Avrist AM: Investor Pemula Baiknya Investasi di Reksadana Pasif

Berbeda dengan reksadana indeks yang pasif, reksadana aktif punya risiko kinerja berbeda jauh dari pasar
Hanum Kusuma Dewi • 28 Apr 2021
cover

Ilustrasi investasi di reksadana indeks. (Shutterstock)

Bareksa.com - Ingin mulai berinvestasi di reksadana tapi masih bingung memilih reksadana aktif atau reksadana pasif? Apa sebenarnya beda reksadana

 aktif dan reksadana pasif?

Direktur Avrist Asset Management, Tubagus Farash Akbar Farich, menyampaikan untuk investor pemula baiknya mengawali berinvestasi reksadana di reksadana pasif. Adapun reksadana pasif dimaksud reksadana indeks. "Baiknya di reksadana indeks karena pergerakannya mirip pasar," kata Farash kepada Bareksa.

Sebaliknya, ia melanjutkan, kalau reksadana aktif ada risiko kinerja berbeda jauh dari pasar, bisa jauh lebih baik tapi bisa jauh lebih rendah juga.

Farash menjelaskan reksadana indeks adalah reksadana pasif, yang portofolionya sama dengan indeks acuan. "Reksadana aktif adalah reksadana yang portofolio bisa beda dari indeks acuan," lanjut Farash.

Jadi, Bareksa menyimpulkan bagi investor pemula yang masih mengalami kebingungan dalam memilih yang mana reksadana saham terbaik untuk dibeli, cara termudah adalah dengan mengambil reksadana indeks. Kenapa? Karena seluruh saham yang ada dalam reksadana indeks (seperti Indeks MSCI, IDX30, LQ45 dll) merupakan kumpulan dari saham – saham pilihan yang ada di pasar.

Saham pilihan tersebut memiliki kinerja bisnis dan kondisi keuangan yang baik, sehingga bisa masuk ke dalam indeks. Maka, reksadana indeks adalah cara mudah bagi investor pemula untuk mendapatkan investasi yang baik. Namun perlu diingat, reksadana indeks cocok bagi investor dengan profil risiko agresif, serta tujuan investasi jangka panjang.

Strategi reksadana aktif dan reksadana pasif

Seperti halnya berinvestasi dalam instrumen investasi lainnya, investasi di reksadana juga membutuhkan strategi. Maka meski investor pemula, ada baiknya juga memahami mengenai strategi investasi reksadana. Adapun strategi investasi reksadana adalah strategi yang digunakan oleh para manajer investasi (MI) dalam mengelola portofolio investasi reksadananya.

Menilik basis portofolio reksadana bermacam-macam aset yang terdiri dari saham, obligasi, maupun pasar uang, maka kategori strategi reksadana dapat dibagi berdasarkan kriteria-kriteria sebagai berikut:

1. Strategi Investasi Pasif

Pada strategi ini, portofolio investasi reksadana dikelola sangat pasif. Umumnya, reksadana yang masuk kategori ini memungut biaya pengelolaan (management fee) yang rendah dan hanya memberikan tingkat pengembalian yang setara dengan pasar/indeks atau memberikan bunga dan kupon obligasi kepada investor secara periodik.

Jenis reksadana yang masuk kategori ini antara lain ETF (Exchange Traded Fund) baik saham ataupun obligasi, reksadana terproteksi dan reksadana pasar uang. Maka, bagi investor yang percaya bahwa dalam jangka panjang reksadana akan susah mengalahkan return pasar (baik saham ataupun obligasi), ataupun investor konservatif yang ingin reksadana dengan tingkat imbal hasil (return) yang lebih pasti, maka reksadana kategori ini bisa menjadi salah satu pertimbangan.

Di sisi lain, keberhasilan dari pengelolaan suatu reksadana indeks adalah jika kinerja reksadana tersebut sama persis dengan kinerja indeks yang digunakan. Umumnya, tidak pernah terjadi karena ada biaya-biaya yang harus dibayar oleh reksadana tersebut yaitu biaya manajemen untuk manajer investasi, biaya bank kustodian, dan biaya transaksi jual beli saham atau obligasi.

Jadi, ukuran keberhasilan yang sering digunakan adalah seberapa kecil perbedaan antara kinerja suatu reksadana indeks dengan kinerja indeks itu sendiri yang dikenal dengan istilah standard error (SE) atau tracking error. Nah, besaran SE yang digunakan dalam suatu reksadana indeks umumnya adalah 1 persen. Artinya, manajer investasi akan berusaha keras agar kinerja reksadananya perbedaan maksimumnya hanya 1 persen lebih tinggi atau lebih rendah dari indeks yang digunakan.

2. Strategi Investasi Aktif

Sementara itu, pada strategi ini, manajer investasi secara aktif mengelola portofolio investasi reksadana dan berusaha memberikan tingkat imbal hasil di atas tingkat pasar.

Hampir sebagian besar dari reksadana yang ada saat ini bisa dikategorikan sebagai reksadana dengan strategi investasi aktif.  Strategi yang digunakan untuk memberikan imbal hasil yang mengalahkan tingkat return pasar berbeda-beda.

Berdasarkan portofolio investasinya yaitu saham dan obligasi, strategi aktif yang digunakan dapat dibagi menjadi growth investing dan value investing.

Kedua strategi aktif dimaksud merupakan strategi investasi yang sangat dikenal dalam teori investasi dan juga dipraktikkan oleh investor-investor legendaris seperti Warren Buffet dan Benjamin Graham.

Adapun growth investing adalah strategi investasi yang dalam pemilihan saham didasarkan pada perusahaan dengan tingkat pertumbuhannya di atas rata-rata. Makanya, meskipun secara valuasi bisa saja harga saham tersebut sudah dikategorikan relatif mahal. Saham yang masuk dalam kategori ini disebut growth stock.

Sementara itu berlawanan dengan growth investing, value investing adalah strategi investasi di mana pemilihan saham didasarkan pada perusahaan yang fundamentalnya baik, memiliki prospek dan model bisnis yang jelas, serta secara valuasi relatif lebih murah dibandingkan dengan saham secara umum. Saham yang masuk dalam kategori ini disebut value stock.

Bagaimana, sudah mantap untuk berinvestasi dalam reksadana jenis apa? Apapun jenis reksadana yang dipilih, pastikan sesuai dengan profil keuangan Anda ya.

(Martina Priyanti/hm)

* * * 

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini

- Beli reksadana, klik tautan ini

- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store

- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore

- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER​

Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.