IHSG Naik Tajam di 2025, Saham Fundamental Masih Tertinggal: Peluang 2026?
IHSG melonjak di 2025, tapi mayoritas saham fundamental masih tertinggal. Simak outlook saham 2026 dan strategi investasi di era bunga turun.

IHSG melonjak di 2025, tapi mayoritas saham fundamental masih tertinggal. Simak outlook saham 2026 dan strategi investasi di era bunga turun.
Bareksa - Sepanjang 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kenaikan tajam sekitar 22%. Namun, kenaikan ini tidak dirasakan merata. Indeks LQ45 yang berisi saham-saham berfundamental kuat dan likuid hanya naik sekitar 2,4%.
Artinya, reli pasar saham tahun lalu lebih banyak ditopang segelintir saham konglomerasi, sementara mayoritas saham besar justru tertinggal.
Kenapa Kenaikan IHSG Terlihat “Semu”?
Analisis Tim Analis Bareksa menunjukkan sekitar 80% kenaikan IHSG ditopang oleh saham-saham konglomerasi. Tanpa kontribusi saham tersebut, kinerja IHSG justru cenderung stagnan.
Promo Terbaru di Bareksa
Di sisi lain, saham-saham fundamental seperti perbankan besar mencatat laba yang jauh lebih besar, tetapi harga sahamnya belum bergerak sebanding. Tekanan daya beli dan sentimen jangka pendek membuat valuasi saham-saham ini relatif murah, meski kinerja bisnisnya solid.
Kondisi ini membuka peluang re-rating, yaitu kenaikan valuasi saham seiring membaiknya sentimen dan arah kebijakan ekonomi.
Apa Artinya untuk Investor di 2026?
Memasuki 2026, peluang pasar saham dinilai masih terbuka. Konsumsi domestik dan belanja pemerintah diproyeksikan tetap menjadi penopang ekonomi. IHSG ditargetkan bergerak ke level 8.960, dengan valuasi yang relatif murah dibanding pasar Asia dan potensi dividend yield sekitar 4,4%.
Selain itu, laba emiten diproyeksikan tumbuh sekitar 11,6%, dipimpin sektor perbankan, telekomunikasi, consumer, dan komoditas. Ini menjadikan 2026 sebagai momentum bagi saham-saham fundamental dan sektor siklikal untuk kembali memimpin pasar.
Tabel: Proyeksi Kinerja Emiten per Sektor
Strategi Investasi Saham di Era Bunga Turun
Di tengah tren suku bunga rendah, investor disarankan lebih selektif dan disiplin. Fokus utama adalah saham dengan fundamental kuat dan potensi kenaikan valuasi, seperti perbankan besar dan sektor yang sensitif terhadap pemulihan ekonomi.
Tabel: Saham Pilihan 2026
Saham | Kode Saham | Target Price Konsensus (Rp) | Upside | Max Buy Price (Rp) |
|---|---|---|---|---|
Bank Central Asia Tbk | BBCA | 11.000 | 32,53% | 8.750 |
Bank Negara Indonesia Tbk | BBNI | 5.000 | 16,01% | 4.600 |
Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk | BBRI | 4.750 | 29,43% | 4.200 |
Bank Mandiri (Persero) Tbk | BMRI | 5.500 | 11,11% | 5.000 |
Kalbe Farma Tbk | KLBF | 1.650 | 38,66% | 1.400 |
Sumber: Tim Analis Bareksa, upside berdasar harga 8/12/2025
Saham konglomerasi masih bisa dimanfaatkan untuk peluang jangka pendek, sementara alokasi kas kecil memberi fleksibilitas menghadapi volatilitas pasar.
Kesimpulan
Kenaikan IHSG di 2025 belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan fundamental pasar saham Indonesia. Justru di 2026, saat suku bunga turun dan laba emiten diproyeksikan tumbuh, peluang kebangkitan saham fundamental semakin terbuka.
Bagi investor, kunci strategi adalah fokus pada kualitas bisnis, valuasi yang masuk akal, dan disiplin terhadap tujuan investasi, bukan sekadar mengejar reli jangka pendek.
Investasi di Aplikasi Trading Saham Online Terbaik – Bareksa
Bareksa
adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu
investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market,
riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan
membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi,
Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi
investasi yang lebih lengkap.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Christian Halim/AM)
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist di PT Bareksa Marketplace Indonesia dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
Disclaimer
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat
informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak
dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun
paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Pilihan Investasi di Bareksa
Klik produk untuk lihat lebih detail.
| Produk Eksklusif | Harga/Unit | 1 Bulan | 6 Bulan | YTD | 1 Tahun | 3 Tahun | 5 Tahun |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
Trimegah Dana Obligasi Nusantara autodebet | 1.209,05 | ||||||
STAR Stable Amanah Sukuk autodebet | 1.186,38 | - | - | ||||
Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A | 1.156,83 | - | - | ||||
Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A | 1.054,56 | - | - | - | - |
Produk Belum Tersedia
Ayo daftar Bareksa SBN sekarang untuk bertransaksi ketika periode pembelian dibuka.
Produk Belum Tersedia
Ayo daftar Bareksa SBN sekarang untuk bertransaksi ketika periode pembelian dibuka.