BeritaArrow iconSahamArrow iconArtikel

Menuai Polemik, Benarkah Short Selling Bikin Bursa Saham China dan Korea Selatan Ambruk?

Abdul Malik24 Juni 2024
Tags:
Menuai Polemik, Benarkah Short Selling Bikin Bursa Saham China dan Korea Selatan Ambruk?
Ilustrasi investor bertransaksi saham menggunakan short selling. (Shutterstock)

Pemerintah Korea Selatan memperpanjang kembali aturan larangan short selling hingga kuartal I 2025

Bareksa.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah menggodok peraturan short selling yang dinilai bisa meningkatkan transaksi saham. Aturan ini akan dirilis dalam waktu dekat. Namun kebijakan ini menuai polemik. Salah satunya Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) yang mengganjar fatwa haram atas transaksi short selling dalam perdagangan saham di BEI karena dinilai mengandung unsur spekulasi.

Short selling adalah transaksi jual beli saham, di mana investor tidak memiliki saham tersebut untuk bertransaksi. Praktik perdagangan saham seperti ini risikonya tinggi dan kerap dilakukan oleh investor berpengalaman. Sebab diperlukan dugaan atau prediksi yang tepat dalam melakukan short selling. Secara sederhana, short selling adalah wujud dari transaksi yang dilakukan oleh investor menggunakan sistem meminjam saham.

Pro kontra soal short selling salah satunya karena sebagian pihak menilai RI harus belajar dari pengalaman negara lain. Di antaranya soal kejatuhan Bursa Saham China dan Korea Selatan yang salah satunya dinilai akibat kebijakan short selling. Pemerintah Korea Selatan memperpanjang kembali aturan larangan short selling hingga kuartal I 2025, setelah sebelumnya diberlakukan pada Maret 2023. Sedangkan China akan mengevaluasi dan menyempurnakan kebijakan short selling untuk menenangkan para investor yang panik akibat saham-saham short selling yang anjlok. Langkah ini setelah kejatuhan pasar saham yang signifikan pada awal Juni 2024.

Promo Terbaru di Bareksa

Investasi Saham di Sini

Namun benarkah short selling bikin Bursa Saham China dan Korea Selatan jatuh? Menurut penelusuran Tim Riset Bareksa, memang benar pemberlakuan kebijakan short selling di China dan Korea Selatan berkontribusi terhadap kejatuhan bursa di kedua negara tersebut. Namun perlu diingat banyak faktor lain yang turut berperan, seperti:

Di China

1. Gempa kuantitatif

Aksi jual otomatis para hedge fund dengan metode kuantitatif menyebabkan tekanan besar pada pasar saham

2. Kebijakan moneter ketat

Bank Rakyat Tiongkok (PBoC) menaikkan suku bunga dan memperketat kebijakan moneternya, yang berdampak negatif ke pasar saham

3. Ketidakpastian geopolitik

Perang dagang Amerika Serikat (AS) - China dan ketegangan geopolitik lainnya turut membebani sentimen investor.

Beli Saham di Sini

Di Korea Selatan

1. Skandal short selling ilegal

Terungkapnya praktik short selling ilegal oleh beberapa lembaga keuangan global memicu kepanikan investor dan menyebabkan aksi jual besar-besaran

2. Kekhawatiran tentang ekonomi global

Pelemahan ekonomi global dan ketidakpastian yang meningkat di pasar keuangan internasional juga berkontribusi pada kejatuhan bursa Korea Selatan.

Meskipun pemberlakuan kebijakan short selling berdampak negatif terhadap pasar saham di China dan Korea Selatan, namun perlu dicatat kebijakan ini tidak selalu menyebabkan kejatuhan bursa. Sebab, short selling bisa menjadi instrumen yang berguna untuk meningkatkan efisiensi pasar dan membantu mengungkap harga yang salah.

Namun, penting untuk memiliki regulasi yang kuat untuk mencegah praktik short selling ilegal dan meminimalisir dampak negatifnya terhadap pasar. Soal kelebihan dan kekurangan transaksi saham short selling kamu bisa baca di sini.

Beli Saham di Sini

Langkah China dan Korea Selatan Atasi Dampak Short Selling

Otoritas China dan Korea Selatan tidak menghapus kebijakan short selling, namun kedua negara menerapkan beberapa langkah dan kebijakan untuk meminimasilir dampaknya. Yakni Pemerintah China mengevaluasi dan menyempurnakan kebijakan short selling setelah terjadi kejatuhan pasar saham yang signifikan pada awal Juni 2024. Namun, kebijakan short selling tidak dihapuskan. Beberapa perubahan yang dilakukan pada kebijakan short selling di China antara lain meningkatkan margin requirement untuk short selling, membatasi jumlah saham yang dapat di-short sell pada saham tertentu, serta memperkuat pengawasan terhadap aktivitas short selling.

Adapun di Korea Selatan, pemerintah Negeri Ginseng memperpanjang larangan short selling yang sebelumnya diberlakukan pada Maret 2023. Larangan ini direncanakan akan dicabut pada kuartal I 2025. Pemerintah Korea Selatan juga akan merevisi peraturan short selling untuk menyamakan kedudukan investor ritel dan institusional.

Meskipun kebijakan short selling tidak dihapuskan di China dan Korea Selatan, namun kedua negara tersebut telah mengambil langkah-langkah untuk memperketat regulasi short selling dan mencegah praktik short selling ilegal. Tujuannya adalah untuk melindungi investor dan menjaga stabilitas pasar saham.

Beli Saham di Sini

(Adam Rizky Nugroho/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di saham dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli saham klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi Bareksa di App Store​
- Download aplikasi Bareksa di Google Playstore
- Belajar investasi, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER​​​​​

Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Trimegah Dana Tetap Syariah

1.339,12

Up0,60%
Up3,78%
Up0,04%
Up4,68%
Up18,62%
-

Capital Fixed Income Fund

1.793,7

Up0,62%
Up3,35%
Up0,04%
Up6,94%
Up16,60%
Up40,04%

I-Hajj Syariah Fund

4.874,07

Up0,65%
Up3,20%
Up0,04%
Up6,14%
Up22,06%
Up40,69%

STAR Stable Amanah Sukuk

Produk baru

1.048,25

Up0,58%
Up3,62%
Up0,04%
---

Reksa Dana Syariah Syailendra Tunai Likuid Syariah

1.147,14

Up0,32%
Up2,61%
Up0,03%
Up4,96%
Up14,27%
-

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua