Bareksa Insight : Krisis Ukraina Buat Pasar Makin Fluktuatif, Investor Bisa Diversikasi ke ORI021

Investor juga dapat melakukan akumulasi di reksadana pasar uang hingga ketidakpastian tensi global dan isu kenaikan suku bunga The Fed mereda
Abdul Malik • 15 Feb 2022
cover

Tentara Nasional Ukraina sedang bersiap disamping mobil tank. Krisis Ukraina yang kian memanas dan melibatkan Rusia dan Amerika Serikat mengakibatkan pasar keuangan bergejolak dan berdampak pada pasar saham (IHSG), reksadana, SBN dan emas. (Shutterstock)

Bareksa.com - Meski masa penawaran hanya tinggal 2 hari, namun pemerintah masih menaikkan target penerbitan Obligasi Negara Ritel (ORI) ORI021 hingga jadi Rp 25 triliun per 14 Feb 2022, dari sebelumnya Rp22,5 triliun. 

Menurut analisis Bareksa, kenaikan target secara bertahap tersebut karena mempertimbangkan minat masyarakat yang masih cukup tinggi, serta sebagai strategi pembiayaan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara(APBN) pada 2022. 

Hingga Selasa pagi (15/2/2022), nilai pemesanan ORI021 telah menembus Rp22,5 triliun. Sehingga kuota pemesanan hanya tersisa sekitar Rp2,5 triliun dari target Rp25 triliun. 

Selain itu, optimisme investor terhadap pertumbuhan ekonomi tahun ini juga mendorong kenaikan kinerja sejumlah reksadana pendapatan tetap. Berdasarkan data id.investing.com (diakses 14/02/2022 pukul 17.00 WIB) benchmark obligasi pemerintah tercatat di level 6,6 persen pada 14 Februari 2022.

Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin turun cukup signifikan karena meningkatnya ketegangan geopolitik di Ukraina. Bahkan, Amerika Serikat telah menutup kedutaan besarnya di negara kawasan Eropa Timur tersebut. 

Hal ini turut menekan kinerja bursa saham global, termasuk Bursa Efek Indonesia yang tercermin dari kinerja IHSG, serta mengakibatkan pelemahan kinerja mayoritas reksadana saham dan reksadana indeks. 

Apalagi, salah satu pejabat Bank Sentral AS (The Fed) tadi malam juga mengatakan akan menaikan tingkat suku bunga acuannya lebih cepat dan agresif. IHSG pada 14 Februari 2022 turun 1,19 persen ke level 6.734,49. 

Baca : Kerahkan Sinergi Ekosistem, Grab-OVO Ikut Mendukung Perluasan Distribusi SBN Melalui Bareksa​

Apa yang bisa dilakukan Investor?

Menurut analisis Bareksa, mempertimbangkan sejumlah risiko tersebut, pasar keuangan Indonesia, terutama pasar saham diproyeksikan masih akan mengalami pelemahan hari ini.

Karena itu, investor dapat melakukan akumulasi di reksadana pasar uang hingga ketidakpastian tensi global dan isu kenaikan suku bunga The Fed dapat mereda. 

Selain itu, investor juga dapat melakukan diversifikasi investasi di ORI021 yang dijamin aman.

Baca : Bareksa Raih Pendanaan Seri C dari Grab, Kukuhkan Sinergi Grab - Bareksa - OVO

Beberapa produk reksadana pendapatan tetap, reksadana saham dan reksadana indeks yang mencatatkan kinerja cemerlang dan bisa dipertimbangkan oleh investor dengan profil risiko moderat dan agresif adalah sebagai berikut : 

Imbal Hasil 3 Tahun (14 Februari 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Sucorinvest Bond Fund : 39,34 persen
TRIM Dana Tetap 2 : 21,99 persen

Imbal Hasil 6 Bulan (per 14 Februari 2022)

Reksadana Saham

BNI-AM Inspiring Equity Fund : 10,27 persen
Eastspring Investments Alpha Navigator Kelas A : 6,36 persen

Reksadana Indeks

Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund : 17,88 persen
Principal Index IDX30 Kelas O : 12,94 persen

Baca : Kolaborasi PT Pegadaian - Bareksa, Hadirkan Tabungan Emas Online untuk Investasi Terintegrasi

Investasi Sekarang

​(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo SucahyoAM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER​

Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.