Schroders: 2021 Tahun Pemulihan, 2022 Peluang Investasi Reksadana Saham

Saham-saham blue chip masih memiliki potensi untuk naik lebih tinggi disokong arus dana asing
Hanum Kusuma Dewi • 17 Dec 2021
cover

Ilustrasi investor atau manajer investasi melihat outlook pasar saham dan obligasi dan dampaknya ke reksadana dan SBN. (Shutterstock)

Bareksa.com - Schroders, perusahaan aset manajemen dengan induk di Inggris, menyiapkan pandangannya mengenai kondisi ekonomi makro dan potensinya bagi investasi di pasar modal, termasuk reksadana sahamTahun 2021 dianggap sebagai tahun pemulihan setelah ekonomi global sedang bertransisi ke kondisi new normal di tengah pandemi. 

Menurut Schroders, dalam market outlook 2022, tahun depan akan menjadi tahun yang berpotensi bagi investasi di pasar saham dan reksadana saham, seiring dengan pemulihan ekonomi global. 

"Kami tetap berpandangan positif terhadap saham untuk 2022 dengan dukungan reformasi, valuasi yang tertinggal dibandingkan negara sejenis, potensi listing perusahaan baru dan harga komoditas yang kuat," tulis Schroders dalam paparannya yang dibagikan kepada nasabah. 

Baca juga : Investasi Reksadana di Bareksa dapat OVO Poin dan Voucher GrabFood

Berdasarkan data, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan kinerja positif 9,3 persen sepanjang tahun berjalan hingga November 2021. Namun, menurut Schroders, valuasinya (price to earning ratio/PE) masih di kisaran 18,15 kali, tertinggal dibandingkan bursa negara berkembang dan India yang sudah memiliki PE 22,86 kali. 

Indonesia, menurut Schroders, masih menjadi target investasi yang menarik untuk realokasi dari China. Sebab, Indonesia mendapatkan keuntungan dari harga komoditas yang tinggi sementara ekonominya bergantung pada permintaan domestik. Sehingga, Indonesia dianggap sebagai salah satu yang favorit di antara negara-negara Asia Tenggara. 

Berkaitan dengan pasar saham, IHSG menunjukkan kinerja baik setelah kondisi Covid di Indonesia membaik, dengan tingkat positivity rate turun signifikan ke kurang dari 1 persen di seluruh negeri. Maka, Schroders menganggap bahwa pemulihan Covid telah sepenuhnya tercermin pada kinerja IHSG sejak awal tahun (year to date/YTD). 

"Maka, potensi peningkatan IHSG pada 2022 membutuhkan dorongan dari reformasi struktural, Omnibus Law dan perkembangan sovereign wealth fund INA. Aktivitas pasar modal mendatang dan aksi korporasi juga mendorong pasar saham Indonesia dengan nama-nama yang menarik bagi investor asing, seperti perusahaan ekonomi baru, yang mengusung tema keberlanjutan, dan perusahaan teknologi." 

Schroders lebih memilih saham-saham berkapitalisasi besar (large caps) atau blue chip dibandingkan dengan saham-saham kapitalisasi kecil-menengah, yang sudah bergerak kuat sepanjang 2021. Saham-saham blue chip mendapat keuntungan dari masuknya arus dana asing ke Indonesia, karena investor asing cenderung memilih saham large cap yang lebih likuid. 

"Karena valuasi yang tertinggal dan kondisi Covid di Indonesia yang membaik, menurut kami arus dana asing akan tetap kuat menjelang 2022." 

Sementara itu, membandingkan IHSG dengan indeks LQ45 dan IDX80, IHSG telah melampaui kinerja LQ45 dan IDX80 secara YTD dengan selisih lebar, meski selisihnya sudah menyempit dibandingkan dengan awal tahun. Dibandingkan dengan IHSG, kinerja LQ45 terdiskon 9 persen dan kinerja IDX80 diskon 11 persen, sehingga saham-saham blue chip akan terus bergerak naik untuk mempersempit selisih tersebut. 

Grafik Perbandingan IHSG, LQ45, IDX80

Sumber: Schroders

Berkaitan dengan sektor, Schroder memilih saham-saham bank besar sebagai proksi utama pemulihan ekonomi. Perusahaan kesehatan dan sejumlah perusahaan konsumer juga bisa menjadi pilihan defensif. 

"Kami juga suka sejumlah saham tekno sebagai investasi jangka panjang, menyusul booming sektor ini di Indonesia. Beberapa saham infrastruktur juga menarik setelah pembukaan kembali. Sementara itu, emiten logam juga disukai karena komoditas yang digunakan sebagai energi kendaraan listrik jangka panjang dan pengembangan energi terbarukan." 

Baca Juga : Bareksa Raih Pendanaan Seri C dari Grab, Kukuhkan Sinergi Grab - Bareksa - OVO

Seiring dengan potensi tersebut, Schroders juga menyebutkan sejumlah risiko, termasuk kenaikan kasus Covid di Indonesia dan pembatasan sosial, tekanan inflasi, stimulus yang melonggar, ruang fiskal yang ketat, serta perlambatan ekonomi China. 

Potensi di pasar saham ini tentu bisa ikut mendorong reksadana berbasis saham, seperti ​reksadana sahamreksadana campuran dan ​reksadana indeks 
saham. ​Reksadana jenis ini cocok untuk investor agresif dengan profil risiko tinggi dan untuk tujuan investasi jangka panjang. 

Momen ini bisa menjadi waktu bagi investor melakukan switching dari reksadana atau aset dengan risiko rendah ke reksadana saham yang berisiko lebih tinggi. Ditambah lagi, ada ​promo switching di Bareksa dengan hadiah cashback hingga Rp200.000. 

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER​
Kinerja masa lampau tidak menjamin kinerja masa depan. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.