IHSG Diprediksi Melemah, Kinerja Reksadana Saham Syariah Ini Masih Positif

Adalah reksadana saham Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS yang membukukan kinerja positif setahun terakhir
Bareksa • 07 Sep 2020
cover

Ilustrasi sejumlah investor analis pasar modal sedang berdiskusi melakukan analisis kinerja investasi reksadana saham obligasi surat berharga negara dengan melihat data di komputer laptop dan kertas bergambar grafik sambil menulis catatan dengan pulpen.

Bareksa.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan ini diperkirakan akan bergerak melemah dipengaruhi oleh berbagai sentimen negatif. Pelemahan IHSG ini bisa menyebabkan penurunan pada imbal hasil reksa dana saham dalam jangka pendek.

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee menjelaskan pada pekan ini, IHSG dipengaruhi oleh aksi jual investor terhadap saham teknologi akibat kekhawatiran valuasi yang terlalu tinggi. Hal ini menyebabkan koreksi pada saham teknologi dan bisa membuat indeks saham tertekan turun.

"Kami melihat saham teknologi sudah naik terlalu banyak akibat harapan perolehan keuntungan di masa pandemi. Peluang koreksi saham teknologi masih mungkin berlanjut," ujar dia di Jakarta akhir pekan lalu.

Selain aksi jual saham teknologi, sentimen lain yang mempengaruhi IHSG adalah data pekerjaan dari non-farm payrolls Amerika Serikat yang menunjukkan perbaikan. Departemen Tenaga Kerja menunjukkan tingkat pengangguran bulan Agustus membaik menjadi 8,4 persen dari 10,2 persen pada bulan Juli.

Namun di sisi lain, negosiasi paket stimulus fiskal di Amerika Serikat belum menemukan titik temu terkait besaran paket yang akan diberikan. Apabila negosiasi mengenai stimulus ini berlarut, maka bisa menjadi sentimen negatif di pasar keuangan.

"Sebaliknya, apabila terjadi kesepakatan maka akan menjadi sentimen positif untuk mendorong pasar keuangan," ungkap dia.

Hal lain yang juga akan diperhatikan investor adalah pernyataan Chairman The Fed Jerome Powell yang menegaskan akan mempertahankan tingkat bunga rendah akibat adanya pandemi Covid-19. Kebijakan suku bunga rendah ini dinilai tepat karena perekonomian saat ini memang membutuhkan suku bunga rendah untuk mendukung aktivitas ekonomi dalam waktu panjang.

Sementara dari dalam negeri, Hans menyebutkan data kasus Covid-19 terus meningkat, baik dari sisi total kasus, kasus baru, kasus aktif dan juga total kematian. Meningkatnya data kasus ini bisa menekan perekonomian, meski terjadi pula peningkatan pada jumlah pasien yang sembuh.

"Pandemi Covid-19 telah memukul daya beli masyarakat sehingga permintaan barang dan jasa turun. Hal ini berdampak pada penurunan konsumsi masyarakat sehingga pertumbuhan ekonomi di kuartal III 2020 akan kembali negatif, dan belanja pemerintah dinilai paling ampuh untuk membawa ekonomi keluar dari resesi pada kuartal IV-2020," kata dia.

Di sisi lain, rumor akan adanya amandemen Undang-undang tentang Bank Indonesia menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan. Bank Indonesia terancam tidak independen karena akan berada di bawah Dewan Moneter yang dikepalai oleh Menteri Keuangan.

Ditambah pula, adanya rumor mengenai tidak akan adanya pengawasan terintegrasi di sektor keuangan yang semakin menambah ketidakpastian pasar.

"Memang belum dapat dipastikan kabar ini tetapi menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan dan membuat pelaku pasar menjadi berhati-hati," kata dia.

Dengan berdasarkan pada sentimen tersebut, pasar saham masih berpeluang melemah. IHSG pekan ini diperkirakan akan bergerak di level support 5.188-sampai 5.059 dan resistance di level 5.337 sampai 5.381.

Berdasarkan data Bareksa, dari 74 produk reksadana saham yang ada di Bareksa, hampir seluruhnya menunjukkan imbal hasil negatif untuk tenor satu tahun. Hanya reksadana saham, Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS yang masih membukukan imbal hasil 8,83 persen untuk tenor satu tahun.

Adapun reksadana saham ini merupakan produk yang diterbitkan oleh PT Manulife Aset Manajemen Indonesia pada Februari 2016. Produk ini memiliki dana kelolaan investasi (asset under management/AUM) sebesar US$ 253 juta. Untuk tenor satu tahun, produk ini memiliki return 8,83 persen dan sebulan terakhir 1,29 persen (per 4 September 2020).

Rahasia dari produk ini tetap membukukan imbal hasil positif di tengah pelemahan IHSG adalah kebijakan investasinya yang hampir seluruhnya ditempatkan di saham pada Juli 2020. Adapun portofolio Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS adalah di saham Alibaba Group Holding Ltd, BHP Group Ltd, JD.com Inc, Samsung Electronics Co Ltd Common Stock dan Taiwan Semiconductor Manufacture.

NAV Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS


Sumber : Bareksa

Sementara itu, meskipun dalam jangka pendek, reksadana saham menunjukkan performa negatif, namun untuk jangka waktu panjang, reksadana saham masih menunjukkan performa yang positif.

Dari 74 reksa dana saham yang ada di Bareksa, sekitar 35 produk masih mencatatkan imbal hasil positif. Bahkan, ada empat produk yang mencatatkan imbal hasil di atas 40 persen dalam jangka 5 tahun terakhirt. Adapun keempat produk tersebut adalah reksadana saham Sucorinvest Equity Fund, Sucorinvest Sharia Equity Fund, Sucorinvest Maxi Fund dan Shinhan Equity Growth.

Reksadana Saham Tenor 5 Tahun


Sumber : Bareksa

Reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Simak ulasan tips untuk memaksimalkan keuntungan berinvestasi di reksadana : Tips Menabung di Reksadana Agar Tujuan Investasi Dapat Tercapai.

(K09/AM)

***

Ingin berinvestasi yang aman di reksadana dan diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.