Berita / SBN / Artikel

Asing Kembali Masuk SBN, ULN per Oktober Tumbuh Melambat Jadi US$413,4 Miliar

Perlambatan pertumbuhan ini dipengaruhi pembayaran pinjaman luar negeri pemerintah di tengah kembalinya aliran masuk modal asing di SBN
Abdul Malik • 15 Dec 2020
cover

Petugas menghitung tumpukkan uang di Cash Center Bank Mandiri, Jakarta, Rabu (17/1). Bank Indonesia menyatakan perkembangan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir Oktober 2020 tercatat US$413,4 miliar. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Bareksa.com - Bank Indonesia mengumumkan posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada akhir Oktober 2020 tercatat US$413,4 miliar, terdiri dari ULN sektor publik (pemerintah dan bank sentral) US$202,6 miliar dan ULN sektor swasta (termasuk BUMN) US$210,8 miliar.

"Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ULN Indonesia pada akhir Oktober 2020 tercatat 3,3 persen (YoY), atau tumbuh melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya yang sebear 3,8 persen (YoY), terutama dipengaruhi oleh perlambatan ULN pemerintah," ungkap Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Erwin Haryono dalam keterangannya (15/12/2020).

ULN Pemerintah

Menurut Erwin, pada Oktober 2020, ULN pemerintah tercatat US$199,8 miliar atau tumbuh 0,3 persen (YoY), atau melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan September yang sebesar 1,6 persen (YoY). Perlambatan pertumbuhan ini dipengaruhi oleh pembayaran pinjaman luar negeri pemerintah di tengah kembalinya aliran masuk modal asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN), seiring dengan ketidakpastian pasar keuangan global yang menurun dan persepsi positif investor terhadap prospek perbaikan perekonomian domestik.

"ULN pemerintah tetap dikelola secara hati-hati, kredibel, dan akuntabel untuk mendukung belanja prioritas termasuk untuk menangani pandemi Covid-19 dan pelaksanaan Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), yang di antaranya mencakup sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (23,8 persen dari total ULN pemerintah), sektor konstruksi (16,6 persen), sektor jasa pendidikan (16,5 persen), sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (11,8 persen), serta sektor jasa keuangan dan asuransi (11,4 persen)," ujar Erwin.

ULN Swasta

Erwin menyatakan pertumbuhan ULN swasta pada akhir Oktober 2020 tercatat 6,4 persen (YoY), sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya 6,1 persen (YoY). Perkembangan ini didorong oleh meningkatnya pertumbuhan ULN lembaga keuangan (LK) 0,1 persen (yoy), setelah mencatat kontraksi 0,9 persen (YoY) pada bulan sebelumnya. Sementara itu, pertumbuhan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan (PBLK) relatif stabil 8,3 persen (YoY).

Berdasarkan sektornya, ULN terbesar dengan pangsa mencapai 77,4 persen dari total ULN swasta bersumber dari sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara dingin (LGA), sektor pertambangan dan penggalian, serta sektor industri pengolahan.

Rasio ULN terhadap PDB

Erwin menjelaskan rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir Oktober 2020 sebesar 38,8 persen, meningkat dibandingkan dengan rasio pada bulan sebelumnya 38,1 persen. Sementara itu, struktur ULN Indonesia yang tetap sehat tercermin dari besarnya pangsa ULN berjangka panjang yang mencapai 89,1 persen dari total ULN.

"Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, BI dan pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangan ULN, didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Peran ULN juga akan terus dioptimalkan dalam menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pemulihan ekonomi nasional, dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian," dia menambahkan.

***

Ingin berinvestasi sekaligus bantu negara?

Dengan berinvestasi di SBN Ritel kita tidak hanya mendapatkan imbal hasil namun juga membantu pembiayaan APBN untuk pembangunan negara. Tunggu penerbitan SBN Ritel berikutnya di Bareksa. Belum memiliki akun Bareksa tetapi ingin berinvestasi di SBN? Segera daftar melalui aplikasi Bareksa sekarang, gratis hanya dengan menyiapkan KTP dan NPWP (opsional).

Bagi yang sudah punya akun Bareksa untuk reksadana, lengkapi data berupa rekening bank untuk mulai membeli SBN di Bareksa. Bagi yang sudah pernah membeli SBR, ORI atau Sukuk di Bareksa sebelumnya, Anda bisa menggunakan akun di Bareksa untuk memesan ST007.

PT Bareksa Portal Investasi atau bareksa.com adalah mitra distribusi resmi Kementerian Keuangan untuk penjualan Surat Berharga Negara (SBN) ritel secara online. Selain proses registrasi dan transaksi sangat cepat dan mudah, Anda juga dapat memantau investasi Anda dari mana saja dan kapan saja.