BeritaArrow iconBareksa InsightArrow iconArtikel

Dolar Tembus Rp18.000 dan IHSG Anjlok, Investor Sebaiknya Bagaimana?

Abdul Malik05 Juni 2026
Tags:
Dolar Tembus Rp18.000 dan IHSG Anjlok, Investor Sebaiknya Bagaimana?
Karyawan menunjukkan tumpukan uang rupiah dan dolar AS di sebuah bank di Jakarta. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)

Dolar AS menembus Rp18.000 dan IHSG turun lebih dari 30% pada 2026. Simak dampaknya bagi investor serta strategi diversifikasi melalui reksa dana USD, RD pasar uang, dan emas.

Bareksa - Nilai tukar rupiah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi lebih dari 30% sejak awal tahun hingga 4 Juni 2026. Tekanan pasar dipicu kombinasi faktor global berupa inflasi yang masih tinggi, suku bunga yang berpotensi bertahan tinggi lebih lama (higher for longer), serta penguatan dolar AS yang kembali menarik arus modal global ke aset berbasis USD.

Kondisi tersebut membuat investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko. Rupiah tercatat melemah sekitar 8,6% secara year to date (YTD) hingga menembus Rp18.000 per dolar AS, sedangkan IHSG turun sekitar 33% ke level 5.839. Di sisi lain, yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) tenor 10 tahun masih bertahan di level tinggi sehingga meningkatkan daya tarik aset dolar dibanding pasar negara berkembang.

Meski tekanan terlihat pada pasar saham dan nilai tukar, pasar obligasi domestik relatif lebih stabil. Yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun bergerak di kisaran 6,7%-6,8%. Stabilitas yield SUN mengindikasikan bahwa sebagian besar tekanan eksternal saat ini lebih banyak tercermin pada pelemahan rupiah dan penurunan harga saham dibanding lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia.

Promo Terbaru di Bareksa

Utamakan Diversifikasi

Dalam kondisi volatilitas tinggi, investor umumnya lebih mengutamakan diversifikasi dibanding menempatkan seluruh dana pada satu jenis aset. Diversifikasi dapat dilakukan melalui kombinasi reksadana dolar AS untuk eksposur mata uang, reksadana pasar uang untuk menjaga likuiditas dan stabilitas portofolio, serta emas sebagai instrumen lindung nilai jangka panjang terhadap ketidakpastian pasar global.

Prospek emas juga masih mendapat dukungan dari sejumlah lembaga keuangan global. UBS dan Goldman Sachs memproyeksikan harga emas berpotensi mencapai US$5.400-US$5.500 per ons pada akhir 2026. Dengan asumsi kurs rupiah yang tetap tinggi, kenaikan harga emas global berpotensi memberikan dukungan tambahan bagi harga emas dalam negeri, meski investor tetap perlu memperhatikan risiko fluktuasi pasar dan perubahan kebijakan moneter global.

Bagi investor ritel, fokus utama saat ini bukan mengejar keuntungan jangka pendek, melainkan menjaga kualitas portofolio agar tetap sesuai profil risiko dan tujuan investasi. Disiplin diversifikasi, menjaga likuiditas, serta menghindari keputusan emosional saat pasar bergejolak menjadi langkah yang lebih penting dibanding mencoba menebak titik terendah maupun tertinggi pasar.

Ringkasan Data Utama

Indikator
Nilai
Perubahan YTD

USD/IDR

Rp18.000/USD

-8,6%

IHSG

5.839

-33%

US Treasury 10 Tahun

Tinggi

Menekan aset berisiko

Yield SUN 10 Tahun

6,7% - 6,8%

Relatif stabil

Sumber: Investing.com, IBPA, Bareksa, per 4 Juni 2026.

Produk yang Dapat Dicermati Investor

Reksadana USD

Produk
Kinerja

STAR Fixed Income Dollar

4,16% (1 tahun)

STAR Fixed Income NEO AI Dollar

1,17% (1 bulan)

Mandiri Money Market USD

2,74% (1 tahun)

Sumber: Bareksa, kinerja per 3 Juni 2026

Reksadana Pasar Uang

Produk
Return 1 Tahun​

Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia

4,78%

KIM Money Market Fund

4,96%

Insight Money Syariah

5,59%

Sumber: Bareksa, kinerja per 3 Juni 2026

Emas Fisik Digital

Produk
Harga

Treasury

Rp2.578.820/gram

Pegadaian

Rp2.669.000/gram

Indogold

Rp2.614.572/gram

Harga Spot Global

US$4.491,24/oz

Sumber: Bareksa dan Investing.com per 4 Juni 2026.

Catatan Penting untuk Investor

  • Jangan panik terhadap pergerakan pasar harian.

  • Dolar yang menguat tidak otomatis berarti seluruh aset harus dijual.

  • Diversifikasi menjadi semakin penting saat volatilitas meningkat.

  • Sesuaikan alokasi investasi dengan profil risiko.

  • Reksa dana USD, reksa dana pasar uang, dan emas dapat menjadi opsi defensif untuk dipertimbangkan.

Kesimpulan

Tekanan global akibat inflasi yang tinggi, suku bunga yang bertahan tinggi, dan penguatan dolar AS telah berdampak pada pelemahan rupiah dan koreksi IHSG. Dalam situasi seperti ini, strategi yang lebih relevan bagi investor adalah memperkuat diversifikasi portofolio dan fokus pada tujuan investasi jangka panjang dibanding bereaksi terhadap volatilitas jangka pendek.

FAQ

1. Apakah pelemahan rupiah selalu berdampak negatif bagi investor?
Tidak selalu. Investor yang memiliki aset berbasis dolar AS atau instrumen yang diuntungkan oleh penguatan dolar dapat memperoleh manfaat dari kondisi tersebut.

2. Mengapa reksa dana pasar uang sering dilirik saat volatilitas tinggi?
Karena instrumennya berisi deposito dan pasar uang dengan risiko relatif lebih rendah dibanding saham.

3. Apakah emas selalu naik saat dolar menguat?
Tidak selalu. Namun emas sering digunakan sebagai aset lindung nilai saat terjadi ketidakpastian ekonomi dan pasar keuangan.

4. Apakah saat IHSG turun investor sebaiknya langsung membeli saham?
Keputusan investasi sebaiknya mempertimbangkan valuasi, kondisi fundamental, profil risiko, dan tujuan investasi masing-masing investor.

5. Apa arti istilah "higher for longer"?
Istilah ini menggambarkan kondisi ketika suku bunga diperkirakan bertahan di level tinggi dalam periode yang lebih lama dari perkiraan pasar sebelumnya.

Investasi di Aplikasi Reksadana Terbaik - Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.

Beli Reksadana di Sini

(Sigma Kinasih CTA, CFP/AM)

Tentang Penulis

* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.

*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

***

DISCLAIMER

Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

autodebet

1.210,41

Down- 0,02%
Up0,86%
Up0,33%
Up6,46%
Up18,94%
Up13,07%

Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A

1.168,88

Down- 0,05%
Up1,56%
Up1,18%
Up6,30%
--

STAR Stable Amanah Sukuk

autodebet

1.204,49

Up0,28%
Up2,05%
Up1,66%
Up7,15%
--

Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A

1.023,9

Down- 2,06%
Down- 0,90%
Down- 2,26%
---

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua