Terus Tumbuh, Reksadana Indeks Bisa jadi Pilihan Diversifikasi Investasi

Potensi return jangka panjang reksadana indeks masih paling tinggi dibandingkan reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap
Hanum Kusuma Dewi • 21 Apr 2021
cover

Ilustrasi investasi di reksadana indeks. (Shutterstock)

Bareksa.com - Reksadana indeks menorehkan kinerja bagus, baik dari sisi dana kelolaan maupun unit penyertaan pada bulan lalu. Pertumbuhan dana kelolaan yang seiring dengan naiknya jumlah unit penyertaan, menggambarkan kepercayaan investor untuk berinvestasi di reksadana indeks terus meningkat.

Laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market - Monthly Report March 2021 yang mengolah data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan pada bulan lalu, dana kelolaan reksadana indeks tumbuh 6,11 persen sepanjang tahun berjalan atau secara year to date (YtD) menjadi Rp10 triliun. Di sisi lain, unit penyertaan reksadana indeks tumbuh 11,01 persen menjadi 10,9 miliar unit secara YtD.

Sumber: Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market - Monthly Report March 2021

Sementara itu, Tubagus Farash Akbar Farich, Direktur Avrist Asset Management menyampaikan reksadana indeks bisa jadi salah satu pilihan bagi investor yang tengah mencari instrumen investasi termasuk untuk diversifikasi investasi.

"Usia berinvestasi semakin panjang karena dimulai lebih cepat. Oleh karena itu, kebutuhan akan instrumen jangka panjang juga bertambah, salah satunya reksadana indeks saham," kata Farash kepada Bareksa.

Terlebih, ia melanjutkan dari potensi return jangka panjang reksadana indeks masih paling tinggi dibandingkan reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap.

Kelebihan Reksadana Indeks

Dibandingkan reksadana saham yang dikelola aktif, Bareksa mencatat reksadana indeks punya beberapa keunggulan, antara lain :

1. Investasi Terjangkau

Bila seorang investor ingin melakukan diversifikasi tetapi punya dana yang terbatas, reksadana indeks bisa jadi pilihan. Dengan membeli reksadana indeks, misalnya Reksa Dana Indeks Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund, otomatis kita seperti membeli 22 saham yang ada dalam indeks itu dengan minimal pembelian mulai dari Rp50.000. Sedangkan, tanpa reksadana indeks, kita harus mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk melakukan diversifikasi ke 22 saham tersebut.

2. Risiko Terdiversifikasi

Seperti dijelaskan sebelumnya, reksadana indeks meniru kinerja indeks acuannya. Contoh, indeks saham yang ditiru adalah LQ-45 atau saham dengan likuiditas tinggi dan kapitalisasi besar. Saham-saham dalam indeks ini sudah diseleksi sebelum masuk indeks acuan sehingga risikonya juga lebih kecil dibandingkan dengan investasi di saham-saham lainnya. 

3. Biaya Pengelolaan (Management Fee) Lebih Murah

Reksadana Indeks dikelola secara pasif, sehingga manajer investasi tidak banyak melakukan transaksi jual beli (trading) saham dalam pengelolaan portofolionya. Akibatnya, ini membuat biaya pengelolaan (expense ratio) dari reksadana indeks lebih kecil dari reksadana yang dikelola secara aktif.

Jadi, daripada dikelola secara aktif, pendekatan dari reksadana indeks adalah secara pasif dengan menyusun portofolio investasi menyerupai indeks acuannya. Karena komposisinya mirip atau bahkan persis dengan indeks acuan, maka hasilnya juga tentunya akan mirip dengan indeks acuannya. Cara ini dikenal pula dengan strategi manajemen pasif (passive management strategy).

Pengelolaan secara pasif menghasilkan efisiensi biaya karena manajer investasi tidak memerlukan tenaga analis yang banyak untuk menganalisis saham atau obligasi sebuah perusahaan. Kemudian biaya transaksi juga menjadi lebih kecil karena manajer investasi tidak melakukan trading jual beli secara aktif. Karena itu, biaya reksadana indeks umumnya lebih kecil dibandingkan reksadana konvensional.

(Martina Priyanti/hm)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.