MAMI : Prediksi Pasar Saham dan Obligasi 2023, Ini Rekomendasi Jurus Investasinya

MAMI merekomendasikan sektor yang terkait dengan green economy, sektor finansial, dan consumer discretionary
Abdul Malik • 18 Jan 2023
cover

Ezra Nazula – Director & Chief Investment Officer, Fixed Income Manulife AM (atas), Katarina Setiawan – Chief Economist & Investment Strategist Manulife AM (kiri), dan Samuel Kesuma – Senior Portfolio Manager, Equity Manulife AM (kanan) saat berlangsungnya Press Conference Market Outlook 2023: Seeds of Opportunity via Webinar Zoom, Selasa (17/1/2023) Sumber: Manulife AM

Bareksa.com - PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) atau Manulife AM Indonesia, perusahaan manajemen investasi terbesar di Indonesia, menilai pemulihan ekonomi masih berlangsung di Indonesia dan ada peluang untuk terus tumbuh. Karena itu, investor disarankan untuk terus berinvestasi baik di pasar obligasi maupun pasar saham, disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan investasinya.

Menurut MAMI, Indonesia memiliki daya saing yang menarik di tengah proyeksi pelambatan ekonomi global tahun ini. Saat bersamaan, tekanan terhadap rupiah diprediksi akan mereda dan inflasi diperkirakan akan lebih terkendali. 

Demikian sebagian pandangan tim investasi MAMI yang disampaikan secara daring pada Selasa (17/1/2023) dalam acara Indonesia Market Outlook 2023 bertajuk Seeds of Opportunity, dengan narasumber Ezra Nazula, Director & Chief Investment Officer, Fixed Income Manulife AM, dan Katarina Setiawan, Chief Economist & Investment Strategist Manulife AM, serta Samuel Kesuma, Senior Portfolio Manager, Equity Manulife AM.

Pasar Global dan Asia

Katarina Setiawan, Chief Economist & Investment Strategist Manulife AM menyampaikan outlook pertumbuhan ekonomi global diperkirakan akan melemah dan ada risiko resesi ekonomi di kawasan negara maju. Inflasi yang berkepanjangan dan sektor tenaga kerja yang masih kuat, dinilai mendorong The Fed atau Bank Sentral Amerika, untuk mengindikasikan bahwa pengetatan moneter belum akan dikendurkan dalam waktu dekat. 

Pertumbuhan ekonomi global dapat terdampak. Arah kebijakan The Fed masih tetap menjadi perhatian pasar dan dapat menyebabkan volatilitas dalam jangka pendek. Lebih lanjut Katarina menjelaskan bahwa kondisi di pasar Asia berbeda dengan pasar global. Menurutnya, di kawasan Asia justru terjadi perbaikan sentimen dengan risiko resesi negara-negara di kawasan Asia juga lebih rendah. 

Katarina menjelaskan hal tersebut disebabkan oleh relatif rendahnya kenaikan suku bunga di kawasan pada tahun lalu dan inflasi pun relatif lebih terkendali. Selain itu, relaksasi kebijakan zero Covid di China membawa dampak positif yang berantai bagi ekonomi Asia. Kemudian, nilai tukar mata uang negara-negara di Asia pun mulai tertopang dengan meredanya penguatan dolar Amerika.

Dia menyampaikan bahwa perbaikan sentimen di kawasan Asia justru mendorong terjadinya perpindahan investor dari kawasan yang sudah berkinerja unggul menuju kawasan yang dianggap telah jenuh jual (oversold).

"Efeknya dirasakan di pasar saham Indonesia. Arus dana asing yang masuk ke pasar saham Indonesia di sepanjang tahun 2022 tercatat sebesar US$4,4 miliar. Namun di akhir tahun lalu, dana asing terlihat bergerak keluar dari pasar saham Indonesia sebesar US$0,4 miliar (Q4 2022)," ujar Katarina. 

Secara umum, ia mengatakan, pembukaan kembali perekonomian China dapat berdampak positif terhadap perekonomian Indonesia karena China merupakan mitra dagang utama dari Indonesia.

Pasar Domestik

Sementara itu mengenai pasar domestik, Katarina menjelaskan proyeksi pelambatan ekonomi global dan berkurangnya besaran kenaikan Fed Rate akan mengurangi tekanan terhadap rupiah pada tahun ini. Meningkatnya likuiditas valas pada perbankan dalam negeri, seiring dengan naiknya tingkat suku bunga deposito valas, terutama untuk eksportir, turut menopang kenaikan cadangan devisa di bulan November 2022 dan pada akhirnya ikut menopang stabilitas rupiah. 

Selain itu, ia menjelaskan pada tahun ini inflasi diperkirakan akan lebih terkendali seiring dengan normalisasi harga komoditas dan semakin meredanya lonjakan kenaikan harga akibat kenaikan harga BBM di 2022. "Dengan fundamental makro ekonomi Indonesia yang kuat dan imbal hasil obligasi Indonesia yang menarik, tentunya kedua hal ini akan ikut mendorong kuatnya arus masuk dana asing ke pasar obligasi Indonesia,” kata Katarina.

Menurut Katarina, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan masih relatif stabil dan cukup jauh dari kemungkinan resesi yang mengancam kawasan negara maju. Menurutnya ekonomi Indonesia masih ditopang oleh konsumsi domestik yang terjaga, dengan konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 50% pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Katarina mengatakan kenaikan upah minimum regional (UMR) yang tinggi untuk tahun ini atau 2023, juga menjadi salah satu faktor yang dapat mendukung daya beli konsumen. Selain itu, inflasi di Indonesia juga terjaga dengan relatif baik. 

Sebelumnya, sepanjang tahun 2022, inflasi umum tercatat sebesar 5,51% YoY sedangkan inflasi inti stabil di kisaran 3,36% YoY. Penyebab utama tren penurunan inflasi di Indonesia yaitu stabilitas harga pangan dan berkurangnya second round effect dari kenaikan harga BBM.

Manulife AM menilai dalam jangka panjang, stabilitas eksternal Indonesia didukung oleh meningkatnya ekspor logam dasar dan maraknya penanaman modal pada sektor logam dasar serta pertambangan, yang sudah mulai terlihat sejak 2022. Hal tersebut akan menopang neraca transaksi berjalan serta nilai tukar rupiah lebih lagi ke depannya.

Pasar obligasi

Sementara itu mengenai pasar domestik, Ezra Nazula, Director & Chief Investment Officer, Fixed Income Manulife AM mengatakan pasar obligasi Indonesia mencatatkan kinerja positif 3,5% di tahun 2022. Kinerja pasar obligasi Indonesia lebih baik dibandingkan pasar lainnya di kawasan Asia, seperti Hong Kong (-8,6%), Filipina (-6,0), Singapura (-5,1%), dan Thailand (-4,0%).

Ezra menjelaskan bahwa selama tahun 2022, kurva imbal hasil pasar obligasi menunjukkan pola bearish flattening, dimana obligasi dengan tenor paling pendek (2 tahun) mengalami kenaikan imbal hasil paling signifikan (181 bps), sedangkan obligasi dengan tenor paling panjang (30 tahun) mengalami kenaikan imbal hasil paling kecil (46 bps). Jika dilihat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir (2012 – 2022), pasar obligasi Indonesia mencatatkan kinerja kumulatif sebesar 8,03% per tahun.

Dia menyampaikan bahwa kepemilikan asing di pasar obligasi terlihat telah menyusut, dari semula 19,05% (Rp 891,3 triliun) pada akhir 2021 menjadi 14,36% (Rp 762,2 triliun) di akhir 2022. Rendahnya kepemilikan asing di pasar obligasi diharapkan dapat mengurangi volatilitas akibat aksi jual investor asing. 

Selain itu, Ezra mengatakan ekspektasi berkurangnya agresivitas kenaikan Fed Funds Rate, seiring dengan inflasi Amerika Serikat yang terus mengalami moderasi akan mengangkat sentimen global dan membawa kembali arus masuk dana asing. "Di dalam negeri, diversifikasi investor domestik menjadi penopang utama, khususnya di perbankan, asuransi dan dana pensiun, serta investor ritel," ujar Ezra. 

Ezra memaparkan tiga katalis pasar obligasi di tahun 2023. Pertama, perbaikan fundamental makro. Indikator makro ekonomi yang membaik, seperti defisit fiskal di bawah target pemerintah, dapat mendukung kenaikan rating Indonesia. 

Kedua, kuatnya permintaan domestik. Permintaan dari investor perbankan, asuransi, dana pensiun, dan investor ritel diperkirakan masih kuat untuk menopang pasar. 

Ketiga, skenario pembukaan kembali China. Skenario dibukanya perekonomian China diperkirakan akan membantu meningkatkan sentimen positif ke pasar global. 

"Selain itu, risiko yang perlu diwaspadai yaitu ketidakpastian yang masih terus ada dari pasar global, seperti perang Rusia dan Ukraina, kebijakan bank sentral Amerika dan dunia yang berpotensi kembali menjadi hawkish jika data ekonomi masih kuat di atas konsensus, dan tekanan politik yang berpotensi timbul jelang Pemilu 2024. Kami memperkirakan imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun bisa kembali ke kisaran 6,50% - 6,75%,” Kata Ezra.

Pasar Saham

Di sisi lain mengenai pasar saham, Samuel Kesuma, Senior Portfolio Manager, Equity Manulife AM mengatakan telah terjadi perubahan selera investasi yang lebih positif terhadap pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Hal ini akibat The Fed mengurangi agresivitasnya, didukung oleh pembukaan kembali ekonomi China. Dampaknya, di bulan November 2022, negara berkembang membukukan rekor tertinggi arus masuk dana asing,” dia menjelaskan.

Berbicara mengenai dampak nilai tukar Rupiah terhadap pasar saham, Samuel mengatakan, risiko nilai tukar yang selama ini menjadi ‘penghalang’ diharapkan akan membaik ketika penguatan dolar Amerika mulai mereda. 

"Pergerakan investor yang melakukan diversifikasi investasi keluar dari pasar China (pemegang bobot terbesar dalam MSCI) berpotensi meningkatkan aliran dana masuk ke negara berkembang lainnya seperti Indonesia. Hal ini dapat mengimbangi kekhawatiran terjadinya fenomena bottom fishing, yaitu aktivitas yang dilakukan oleh investor pada saham-saham di beberapa negara dengan kinerja yang tertekan pada 2022 lalu," papar dia. 

Rekomendasi Manulife AM

Samuel mengungkap sektor-sektor pilihan tim investasi Manulife AM pada tahun ini.

"Kami merekomendasikan sektor yang terkait dengan green economy. Investasi di industri terkait electronic vehicle secara organik akan meningkatkan permintaan bahan mineral," kata dia. 

Ia menjelaskan dalam jangka pendek, harga spot akan mendapat manfaat dari sinyal perlambatan kenaikan Fed Funds Rate dan pembukaan kembali China. Selain itu, sektor finansial juga akan diuntungkan oleh ekonomi Indonesia yang kuat dan likuiditas yang masih cukup tinggi. Hal ini memungkinkan perbankan untuk meningkatkan marjin sambil menjaga kualitas kredit. 

"Sektor lainnya yaitu consumer discretionary. Konsumsi domestik diperkirakan akan meningkat di tahun ini, ditopang oleh belanja pemerintah terkait Pemilu 2024,” kata Samuel.

Segera Investasi di Reksadana Sekarang, Klik di Sini

(Martina Priyanti/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.