Harga Emas Mulai Stabil, Ini Strategi Investasi Cari Cuan

Emas dan Sukuk Ritel SR016 jadi alternatif safe haven saat kondisi global tidak pasti
Hanum Kusuma Dewi • 16 Mar 2022
cover

Ilustrasi investasi emas logam mulia dalam portofolio investor di atas kertas yang menggambarkan grafik kinerja investasi saham reksadana obligasi. (shutterstock)

Bareksa.com -Harga emas dunia mulai stabil, seiring dengan penurunan signifikan dari harga minyak global. Investor dapat mempertimbangkan investasi di safe haven (aset aman) dan strategi reksadana di tengah kondisi global yang masih tidak pasti. 

Sepanjang pekan lalu, harga minyak dunia turun, bahkan sempat anjlok signifikan 12 persen dalam sehari setelah Amerika Serikat menyatakan untuk menaikkan volume produksinya dan meminta anggota Negara OPEC juga ikut menaikkan produksi agar harga minyak dunia kembali relatif stabil.

Harga komoditas global, termasuk minyak mentah, sempat melonjak setelah pecahnya konflik antara Rusia dan Ukraina. Sebab, Rusia sendiri menyumbang 10 persen dari total persediaan minyak dunia dan masuk ke dalam tiga besar negara penghasil minyak terbesar di dunia setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi. 

Merespon terhadap peningkatan drastis harga minyak global, International Energy Agency minggu lalu juga melepas cadangan minyak sebesar 60 juta barrel. Secara historis, pelepasan cadangan minyak dunia membantu pergerakan harga minyak lebih stabil terutama setelah kejadian krisis. 

Pergerakan Harga Minyak Setelah Pelepasan Cadangan Global

Waktu Pelepasan

Pergerakan Harga Minyak Setelah Pelepasan Cadangan

1 Mgg

2 Mgg

3 Mgg

1 Bln

2 Bln

3 Bln

6 Bln

1 Thn

16 Jan-91

-31.1%

-34.5%

-32.8%

-34.8%

-37.5%

-32.4%

-32.3%

-40.9%

2 Sept-05

-5.2%

-6.8%

-5.0%

-2.0%

-11.6%

-12.2%

-6.2%

2.4%

23 Jun-11

4.8%

8.4%

5.1%

9.7%

-6.1%

-12.3%

9.5%

-12.4%

Sumber: Research Team Bareksa, Dow Jones Market Data

Baca juga Bareksa Insight : Harga Minyak Turun di Bawah US$100 per Barel, Berkah Buat Reksadana Ini

Harga emas dunia juga ikut terkoreksi akibat penurunan tajam dari harga minyak dunia. Namun di lain sisi, hal tersebut bisa menjadi peluang bagi investor untuk investasi emas pada harga yang relatif lebih rendah dibandingkan sebelumnya. 

Tim Analis Bareksa melihat harga emas domestik akan bertahan di level Rp 910-940 ribu/gramnya.

Saat ini, logam mulia emas menjadi safe haven (aset aman) di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Makanya, bank-bank sentral di dunia saat ini juga masih melanjutkan pembelian emas untuk mendiversifikasi cadangan devisa mereka. 

Langkah bank sentral membeli emas dilakukan di tengah kekhawatiran krisis dan inflasi global yang diproyeksikan akan berada di level tinggi akibat fluktuasi harga minyak. Pada kawasan Eropa, saat ini inflasi berada di level 5,8 persen per Februari 2022.

Menariknya, Bank Sentral Rusia masih menjadi pembeli terbesar emas hingga bulan Februari di tengah sanksi internasional yang diberikan kepada negara yang sedang berkonflik tersebut.

Grafik Pembelian Bersih Emas dari Bank-Bank Sentral di Dunia 

Sumber: World Gold Council, IMF, Refinitiv GMS 

Strategi Investasi 

Selain investasi di logam mulia Emas, investor juga dapat mempertimbangkan investasi yang aman di Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Ritel seri SR016 yang masih ditawarkan hingga 17 Maret 2022. Jangan lewatkan kesempatan untuk mendapatkan penghasilan pasif (passive income) setiap bulannya melalui pembayaran kupon.

Seperti diketahui, kupon SR016 adalah sekitar 4,46 persen per tahun (net, sudah dipotong pajak 10 persen). Tentu ini masih lebih menarik dibandingkan rata-rata deposito perbankan bank besar, yang hanya sekitar 2,35 persen. Sebagai catatan, rata-rata suku bunga deposito yang digunakan adalah deposito tenor 1 tahun di Bank Mandiri, BRI, BNI dan BCA per 9 Maret 2022.

Baca juga Masa Penawaran SR016 Tersisa 1 Hari, Segera Beli Sebelum Tutup

Strategi Investor Reksadana

Selain berinvestasi di beberapa safe haven tersebut, berikut strategi investasi reksadana saat ini yang bisa diterapkan investor:

  • Investor dengan profil risiko agresif dapat pertimbangkan untuk akumulasi kembali di reksa dana saham jika IHSG dapat turun di kisaran level 6,700-6.800.
  • Sementara itu, investor profil risiko moderat dapat terus melakukan akumulasi secara bertahap di reksadana pendapatan tetap ketika imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Indonesia berada pada level 6,7-6,8 persen. Saat ini imbal hasil berada di level 6,7 persen (per 10 Maret 2022).
  • Lalu untuk investor konservatif dapat melakukan investasi dengan alokasi yang lebih besar di reksadana pasar uang dan porsi yang lebih rendah di reksadana pendapatan tetap.

Perlu diingat kembali, investasi mengandung risiko, sehingga investor juga perlu membekali diri mengenai peluang keuntungan maupun risiko yang ada di pasar keuangan.

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/hm)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.