ICBP Catat Penjualan Rp21,72 Triliun di Kuartal I 2026, Laba Bersih Terkoreksi 3%
ICBP membukukan penjualan Rp21,72 triliun pada Q1 2026, naik 8%, dengan laba bersih turun 3% akibat tekanan selisih kurs.

ICBP membukukan penjualan Rp21,72 triliun pada Q1 2026, naik 8%, dengan laba bersih turun 3% akibat tekanan selisih kurs.
Bareksa - PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) melaporkan kinerja keuangan kuartal I 2026 dengan penjualan neto konsolidasi sebesar Rp21,72 triliun. Informasi ini penting bagi investor karena mencerminkan daya tahan emiten konsumer di tengah tantangan eksternal.
Berdasarkan siaran pers (30/4), seecara tahunan, penjualan ICBP tumbuh 8% dari Rp20,19 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Namun laba usaha turun 10% menjadi Rp4,62 triliun, terutama karena lebih rendahnya laba atas selisih nilai tukar mata uang asing dari aktivitas operasional. Meski demikian, marjin laba usaha tetap berada di level sehat sebesar 21,3%.
Laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp2,57 triliun, turun 3% dibanding Rp2,66 triliun pada kuartal I 2025. Penurunan terbatas ini menunjukkan profitabilitas masih terjaga, meski ada tekanan non-operasional yang menjadi perhatian pasar. ICBP merupakan emiten sektor makanan dan minuman bermerek.
Promo Terbaru di Bareksa
Sorotan Kinerja dan Respons Manajemen
Segmen mi instan tetap menjadi kontributor utama pendapatan, didukung portofolio merek kuat dan distribusi luas. Bisnis ICBP juga ditopang lini dairy, makanan ringan, penyedap makanan, nutrisi, dan minuman. Diversifikasi produk ini berpotensi menjaga stabilitas pendapatan di tengah perubahan pola konsumsi.
Direktur Utama dan CEO ICBP, Anthoni Salim, menyatakan perseroan mengawali 2026 dengan kinerja yang baik. Manajemen menegaskan fokus pada adaptasi cepat terhadap peluang pertumbuhan, penguatan daya saing, serta menjaga posisi keuangan tetap sehat.
Bagi investor, kinerja ini mencerminkan pertumbuhan penjualan yang solid, namun juga menunjukkan sensitivitas laba terhadap faktor kurs. Perkembangan efisiensi operasional dan stabilitas margin akan menjadi indikator penting pada kuartal-kuartal berikutnya.
Ringkasan Kinerja ICBP Q1 2026
| Indikator | Q1 2026 | Catatan |
|---|---|---|
Penjualan Neto | Rp21,72 triliun | Naik 8% YoY |
Laba Usaha | Rp4,62 triliun | Turun 10% YoY |
Marjin Laba Usaha | 21,3% | Stabil di level tinggi |
Laba Bersih | Rp2,57 triliun | Turun 3% YoY |
Sumber: ICBP, diolah
Kontributor Bisnis Utama
Mi instan tetap menjadi penyumbang terbesar pendapatan
Portofolio bisnis tersebar di lebih dari 6 kategori produk
Operasi didukung lebih dari 60 pabrik di Indonesia
Produk hadir di lebih dari 100 negara
Dampak ke Investor
Pertumbuhan penjualan menunjukkan permintaan tetap kuat
Penurunan laba lebih dipengaruhi faktor kurs, bukan pelemahan bisnis inti
Margin stabil mencerminkan efisiensi operasional
Diversifikasi produk dan pasar menjadi penopang ketahanan bisnis
Kesimpulan
Kinerja ICBP pada kuartal I 2026 menunjukkan kombinasi pertumbuhan pendapatan dan tekanan laba akibat faktor eksternal. Hal ini mencerminkan fundamental bisnis yang tetap kuat, meski profitabilitas terpengaruh fluktuasi kurs. Bagi pasar, hasil ini layak dicermati sebagai indikator daya tahan sektor konsumer. Konsistensi margin dan kemampuan menjaga pertumbuhan akan menjadi perhatian pada laporan kuartal berikutnya.
FAQ
1. Berapa penjualan ICBP pada Q1 2026?
Rp21,72 triliun.
2. Mengapa laba bersih ICBP turun?
Karena lebih rendahnya laba selisih kurs dari aktivitas operasional.
3. Berapa laba bersih ICBP?
Rp2,57 triliun.
4. Apa bisnis utama ICBP?
Produk makanan dan minuman bermerek, terutama mi instan.
5. Apa arti kinerja ini bagi investor?
Mencerminkan pertumbuhan bisnis inti yang kuat, meski ada tekanan non-operasional dari faktor eksternal.
Investasi di Aplikasi Trading Saham Online Terbaik – Bareksa
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
Tentang Penulis
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Pilihan Investasi di Bareksa
Klik produk untuk lihat lebih detail.
| Produk Eksklusif | Harga/Unit | 1 Bulan | 6 Bulan | YTD | 1 Tahun | 3 Tahun | 5 Tahun |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
Trimegah Dana Obligasi Nusantara autodebet | 1.210,09 | ||||||
STAR Stable Amanah Sukuk autodebet | 1.200,4 | - | - | ||||
Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A | 1.170,94 | - | - | ||||
Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A | 1.049,18 | - | - | - |
Produk Belum Tersedia
Ayo daftar Bareksa SBN sekarang untuk bertransaksi ketika periode pembelian dibuka.
Ayo daftar Bareksa SBN sekarang untuk bertransaksi ketika periode pembelian dibuka.

ST016
SyariahSukuk Tabungan
Periode Pembelian
Tipe Kupon
Mengambang

ORI030
Obligasi Negara Ritel
Periode Pembelian
Tipe Kupon
Fixed

SR025
SyariahSukuk Ritel
Periode Pembelian
Tipe Kupon
Fixed

SBR015
Saving Bond Ritel
Periode Pembelian
Tipe Kupon
Mengambang

ST017
SyariahSukuk Tabungan
Periode Pembelian
Tipe Kupon
Mengambang