Manulife AM : Masih Ragu Investasi di Reksadana Saham? Simak Ulasan Ini

Pergerakan pasar dapat dilihat dari dua sisi, sebagai penghalang atau peluang
Abdul Malik • 11 Feb 2021
cover

Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghijau. (Shutterstock)

Bareksa.com - Ingin melakukan diversifikasi investasi ke reksadana saham tapi masih ragu? Jika iya, simak penjelasan Freddy Tedja, Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) berikut. 

Freddy mengatakan 2021 merupakan tahun pemulihan. Menurutnya sejak kuartal keempat 2020, mulai terjadi perbaikan ekonomi global secara gradual, ditopang oleh pertumbuhan di negara-negara berkembang di kawasan Asia.

Pemulihan ekonomi dan perdagangan yang terjadi tahun ini, akan ditopang oleh ketersediaan vaksin dan normalisasi aktivitas ekonomi. Selain itu, kebijakan yang akomodatif juga akan berperan penting seperti suku bunga rendah, quantitative easing, dan stimulus fiskal yang masih akan berlanjut di tahun ini.

"Potensi unggulnya perekonomian negara-negara berkembang membuat arus dana mengalir ke Asia termasuk juga Indonesia, yang menawarkan potensi kinerja menarik. Pergeseran sentimen ke negara berkembang juga akan didorong rendahnya porsi kepemilikan asing di negara berkembang," ujar Freddy dalam keterangannya (11/2/2021).

Volatilitas Tetap Ada

Freddy mengatakan volatilitas masih akan tetap terjadi pada tahun ini. Dinamika dan sentimen pasar, baik yang positif maupun negatif, akan selalu ada. Contohnya setelah meroket tajam di bulan Desember 2020, pada Januari lalu IHSG justru ditutup melemah 1,95 persen hingga menyentuh level 5.862,35. 

Dia mengatakan pergerakan pasar dapat dilihat dari dua sisi, sebagai penghalang atau peluang. Sebagai investor, kita harus melihat fundamental jangka menengah panjang, bukan hanya dinamika jangka pendek.

"Mari kita fokus pada fakta-fakta dan katalis yang ada, setidaknya untuk kuartal pertama tahun ini," ungkap Freddy.

Pertama, valuasi pasar saham Indonesia masih relatif murah dibandingkan kawasan lain seperti Filipina atau Thailand. 

Kedua, kepemilikan asing di pasar saham Indonesia masih berada di salah satu level yang terendah sejak 2013.

Ketiga, pemulihan pertumbuhan ekonomi mendorong pertumbuhan earnings perusahaan-perusahaan di Indonesia.

Reksadana saham

Menurut Freddy, tahun pemulihan ini sangat baik untuk dimanfaatkan oleh para investor yang ingin melakukan diversifikasi investasi ke reksadana saham. Walau IHSG di bulan Januari ditutup melemah minus 1,95 persen, namun bursa saham di bulan Februari sudah kembali bangkit.

Ia mencatat, jika dihitung sejak awal tahun 2021 hingga 9 Februari 2021, IHSG telah bergerak naik positif 3,39 persen ke level 6.181,67.

Walaupun sekarang saat yang baik untuk memanfaatkan peluang di tahun pemulihan, namun profil risiko investor dan horizon investasi menjadi kunci dalam menentukan pilihan kelas aset dalam investasi. Reksadana saham cocok bagi investor dengan profil risiko agresif dengan horizon investasi jangka panjang. 

Freddy mengatakan prinsip kehati-hatian dalam menentukan pilihan produk investasi dan perusahaan manajer investasi (MI) yang akan mengelola dana akan sangat menentukan hasil yang akan Anda nikmati di masa depan kelak.

(Martina Priyanti/AM)

​***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.