Bareksa Insight : Pasar Tunggu Notulen Rapat The Fed, ST009 dan Reksadana Ini Bisa Dipilih

Abdul Malik • 22 Nov 2022

an image
Ilustrasi investasi di SBN Ritel dan reksadana yang berwawasan pelestarian lingkungan, seperti Green Sukuk Ritel ST009 dan reksadana ESG. (Shutterstock)

Notulen rapat The Fed akan mengindikasikan seberapa besar kenaikan suku bunga acuan pada Desember

Bareksa.com - Pasar saham dan obligasi Tanah Air hari ini (22/11/2022) diperkirakan masih akan cenderung mendatar, karena pelaku pasar menanti hasil rapat Bank Sentral Amerika Serikat (AS) dalam Federal Open Market Committee (FOMC) Minutes. Notulen rapat Federal Reserve (The Fed) tersebut akan mengindikasikan seberapa besar kenaikan suku bunga acuan pada Desember. 

Tim Analis Bareksa menilai saat ini proyeksi kenaikan suku bunga acuan AS masih berada di kisaran 50-75 basis poin (bps) atau 0,5-075% untuk menurunkan angka inflasi yang tinggi. The Fed pada rapat dewan gubernur (2/11/2022) lalu, kembali menaikkan suku bunga acuan (Fed Rate) 0,75% dari sebelumnya 3-3,25% jadi 3,75-4%.

Senada, kinerja mayoritas reksadana pendapatan tetap juga masih bergerak mendatar dengan pelemahan tipis pada yield (imbal hasil), acuan obligasi ke level 7,07%. Proyeksi masih berlanjutnya kenaikan suku bunga AS yang masih berlanjut turut mempengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah, meskipun Bank Indonesia sudah menaikkan suku bunga acuan dalam negeri ke level 5,25%. 

Jika bulan depan kenaikan Fed Rate naik sesuai perkiraan pasar, atau bahkan lebih rendah, maka bisa menjadi sentimen positif bagi pasar saham maupun obligasi.

Pasar saham Tanah Air yang tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin (21/11/2022) turun 0,27% ke level 7.063,25. Berdasarkan data id.investing.com (diakses 21/11/2022 pukul 17.00 WIB) benchmark obligasi pemerintah tercatat tetap di level 7,1%.

Apa yang bisa dilakukan Smart Investor?

Mempertimbangkan pelaku pasar saat ini yang masih menantikan hasil rapat The Fed, Tim Analis Bareksa menyarankan Smart Investor menerapkan 3 jurus ini agar kinerja investasinya maksimal

1. Smart Investor dapat mempertimbangkan untuk diversifikasi investasi di Surat Berharga Negara (SBN) Ritel yang saat ini masih ditawarkan, yakni Green Sukuk Ritel - Sukuk Tabungan (ST) seri ST009 dengan imbal hasil menarik 6,15% per tahun.

2. Melihat pasar saham dan obligasi yang masih cenderung mendatar, ST009 bisa menjadi pilihan investasi menarik, karena imbal hasilnya bersifat mengambang dengan batas minimal (floating with floor). Imbal hasil (kupon) ST009 berpotensi naik, jika suku bunga acuan BI naik, namun tidak bisa turun lebih rendah dari batas minimal 6,15%.

3. Jika hasil FOMC Minutes tidak sesuai perkiraan dan mendorong penurunan di pasar saham, maka Smart Investor dapat memanfaatkan penurunan IHSG untuk akumulasi investasi secara bertahap di reksadana berbasis saham untuk tujuan investasi jangka pendek.

Beberapa produk reksadana pendapatan tetap, reksadana pasar uang, reksadana saham dan reksadana indeks yang bisa dipertimbangkan Smart Investor dengan profil risiko moderat, konservatif dan agresif ialah sebagai berikut : 

Imbal Hasil 3 Tahun (per 21 November 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Syailendra Pendapatan Tetap Premium : 29,77%
Eastspring Syariah Fixed Income Amanah Kelas A : 17,37%

Reksadana Pasar Uang

Capital Money Market Fund : 16,68%
Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia : 12,48%

Imbal Hasil Sepanjang Tahun Berjalan (YTD per 21 November 2022)

Reksadana Indeks

BNP Paribas Sri Kehati : 16,01%
Allianz SRI KEHATI Index Fund : 16,1%

Reksadana Saham

Sucorinvest Equity Fund : 14,29%
Batavia Dana Saham Syariah : 8,28%

Baca juga : Bareksa Insight : Imbal Hasil Green Sukuk Ritel ST009 Berpotensi Naik Hingga Tahun Depan

Untuk diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka. 

Lihat juga : Bareksa Insight : Suku Bunga BI Bisa Naik Jadi 4,5%, Ini Jurus Cuan Buat Investor Reksadana

Investasi Sekarang

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.

PT Bareksa Portal Investasi atau Bareksa.com adalah platform e-investasi terintegrasi pertama di Indonesia, yang ditunjuk menjadi mitra distribusi (midis) resmi Kementerian Keuangan untuk penjualan Surat Berharga Negara (SBN) Ritel atau SBN Ritel secara online. Selain proses registrasi dan transaksi sangat cepat dan mudah, Anda juga dapat memantau investasi Anda dari mana saja dan kapan saja.

Bareksa telah mendapatkan penghargaan sebagai midis SBN terbaik selama tiga tahun berturut-turut dari Kementerian Keuangan RI. Penghargaan terbaru yang diterima adalah  penghargaan sebagai Midis SUN dengan  Kinerja Terbaik 2020 dan Midis SBSN dengan Kinerja Terbaik Kategori Fintech 2021. 

Belum memiliki akun Bareksa tetapi ingin berinvestasi di SBN Ritel? Segera daftar melalui aplikasi Bareksa sekarang, gratis hanya dengan menyiapkan KTP dan NPWP (opsional).

Bagi yang sudah punya akun Bareksa untuk reksadana, lengkapi data berupa rekening bank untuk mulai membeli SBN Ritel di Bareksa. Bagi yang sudah pernah membeli SBR, ORI atau Sukuk di Bareksa sebelumnya, registrasi ulang akun di Bareksa untuk memesan SBN Ritel seri berikutnya.