TLKM Raup Pendapatan Rp37,2 Triliun di Kuartal I 2026, Bisnis Infrastruktur Tumbuh 6,8%

Abdul Malik • 02 Jun 2026

an image
Gedung kantor PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM). (Dok. Perusahaan)

TLKM membukukan pendapatan Rp37,2 triliun pada Kuartal I 2026. Pertumbuhan bisnis B2C dan infrastruktur menjadi penopang transformasi Telkom.

Bareksa - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) membukukan kinerja positif pada Kuartal I 2026 dengan pendapatan konsolidasi mencapai Rp37,2 triliun atau tumbuh 1,5% secara tahunan (YoY). Kinerja ini penting dicermati investor karena menunjukkan efektivitas strategi transformasi TLKM 30 di tengah ketidakpastian ekonomi. 

Berdasarkan siaran pers perseroan pada 29 Mei 2026, selain pertumbuhan pendapatan, TLKM mencatat EBITDA  Rp18 triliun dengan margin EBITDA 48,3%. Laba bersih tercatat Rp4,3 triliun, sedangkan laba bersih yang dinormalisasi mencapai Rp5,1 triliun dengan margin 13,8%.

Arus kas operasional meningkat 3,1% YoY menjadi Rp17,3 triliun. Perseroan menyebut peningkatan tersebut didorong efisiensi biaya melalui program TOTEX dan disiplin penagihan yang semakin baik. TLKM merupakan BUMN telekomunikasi dan digital terbesar di Indonesia.

Segmen B2C dan Infrastruktur Jadi Penopang

Segmen B2C melalui Telkomsel membukukan pendapatan Rp27,6 triliun atau tumbuh 1,3% YoY. Mobile ARPU naik 6,4% YoY menjadi Rp45.100, mencerminkan perbaikan kualitas pelanggan dan strategi disiplin harga yang dijalankan perseroan.

Pada segmen B2B Infrastructure, pendapatan mencapai Rp2,4 triliun atau tumbuh 6,8% YoY. Pertumbuhan terutama ditopang ekspansi bisnis Fiber-to-the-Tower (FTTT) dan peningkatan utilisasi infrastruktur digital.

Anak usaha menara telekomunikasi, Mitratel, mencatat pendapatan Rp2,3 triliun dengan EBITDA margin tetap tinggi di level 82,7%. Mitratel juga menambah jaringan fiber optik sepanjang 1.080 km sehingga total kepemilikan mencapai 58.279 km.

Fokus Transformasi dan Monetisasi Aset

Realisasi belanja modal TLKM mencapai Rp4,9 triliun atau setara 13,2% dari pendapatan. Sebanyak 99% dana tersebut dialokasikan untuk pengembangan infrastruktur pada segmen B2C, B2B Infrastructure, dan bisnis internasional.

Perseroan juga melanjutkan berbagai inisiatif transformasi, termasuk divestasi AdMedika Group yang ditargetkan selesai pada semester I 2026. Selain itu, pemisahan bisnis wholesale fiber tahap kedua ke InfraNexia ditargetkan rampung pada kuartal III 2026 untuk meningkatkan monetisasi aset dan efisiensi operasional.

Manajemen menilai transformasi TLKM 30 akan memperkuat keseimbangan kontribusi bisnis B2C dan B2B. Langkah tersebut juga berpotensi meningkatkan pendapatan eksternal dari bisnis infrastruktur digital yang menjadi salah satu fokus pertumbuhan perseroan.

Ringkasan Kinerja TLKM Kuartal I 2026

Indikator
Kuartal I 2026

Pendapatan Konsolidasi

Rp37,2 triliun

EBITDA

Rp18,0 triliun

Margin EBITDA

48,3%

Laba Bersih

Rp4,3 triliun

Laba Bersih Normalisasi

Rp5,1 triliun

Arus Kas Operasional

Rp17,3 triliun

Belanja Modal

Rp4,9 triliun

Capex terhadap Pendapatan

13,2%

Sumber: TLKM, diolah

Kinerja Segmen Utama

Segmen
PendapatanPertumbuhan

B2C (Telkomsel)

Rp27,6 triliun

1,3%

B2B Infrastructure

Rp2,4 triliun

6,8%

B2B ICT

Rp3,1 triliun

Dalam restrukturisasi

Wholesale & International

Rp2,8 triliun

Interkoneksi 18,9% QoQ

Sumber: TLKM, diolah

Catatan Penting untuk Investor

  • Pendapatan dan arus kas operasional masih tumbuh positif.

  • Mobile ARPU meningkat menjadi Rp45.100.

  • Bisnis infrastruktur menjadi sumber pertumbuhan utama.

  • Margin EBITDA tetap terjaga di atas 48%.

  • Monetisasi aset melalui InfraNexia dan divestasi AdMedika terus berjalan.

  • Permintaan data center dan layanan digital masih menunjukkan tren pertumbuhan.

Kesimpulan

Kinerja TLKM pada Kuartal I 2026 menunjukkan fundamental operasional yang tetap solid meski laba bersih tertekan faktor non-cash dan proses normalisasi bisnis. Pertumbuhan pendapatan, arus kas operasional, serta peningkatan ARPU menjadi indikator yang mencerminkan efektivitas transformasi yang sedang dijalankan.

Ke depan, investor dapat mencermati perkembangan monetisasi aset, ekspansi bisnis infrastruktur digital, data center, serta realisasi strategi TLKM 30 yang berpotensi menjadi pendorong pertumbuhan jangka panjang perseroan.

FAQ

1. Berapa pendapatan TLKM pada Kuartal I 2026?
Rp37,2 triliun, tumbuh 1,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

2. Berapa laba bersih TLKM pada Kuartal I 2026?
Rp4,3 triliun dengan laba bersih normalisasi Rp5,1 triliun.

3. Apa yang mendorong pertumbuhan TLKM?
Pertumbuhan bisnis B2C Telkomsel dan segmen B2B Infrastructure.

4. Berapa ARPU Telkomsel saat ini?
Rp45.100 atau meningkat 6,4% YoY.

5. Apa fokus utama transformasi TLKM pada 2026?
Monetisasi aset, penguatan bisnis infrastruktur digital, data center, dan peningkatan kontribusi bisnis B2B.

Investasi di Aplikasi Trading Saham Online – Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.

Beli Saham di Sini

Tentang Penulis

*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

***

DISCLAIMER​​​​​​​​​

Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.