IHSG Turun Saat Asing Jualan, Reksadana Saham Masih Dominasi Return Harian

IHSG melemah tipis 0,21% ke 7.112,45 dan investor asing jual bersih Rp960 miliar di pasar reguler
Hanum Kusuma Dewi • 28 Sep 2022
cover

Ilustrasi investor analis melihat grafik harga saham yang naik dengan gambar panah hijau menunjuk ke atas di layar monitor. (shutterstock)

Bareksa.com - Pasar saham Tanah Air kembali berakhir di zona merah untuk kedua kalinya pada pekan ini, menyusul koreksi yang terjadi pada perdagangan Selasa (27/9/2022). Namun, sejumlah reksadana saham masih mencatatkan kenaikan imbal hasil harian. 

Kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tipis 0,21%ke level 7.112,45. Aktivitas perdagangan tergolong normal dengan nilai transaksi mencapai Rp13,70 triliun, dengan investor asing tercatat menorehkan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp960,32 miliar di pasar reguler.

Sentimen Kebijakan The Fed

Kinerja IHSG tampaknya dibayangi hasil negatif dari bursa saham Amerika Serikat (AS) yang mengalami tekanan pada awal pekan ini.  Sebagai informasi, pasar saham AS ditutup ambrol lagi pada perdagangan perdananya pekan ini di tengah gejolak kenaikan suku bunga The Fed serta proyeksi mengejutkan terkait arah suku bunga ke depan yang lebih agresif oleh Komite Pengambil Kebijakan (FOMC) sehingga memicu kekhawatiran resesi.

Dow Jones Industrial Average ambles 329,6 poin, atau 1,11%. Sedangkan S&P 500 dan Nasdaq ditutup masing-masing ambrol 1,03% dan 0,6%.

S&P 500 mencatat penutupan terendah baru untuk 2022 dan Dow Jones Industrial Average tergelincir ke pasar bearish karena suku bunga melonjak serta gejolak mengguncang mata uang global.

Baca juga Bareksa Insight : Jurus Agar Investasi Cuan Terus, Saat Tekanan Pasar Global Makin Berat

Melansir CNBC Indonesia, hingga kemarin sentimen utama masih didominasi oleh keputusan hasil rapat pejabat bank sentral serta proyeksi yang mengejutkan dari suku bunga The Fed.

Diketahui, otoritas moneter AS tersebut terhitung telah menaikkan suku bunga acuannya sebanyak 5 kali. Pertama dilakukan pada Maret 2022 sebesar 25 bps. Selanjutnya di bulan Mei sebesar 50 bps.

Kemudian di bulan Juni, Juli dan terakhir September, The Fed menaikkan masing-masing 75 bps. Pelaku pasar tidak hanya menyorot soal kenaikan suku bunga acuan di bulan September karena memang sudah diantisipasi.

Namun pelaku pasar was-was terhadap ungkapan Ketua The Fed yang memberikan sinyal akan membawa suku bunga menjadi 4,4% pada akhir 2022 mendatang dan menaikkan 4,6% untuk perkiraan tahun depan. Efek pengetatan ini, konsensus memperkirakan akan ada kenaikan 75 bp di bulan November.

Inilah yang menjadi ketakutan di pasar dan akan terasa di seluruh pasar baik itu pasar saham, tenaga kerja, serta perumahan.

Namun, dalam meredam inflasi yang telah mencapai level tertingginya, Powell tidak pernah mengatakan bahwa resesi adalah proyeksinya, meskipun para ekonom di Nomura memperkirakan AS akan masuk ke jurang resesi tahun ini.

Potensi resesi global semakin nyata dan nyaring bunyinya. Pelaku pasar makin khawatir akan perekonomian global yang kembali lesu ke depannya

Negara-negara akan kembali mengalami perlambatan ekonomi dan tingkat pengangguran akan mengalami kenaikan akibat dari resesi global.

Reksadana Saham Dominasi Return Harian

Kondisi pasar saham Indonesia yang mengalami koreksi tipis pada perdagangan kemarin, ternyata secara umum masih mampu mendorong kinerja reksadana berbasis saham.

Berdasarkan data Bareksa, indeks reksadana saham berhasil menorehkan kenaikan tipis 0,08 persen. Namun, sayangnya indeks reksadana saham syariah terkoreksi -0,07 persen.

Sumber: Bareksa

Kemudian secara lebih rinci, produk reksadana saham ternyata memang terlihat mendominasi kinerja positif dengan return harian tertinggi pada perdagangan kemarin.

Sumber: Bareksa

Berdasarkan top 10 return tertinggi pada perdagangan kemarin, 6 di antaranya ditempati oleh reksadana jenis saham, sementara 4 lainnya diraih oleh reksadana campuran.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Baca juga Cuan 19,7% Setahun, Reksa Dana Avrist Indeks LQ45 Kini Tersedia di Bareksa

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Reksadana saham adalah reksadana yang mayoritas aset dalam portofolionya adalah instrumen aset saham atau efek ekuitas. Reksadana jenis ini berisiko berfluktuasi dalam jangka pendek tetapi berpotensi tumbuh dalam jangka panjang.

Maka dari itu, reksadana saham yang agresif disarankan untuk investor dengan profil risiko tinggi dan untuk investasi jangka panjang (>5 tahun). Demi kenyamanan berinvestasi, pastikan dulu tujuan keuangan dan profil risiko Anda.

Baca juga Promo Beli Reksadana Pakai OVO, Auto Cashback Points dan Voucher hingga Rp300 Ribu


(Arief Budiman/KA01/hm)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.