BeritaArrow iconSahamArrow iconArtikel

IHSG Naik Tajam di 2025, Saham Fundamental Masih Tertinggal: Peluang 2026?

Abdul Malik06 Januari 2026
Tags:
IHSG Naik Tajam di 2025, Saham Fundamental Masih Tertinggal: Peluang 2026?
Ilustrasi investor memantau perkembangan pasar saham dan IHSG, serta memilih saham unggulan sesuai rekomendasi stock pick Tim Analis Bareksa. (Shutterstock)

IHSG melonjak di 2025, tapi mayoritas saham fundamental masih tertinggal. Simak outlook saham 2026 dan strategi investasi di era bunga turun.

Bareksa - Sepanjang 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kenaikan tajam sekitar 22%. Namun, kenaikan ini tidak dirasakan merata. Indeks LQ45 yang berisi saham-saham berfundamental kuat dan likuid hanya naik sekitar 2,4%.

Illustration

Artinya, reli pasar saham tahun lalu lebih banyak ditopang segelintir saham konglomerasi, sementara mayoritas saham besar justru tertinggal.

Kenapa Kenaikan IHSG Terlihat “Semu”?

Analisis Tim Analis Bareksa menunjukkan sekitar 80% kenaikan IHSG ditopang oleh saham-saham konglomerasi. Tanpa kontribusi saham tersebut, kinerja IHSG justru cenderung stagnan.

Promo Terbaru di Bareksa

Di sisi lain, saham-saham fundamental seperti perbankan besar mencatat laba yang jauh lebih besar, tetapi harga sahamnya belum bergerak sebanding. Tekanan daya beli dan sentimen jangka pendek membuat valuasi saham-saham ini relatif murah, meski kinerja bisnisnya solid.

Illustration

Kondisi ini membuka peluang re-rating, yaitu kenaikan valuasi saham seiring membaiknya sentimen dan arah kebijakan ekonomi.

Apa Artinya untuk Investor di 2026?

Memasuki 2026, peluang pasar saham dinilai masih terbuka. Konsumsi domestik dan belanja pemerintah diproyeksikan tetap menjadi penopang ekonomi. IHSG ditargetkan bergerak ke level 8.960, dengan valuasi yang relatif murah dibanding pasar Asia dan potensi dividend yield sekitar 4,4%.

Selain itu, laba emiten diproyeksikan tumbuh sekitar 11,6%, dipimpin sektor perbankan, telekomunikasi, consumer, dan komoditas. Ini menjadikan 2026 sebagai momentum bagi saham-saham fundamental dan sektor siklikal untuk kembali memimpin pasar.

Tabel: Proyeksi Kinerja Emiten per Sektor

Illustration

Strategi Investasi Saham di Era Bunga Turun

Di tengah tren suku bunga rendah, investor disarankan lebih selektif dan disiplin. Fokus utama adalah saham dengan fundamental kuat dan potensi kenaikan valuasi, seperti perbankan besar dan sektor yang sensitif terhadap pemulihan ekonomi.

Tabel: Saham Pilihan 2026

Saham
Kode Saham
Target Price Konsensus (Rp)
Upside
Max Buy Price (Rp)

Bank Central Asia Tbk

BBCA

11.000

32,53%

8.750

Bank Negara Indonesia Tbk

BBNI

5.000

16,01%

4.600

Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk

BBRI

4.750

29,43%

4.200

Bank Mandiri (Persero) Tbk

BMRI

5.500

11,11%

5.000

Kalbe Farma Tbk

KLBF

1.650

38,66%

1.400

Sumber: Tim Analis Bareksa, upside berdasar harga 8/12/2025

Saham konglomerasi masih bisa dimanfaatkan untuk peluang jangka pendek, sementara alokasi kas kecil memberi fleksibilitas menghadapi volatilitas pasar.

Kesimpulan

Kenaikan IHSG di 2025 belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan fundamental pasar saham Indonesia. Justru di 2026, saat suku bunga turun dan laba emiten diproyeksikan tumbuh, peluang kebangkitan saham fundamental semakin terbuka.

Bagi investor, kunci strategi adalah fokus pada kualitas bisnis, valuasi yang masuk akal, dan disiplin terhadap tujuan investasi, bukan sekadar mengejar reli jangka pendek.

Investasi di Aplikasi Trading Saham Online Terbaik – Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.

Beli Saham di Sini

(Sigma Kinasih CTA, CFP/Christian Halim/AM)

* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist di PT Bareksa Marketplace Indonesia dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.

*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

***

Disclaimer

Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.​

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

autodebet

1.209,05

Up0,72%
Up5,38%
Up0,22%
Up10,04%
Up20,46%
Up10,55%

STAR Stable Amanah Sukuk

autodebet

1.186,38

Up0,47%
Up4,65%
Up0,13%
Up9,00%
--

Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A

1.156,83

Up0,47%
Up4,57%
Up0,14%
Up9,79%
--

Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A

1.054,56

Up1,97%
-
Up0,67%
---

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua