Penerbitan Produk Baru Reksadana Pasar Uang dan Pendapatan Tetap Marak

Ada 11 produk reksadana baru meluncur sepanjang Mei hingga Jumat (21/5/2021)
Abdul Malik • 25 May 2021
cover

Ilustrasi investor menghitung dengan kalkulator uang lembaran rupiah Rp100.000 hasil penghematan untuk investasi reksadana. (shutterstock)

Bareksa.com - Penerbitan produk baru reksadana pada tahun ini dinilai berpotensi menurun. Meski begitu, ada penilaian selama dana kelolaan industri reksadana tetap naik dari produk reksadana yang lama, kondisi itu juga menandakan industri reksadana masih membukukan kinerja positif.

Head of Investment Research Infovesta Utama, Wawan Hendrayana mengatakan saat ini peluncuran reksadana baru berjenis reksadana pasar uang dan rekadana pendapatan tetap akan lebih banyak dibanding reksadana jenis lain. Sebab minat masyarakat di tengah tekanan ekonomi cenderung beralih ke aset yang risikonya rendah.

Infovesta Utama mencatat ada 11 produk reksadana baru meluncur di sepanjang Mei hingga Jumat (21/5/2021). Wawan memperkirakan penerbitan reksadana baru di tahun ini lebih rendah dibandingkan penerbitan di tahun lalu. Tapi, ia menjelaskan penerbitan reksadana baru yang menurun tidak sama dengan minat investor di industri reksadana menurun.

"Selama dana kelolaan industri reksadana tetap naik dari produk reksadana yang lama itu juga menandakan industri ini masih positif," kata Wawan dilansir Kontan (24/5/2021).

Menurut dia, justru menjadi risiko bagi para manajer investasi jika menerbitkan reksadana baru tetapi dana kelolaan tidak tumbuh sesuai target.

Pertimbangan Kebutuhan Investor

Direktur Avrist Asset Management, Tubagus Farash Akbar Farich mengatakan dalam menerbitkan produk reksadana baru di tahun ini faktor yang dipertimbangkan adalah kebutuhan investor.

Menurut dia, di tengah masih banyaknya likuiditas di pasar keuangan, permintaan terhadap produk jangka pendek seperti reksadana pasar uang menjadi tinggi.

Dia mengatakan kondisi yang dialami investor saat ini juga tengah menghadapi penurunan yield deposito. Kondisi itu mendorong investor mulai mencari reksadana pendapatan tetap yang memiliki imbal hasil lebih tinggi dari reksadana pasar uang.

"Produk reksadana pendapatan tetap durasi pendek seperti ETF Bond yang juga membagikan hasil investasi rutin juga banyak dilihat investor," kata Farash.

Di sisi lain untuk menerbitkan produk reksadana terproteksi baru, Farash menjelaskan ada banyak faktor yang harus diperhitungkan. Faktor itu antara lain yield yang turun, tingkat pajak yang direncanakan pemerintah akan naik, serta risiko kredit yang naik.

"Manajer Investasi (MI) jadi lebih berhati-hati juga mencari underlying asset untuk reksadana terproteksi yang seimbang antara risiko dan potensi imbal hasilnya," kata Farash.

Senada dengan Farash, Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management, Reza Fahmi mengatakan para manajer investasi saat ini cenderung wait and see dalam menerbitkan reksadana terproteksi. Alasannya karena kasus gagal bayar aset reksadana tersebut belakangan ini.

Reza menilai dilihat dari kebutuhan investor, reksadana berbasis obligasi, pasar uang dan syariah peminatnya meningkat saat ini.

(Martina Priyanti/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.