Syailendra Capital : Pandemi Dorong Super Apps Investasi Jadi Tren

Salah satu cara untuk menjadi super apps adalah platform investasi perlu bekerja sama dengan e-commerce atau marketplace
Abdul Malik • 21 Oct 2021
cover

Ilustrasi perempuan investor yang gembira melihat hasil investasinya di reksadana dan SBN melalui ponsel. Pandemi Covid-19 telah mempercepat transformasi digital industri keuangan dan investasi. (Shutterstock)

Bareksa.com - Pandemi Covid-19 telah mempercepat transformasi digital di segala lini kehidupan, termasuk industri jasa keuangan di Indonesia.

Akselerasi digital tersebut telah mengubah perilaku masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hal bertansaksi keuangan dan berinvestasi.

Sebelum pandemi, transaksi keuangan secara offline (tatap muka secara fisik) masih dianggap sebagai pilihan utama. Namun sejak pandemi, transaksi keuangan secara online menjadi pilihan di tengah pembatasan mobilitas yang ditetapkan oleh pemerintah guna mengatasi pandemi Covid-19.

Tren ini juga terjadi di transaksi pasar modal. Saat ini jumlah investor pasar modal (saham, reksadana, obligasi) naik sangat tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Terutama dengan adanya aplikasi online untuk berinvestasi.

Head of Digital Business Unit PT Syailendra Capital, Bachtiar Arief Nugroho, mengatakan tren ini pula yang membuat banyak platform investasi digital berlomba menjadi super apps. Aplikasi tersebut menyediakan seluruh kebutuhan investasi yang diperlukan oleh masyarakat terutama kaum milenial.

"Kita tahu banyak yang berlomba-lomba menjadi super apps. Ya kalau bisa kebutuhan semua orang itu ada di satu aplikasi. Tinggal satu kali klik, orang bisa berinvestasi, berbelanja, menabung, membeli asuransi dan sebaginya," ujarnya dilansir CNBC Indonesia (21/10).

Namun, ia menyebutkan, menjadi super apps itu tidak mudah dan tidak bisa cepat. Karena itu, salah satu cara untuk menjadi super apps adalah platform investasi perlu bekerja sama dengan e-commerce atau marketplace.

"Jadi menurut saya perlu dan itu harus (kolaborasi dengan marketplace). Kolaborasi akan mempercepat agar aplikasi bisa memenuhi semua kebutuhannya. Misalnya Tokopedia, dia ada produk kita di sana. Kalau nggak ada kolaborasi user Tokopedia tidak bisa berinvestasi. Sekarang user Tokopedia bisa berinvestasi di kita hanya dalam satu aplikasi itu saja," jelasnya.

"Di Indonesia perkembangan platform online cepat sekali dan ini potensi bagi kami saling kolaborasi dan saling membuat aplikasi yang lebih terintegrasi untuk memberikan solusi dan layanan kepada masyaraat dan lebih komperehensif," imbuhnya.

Selain kolaborasi ia menjelaskan ada cara mudah dan cepat juga untuk menjadi super apps, yakni merger hingga akuisisi marketplace atau e-commerce yang memiliki banyak pengguna.

"Cara lainnya ada akuisisi dan merger. Ini juga banyak dilakukan di luar negeri. Tapi yang paling sering adalah kolaborasi," kata dia.

​Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat, jumlah investor pasar modal mencapai 6,43 juta orang pada September 2021. Jumlah ini meningkat 65,73 persen dibandingkan akhir 2020 yang mencapai 3,88 juta orang.

Investor reksadana mendominasi jumlah investor pasar modal, yakni sebanyak 5,78 juta orang atau meningkat 82,18 persen dari akhir 2020. Investor saham mencapai 2,9 juta orang dan investor surat berharga negara (SBN) mencapai 571,79 ribu. Investor saham dan SBN masing-masing meningkat 71,58 persen dan 24,2 persen dari akhir 2020.

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.