Berita / SBN / Artikel

Tren Suku Bunga AS Cenderung Naik Hingga 2020, Ini Strategi Bagi Investor ORI015

Berinvestasi hingga jatuh tempo lebih disarankan di tengah estimasi suku bunga yang cenderung naik
Bareksa • 08 Oct 2018
cover

Ilustrasi investasi online di reksa dana, obligasi, saham. (123rf.com)

Bareksa.com - Pemerintah resmi menetapkan kupon untuk obligasi negara ritel (ORI) seri ORI015 di level 8,25 persen per tahun. Berdasarkan keterangan Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, ORI015 mulai ditawarkan kepada investor ritel pada tanggal 4 - 25 Oktober 2018.

Selain ditawarkan di pasar primer, instrumen ini nantinya dapat diperdagangkan di pasar sekunder namun hanya investor lokal saja yang dapat memilikinya. Penerbitan Surat Utang Negara (SUN) yang bisa dipesan mulai Rp1 juta ini salah satunya untuk pemenuhan pembiayaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).  

(Baca Juga : ORI015 dengan Kupon 8,25 Persen Resmi Ditawarkan, Catat Hal Penting Ini)

Apakah Kupon ORI015 Tergolong Menarik Saat Ini?

Mengutip IBPA, per 3 Oktober 2018, government bond yield sebesar 7,8 persen atau masih lebih rendah dibandingkan dengan kupon ORI015 yang ditawarkan pemerintah yakni sebesar 8,25 persen.

Artinya penawaran kupon ORI015 masih lebih baik dibanding yield obligasi pemerintah dengan tenor yang sama yaitu 3 tahun. (Baca Juga : Bisa Dibeli Mulai Rp1 Juta, Apakah Penawaran Kupon ORI015 Menarik?)

Perlu diingat, ORI015 mempunyai risiko gagal bayar yang sangat rendah dan bahkan bisa dibilang tidak ada. Sebab, baik pembayaran kupon dan utang pokok akan dibayar dan dijamin oleh negara.

Investor bisa memilih untuk menahan kepemilikan obligasinya hingga jatuh tempo dan mengandalkan keuntungan dari pembayaran kupon setiap bulan yang dibagikan setiap tanggal 15. Apalagi, kupon ORI015 mencapai 8,25 persen dan bersifat tetap alias fixed rate.

Selain Kupon, Investor Bisa Dapatkan Capital Gain

Di sisi lain, investor ritel juga bisa melepas kepemilikan ORI di pasar sekunder. Dengan cara ini, investor berpeluang memperoleh capital gain, asalkan harga jual ORI lebih tinggi atau di atas nilai par yakni 100.

Hanya saja, secara historis, investor ritel lebih memilih untuk menahan kepemilikannya hingga jatuh tempo daripada menjualnya di pasar sekunder. Sebab, investor kerap membandingkan instrumen seperti ORI dengan deposito.

The Fed Diperkirakan Naikkan Suku Bunga AS Hingga 2020

Selain itu, penjualan obligasi ritel di pasar sekunder membutuhkan momentum yang tepat. Investor ritel justru berpotensi rugi bila harga obligasi dalam tren turun. Investor harus ingat, masih ada potensi tren kenaikan suku bunga AS hingga 2020, seiring normalisasi kebijakan The Federal Reserve.

Artinya, secara teori semakin tinggi suku bunga akan membuat harga obligasi secara umum bergerak turun atau melemah.

Namun karena dijamin negara, ada baiknya investor untuk berinvestasi pada ORI hingga jatuh tempo yakni hingga 2021. Agar ketika jatuh tempo tetap dibayar sesuai utang pokok atau dibayar at par.

(AM)