Market Cap Lippo Group Melesat Tembus Rp77,8 Triliun, Dua Reksadana Punya Sahamnya

Berdasarkan lembar fakta reksadana Oktober 2021, terdapat dua reksadana di Bareksa yang menggenggam saham Lippo Group
Abdul Malik • 07 Dec 2021
cover

Komplek Lippo Karawaci di Tangerang, Banten. Meroketnya saham-saham Lippo Group turut mendongkrak kinerja reksadana yang memiliki portofolionya. (Shutterstock)

Bareksa.com - Kinerja saham perusahaan di bawah bendera Lippo Group moncer sepanjang tahun Kerbau Logam. Kapitalisasi pasar dari 15 emiten yang dimiliki Lippo Group melesat 62,8 persen, dari Rp47,83 triliun pada awal Januari 2021 menjadi Rp77,87 triliun pada awal Desember tahun ini.

Potensi apik Lippo Group di tahun Kerbau Logam membuat optimistis konglomerasi yang telah berusia lebih dari 70 tahun itu menyambut Tahun Shio Macan Air tahun depan.

Tercatat harga saham PT Multipolar Tbk (MLPL) paling kinclong dari jajaran anak usaha Lippo Group. Pada awal Januari, harga saham MLPL Rp57 per saham dengan kapitalisasi pasar Rp827 miliar, hingga awal Desember kapitalisasi itu melambung hingga Rp5,8 triliun atau meroket 605 persen di harga Rp402.

Hingga kuartal II tahun ini, MLPL telah berhasil mengemas laba bersih serta peningkatan pendapatan dibandingkan periode tahun lalu. Laba bersih MLPL mencapai Rp371 miliar pada kuartal II 2021.

Multipolar juga mulai memetik hasil dari investasi digital yang dilakoni sejak awal tahun lalu. Sejauh ini, MLPL memang ditempatkan sebagai lengan investasi digital oleh Lippo Group yang mendapat sentimen positif dari geliat industri digital yang sangat kuat.

Direktur PT Ekuator Swarna Investama Hans Kwee membenarkan tren yang kuat di sektor teknologi informasi mengerek saham-saham Lippo Group. “Memang ada euforia digital yang ikut mendorongnya,” ungkapnya.

“Hampir semua yang memiliki peran digital dan pendukungnya, ikut terkerek pada periode sekarang ini,” tambah Hans.

Baca : Bareksa Raih Pendanaan Seri C dari Grab, Kukuhkan Sinergi Grab - Bareksa - OVO

Kembangkan Perusahaan Digital

“Secara grup, MLPL memang merupakan induk untuk investasi ke perusahaan-perusahaan digital, kami memiliki strategi yang komplit dalam memacu dan mengembangkan perusahaan digital,” ungkap Direktur Eksekutif Lippo Group John Riady.

Selain itu, lanjutnya, secara ekosistem, MLPL juga mengembangkan kolaborasi atau omnichannel yang memperkuat posisi portofolio.

Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) adalah emiten kedua milik Lippo Group yang meraih peningkatan kapitalisasi pasar terbesar. MPPA adalah cerminan kolaborasi bisnis era digital dengan kepemilikan jaringan penjualan secara konvensional.

Menurut John, strategi bisnis MPPA mirip yang terjadi di China, di mana raksasa digital memborong jaringan ritel modern. Terlebih lagi buat Indonesia, di mana transaksi ritel masih lebih dominan dikuasai pasar tradisional dan pasar fisik modern.

“Sebab biar bagaimanapun raksasa digital membutuhkan operasional secara fisik, kehadiran MPPA inilah yang kelak memperkuat posisi mereka. Hal inipun tampak dari kinerja operasional dan finansial MPPA yang kembali bergeliat pada tahun ini,” tegas John.

MPPA mencatatkan kapitalisasi pasar Rp4,3 triliun per 1 Desember dengan harga per saham Rp565. Nilai itu melesat 557 persen dibandingkan Rp653 miliar posisi 1 Januari 2021, dengan harga per saham Rp86.

Emiten-emiten berbasis industri informasi dan telekomunikasi (IT) yang dimiliki Lippo Group lainnya menjadi kontributor terbesar peningkatan kapitalisasi pasar. Mulai dari Mutlipolar Technology (MLPT) yang mulai menggarap jasa layanan komputasi awan (cloud) hingga Link Net (LINK).

John menilai momentum perusahaan teknologi ataupun yang masuk dalam ekosistem digital memang sangat menjanjikan. Bahkan, dia berpendapat bahwa sektor tersebut berpotensi menjadi mesin pertumbuhan baru bagi Indonesia.

“Pandemi Covid-19 mengakselerasi penetrasi digital dalam kehidupan dan membentuk pola hidup masyarakat. Indonesia saat ini dalam tren dan jalur yang tepat memanfaatkan momentum tersebut, ekosistem digital semakin matang serta kehadiran banyaknya perusahaan rintisan yang memberikan solusi atas problem masyarakat,” ungkap John.

John optimistis mengenai prospek perekonomian ke depan. Selain sektor-sektor digital, masih terdapat industri properti dan industri kesehatan yang menurut John, merupakan mesin pertumbuhan bagi perekonomian nasional ke depan. Grup Lippo juga menaungi beberapa perusahaan properti ternama.

Hans Kwee juga berpendapat setelah menggeliatnya sektor IT, pasar kelak akan merespons perbaikan kinerja industri konvensional, khususnya yang berbasis basic consumer. “Akan terjadi rotasi ke depan,” simpulnya.

Baca : Investasi Reksadana di Bareksa dapat OVO Poin dan Voucher GrabFood

Data Emiten Grup Lippo

Emiten

Harga Saham per 1 Jan 2021 (Rp)

Market Cap per 1 Jan 2021 (Rp miliar)

Harga Saham per 1 Des 2021 (Rp)

Market Cap per 1 Des 2021 (Rp miliar)

Pertumbuhan Harga Saham

Pertumbuhan Market Cap

MPPA

86

653

565

4.290

557%

557%

MLPL

57

827

402

5.830

605%

605%

LPGI

3.300

495

4.410

662

33,7%

33,7%

NOBU

780

3.502

775

3.480

-0,6%

-0,6%

MLPT

720

1.343

3.480

6.490

383%

383%

GMTD

17.950

1.825

16.725

1.700

-7%

-7%

LPKR

210

14.786

147

10.350

-30%

-30%

LPPF

1.100

2.888

3.900

10.239

254,5%

254,5%

LINK

2.400

6.870

4.360

12.480

81,6%

81,6%

LPPS

87

225

112

290

28,7%

28,7%

LPCK

1.485

3.982

1.380

3.700

-7%

-7%

LPIN

238

101

1.090

464

358%

358%

SILO

5.641

9.172

9.375

15.243

66,2%

66,2%

KBLV

348

612

1.080

1.900

210%

210%

MFMI

720

545

990

750

37,6%

37,6%

Jumlah


47.826


77.868


62,8%

Sumber : Lippo Group

Baca : Kolaborasi PT Pegadaian - Bareksa, Hadirkan Tabungan Emas Online untuk Investasi Terintegrasi

Kinerja Reksadana dengan Portofolio Saham Lippo Group

Fantastisnya kinerja harga saham Lippo Group, kira-kira reksadana apa saja yang memiliki portofolio sahamnya? Dari hasil penelusuran Bareksa berdasarkan lembar fakta reksadana (fund fact sheet) Oktober 2021, terdapat dua reksadana di Bareksa yang menggenggam saham Lippo Group. 

Dua reksadana tersebut ialah Jarvis Balanced Fund dan Syailendra Balanced Opportunity Fund. Dua reksadana campuran ini sama-sama menggenggam saham PT Link Net Tbk (LINK).

Setahun terakhir (per 6 Desember 2021), Jarvis Balanced Fund membukukan cuan 69,1 persen dan Syailendra Balanced Opprtunity Fund mencatatkan imbalan 23,75 persen.

Sumber : Bareksa

Dua reksadana campuran jenis konvensional yang bisa dibeli di Bareksa tersebut juga kompak mencatatkan lonjakan dana kelolaan.

Tercatat dana kelolaan Syailendra Balanced Opportunity Fund, reksadana yang dikelola PT Syailendra Capital baru Rp24,9 miliar pada Desember 2020. Namun per Oktober 2021 dana kelolaannya melesat 785 persen jadi Rp230 miliar.

Lonjakan fantastis juga dibukukan Jarvis Balanced Fund, reksadana kelolaan PT Jarvis Asset Management, dari dana kelolaan Rp51,9 miliar pada Desember 2020 meroket 961 persen jadi Rp683 miluar pada Oktober 2021.

Sumber : Bareksa

Perlu diingat, apapun produk investasi pilihan kamu, selalu sesuaikan dengan tujuan dan jangka waktu investasi, serta profil risiko kamu ya!

(Bintang Yuliyanto/Abdul Malik)

Baca : Promo Beli Tabungan Emas Pegadaian di Bareksa, Bisa Raih Hadiah Rp50 Ribu

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.