Top 10 Reksadana Saham Juara Dana Kelolaan Juli, Apa Saja Isi Portofolionya?

8 dari 10 reksadana membukukan kenaikan AUM secara bulanan, namun hanya 1 reksadana mencetak kenaikan dana kelolaan YtD
Bareksa • 25 Aug 2020
cover

Ilustrasi sejumlah investor analis pasar modal sedang berdiskusi melakukan analisis kinerja investasi reksadana saham obligasi surat berharga negara dengan melihat data di komputer laptop dan kertas bergambar grafik sambil menulis dengan pulpen dan menghitung dengan kalkulator

Bareksa.com - Industri reksadana nasional terus melanjutkan tren pemulihannya setelah anjlok dalam terdampak gejolak pasar modal akibat pandemi Covid-19. Berdasarkan laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market - Monthly Report July 2020 yang mengolah data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada Juli 2020 total nilai aktiva bersih (NAB) reksadana naik 4 persen jadi Rp503,3 triliun secara bulanan dibandingkan Juni yang senilai Rp482,5 triliun.

Meski secara bulanan telah berhasil membukukan kenaikan, secara year to date (YtD) asset under management (AUM) reksadana masih minus 7,18 persen pada Juli 2020 dan secara tahunan (YoY) minus 6 persen. Namun persentase penurunannya semakin mengecil jika dibandingkan Juni yang minus 11 persen YtD dan 6 persen YoY. Selain itu, persentase kenaikan dana kelolaan reksadana secara bulanan pada Juli dari Juni, mengencang dibandingkan kenaikan 2 persen secara bulanan pada Juni dari Mei.

Sepanjang tahun ini, level terendah dana kelolaan reksadana dicatatkan pada Maret yang senilai Rp471,4 triliun. Sejak itu dana kelolaan reksadana selalu di bawah level Rp500 triliun hingga pada bulan lalu total NAB berhasil menembus level psikologis di atas Rp500 triliun. Nilai itu menunjukkan industri reksadana nasional telah bangkit dari dampak pandemi Covid-19 dan terus melesat.

Berdasarkan jenisnya, laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market - Monthly Report July 2020 menyebutkan dana kelolaan reksadana saham berhasil tumbuh 3 persen secara bulanan jadi Rp114,5 triliun. Kenaikan ini mengencang dibandingkan Juni 2020 yang hanya naik 2 persen secara bulanan.

Dana kelolaan reksadana saham menyumbang 23 persen terhadap total dana kelolaan industri reksadana nasional.

Sumber : Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market – Monthly Report July 2020

Meski membukukan kenaikan secara bulanan, namun dana kelolaan reksadana saham tercatat masih minus 22 persen secara year to date (YtD) dan negatif 29 persen secara tahunan (YoY) pada Juli 2020. Namun persentase nilai penurunan semakin mengecil dibandingkan Juni 2020 yang minus 24 persen YtD dan negatif 30 persen YoY. 

Penurunan AUM reksadana saham secara YtD seiring dampak pandemi Covid-19 yang mulai menghantam pasar modal sejak awal tahun ini. 

Seiring kenaikan dana kelolaan reksadana saham secara bulanan, apa saja produk reksadana saham yang membukukan dana kelolaan tertinggi bulan lalu, mana saja yang naik dan turun, dan apa saja isi portofolionya?

Top 10 Produk Reksadana Saham AUM Tertinggi Juli 2020


Sumber : Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market – Monthly Report July 2020

Berdasarkan laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market - Monthly Report July 2020, dalam daftar top 10 reksadana saham AUM tertinggi, 8 di antaranya membukukan kenaikan dana kelolaan secara bulanan. Namun secara year to date, mayoritas atau 9 dari 10 reksadana masih mencatatkan penurunan AUM dan hanya 1 reksadana yang membukukan kenaikan.  Ulasannya sebagai berikut :

1. Schroder Dana Prestasi Plus

Reksadana saham kelolaan PT Schroder Investment Management Indonesia, Schroder Dana Prestasi Plus berhasil jadi juara dana kelolaan tertinggi pada Juli 2020 dengan nilai AUM Rp10,49 triliun. Dana kelolaan Schroder Dana Prestasi Plus naik 1 persen secara bulanan namun masih minus 24 persen sepanjang tahun 2020 hingga Juli.


Sumber : Bareksa

Reksadana yang diluncurkan pada September 2020 ini bisa dibeli di Bareksa dengan minimal pembelian awal dan penjualan kembali Rp100.000. Menggandeng bank kustodian Deutsche Bank AG, setahun terakhir reksadana ini membukukan harga nilai aktiva bersih per unit terendah di Rp19.856 dan tertinggi Rp32.824. Per 21 Agustus harga NAB per unit Schroder Dana Prestasi Plus Rp27.252.

Tujuan investasi Schroder Dana Prestasi Plus untuk memperoleh keuntungan dari pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan investasi modal dalam jangka panjang pada saham.

Kebijakan investasi reksadana ini minimum 80 persen dan maksimum 100 persen pada efek bersifat ekuitas, serta maksimum 20 persen pada efek bersifat utang dan/atau instrumen pasar uang.

Top portofolio investasi reksadana ini berdasarkan fund fact sheet Juli 2020 yakni saham PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).

2. Batavia Dana Saham

Juara 2 reksadana saham dengan AUM terbesar ditempati Batavia Dana Saham kelolaan PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen. Reksadana yang diluncurkan pada Desember 1996 ini membukukan dana kelolaan Rp4,58 triliun pada Juli atau mencatatkan penurunan secara bulanan 1 persen dan YtD minus 24 persen.

Menggandeng Deutsche Bank AG sebagai bank kustodian, reksadana ini bisa dibeli di Bareksa dengan minimum pembelian awal dan penjualan kembali hanya Rp100.000.


Sumber : Bareksa

Setahun terakhir harga NAB per unit reksadana ini antara Rp37.277 hingga Rp63.641, dan per 21 Agustus 2020, harga NAB per unit Rp52.594.

Tujuan investasi Batavia Dana Saham ialah untuk mendapatkan kenaikan modal dalam jangka panjang dengan berinvestasi pada saham perusahaan berkapitalisasi pasar besar yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Kebijakan investasinya minimum 80 persen dan maksimum 100 persen pada efek ekuitas, serta maksimum 20 persen pada instrumen pasar uang dan setara kas

Top portofolio investasinya berdasarkan fund fact sheet Juli 2020 yakni saham ASII, BBCA, BMRI, BBRI, PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).

3. Schroder Dana Prestasi

Schroders Indonesia kembali menempatkan produk reksadana sahamnya dalam daftar juara dana kelolaan pada Juli 2020. Schroder Dana Prestasi berada di peringkat 3 dengan dana kelolaan Rp4,06 triliun yang secara bulanan stagnan dan minus 23 persen YtD.


Sumber : Bareksa

Menggandeng Citibank N.A sebagai bank kustodian, reksadana yang dirilis pada Mei 1997 ini bisa dibeli di Bareksa dengan minimum pembelian awal dan penjualan kembali Rp100.000. Harga NAB per unit reksadana ini setahun terakhir antara Rp24.198 hingga Rp39.909 dan per 21 Agustus harga NABnya Rp33.593 per unit.

Tujuan investasi Schroder Dana Prestasi untuk memberikan tingkat pertumbuhan investasi yang menarik dalam jangka panjang. Kebijakan investasinya minimum 80 persen dan maksimum 100 persen ditempatkan pada efek bersifat ekuitas, serta maksimum 20 persen pada instrumen pasar uang.

Top portofolio investasinya per Juli 2020 yakni saham BMRI, BBCA, BBRI, MYOR dan TLKM.

4. Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS

Posisi keempat ditempati reksadana saham syariah kelolaan PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, yakni Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS. Reksadana yang diluncurkan Februari 2016 itu membukukan dana kelolaan US$252,9 juta (sekitar Rp3,7 triliun) per Juli 2020. Reksadana ini bisa dibeli di Bareksa dengan minimal pembelian awal US$10.000 dan penjualan kembali minimal US$100.

Setahun terakhir harga NAB per unit reksadana ini antara US$0,88 hingga US$1,35 dan per 21 Agustus 2020 harga NABnya US$1,29 per unit. Secara bulanan AUM Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS minus 11 persen, namun secara year to date positif 1 naik persen.


Sumber : Bareksa

Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS bertujuan untuk memberikan pertumbuhan investasi jangka panjang dengan berinvestasi pada efek bersifat ekuitas yang sesuai dengan prinsip syariah, yang dijual melalui penawaran umum dan/atau diperdagangkan di bursa efek di wilayah Asia Pasifik

Kebijakan investasinya minimum 80 persen dan maksimum 100 persen pada efek syariah bersifat ekuitas, kemudian minimum 0 persen dan maksimum 20 persen pada efek syariah berpendapatan tetap dan/atau sukuk dan/atau instrumen pasar uang syariah.

Top portofolio investasinya menurut fund fact sheet Juli 2020 yakni saham Alibaba Group Holding Ltd, BHP Group Ltd, JD.com Inc, Samsung Electronics Co Ltd Common Stock, serta Taiwan Semiconductor Manufacturing Company Ltd.

5. Mandiri Saham Atraktif

Reksadana saham kelolaan PT Mandiri Manajemen Investasi, Mandiri Saham Atraktif berada di peringkat 5 dalam daftar reksadana saham AUM terbesar Juli 2020. Reksadana yang diluncurkan pada Oktober 2011 ini mengelola dana Rp3,46 triliun pada bulan lalu. Secara bulanan AUM Mandiri Saham Atraktif naik 5 persen namun secara year to date masih negatif 24 persen.


Sumber : Bareksa

Tujuan investasi Mandiri Saham Atraktif  untuk memberikan tingkat pendapatan investasi yang menarik dalam jangka panjang. Kebijakan investasinya minimum 80 persen dan maksimum 100 persen pada efek bersifat ekuitas, maksimum 20 persen pada obligasi, serta maksimum 20 persen pada instrumen pasar uang.

Sayangnya tidak tersedia informasi mengenai top portofolio terakhir dari reksadana ini.

6. Ashmore Dana Ekuitas Nusantara

Peringkat keenam ditempati Ashmore Dana Ekuitas Nusantara kelolaan PT Ashmore Asset Management Indonesia. AUM reksadana yang diluncurkan pada Februari 2013 itu senilai Rp3,08 triliun per Juli 2020, turun 8 persen secara bulanan dan minus 41 persen secara YtD.


Sumber : Bareksa

Tujuan investasi Ashmore Dana Ekuitas Nusantara untuk memperoleh keuntungan modal dalam jangka panjang melalui investasi pada efek bersifat ekuitas yang telah dijual dalam penawaran umum dan/atau diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia. Kebijakan investasinya minimum 80 persen dan maksimum 100 persen pada efek bersifat ekuitas, serta maksimum 20 persen pada instrumen pasar uang dalam negeri dan/atau efek bersifat utang dan/atau deposito.

Top portofolio investasinya menurut fund fact sheet Juni 2020 yakni saham ASII, BBCA, BMRI, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), BBRI, GGRM, PT H.M. Sampoerna Tbk (HMSP), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), TLKM dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).

7. Eastspring Investments Value Discovery Kelas B

Reksadana saham Eastspring Investments Value Discovery Kelas B kelolaan PT Eastspring Investments Indonesia berada di peringkat 7 dengan dana kelolaan Rp2,54 triliun. Secara bulanan dana kelolaan Eastspring Investments Value Discovery Kelas B stagnan dan secara year to date minus 29 persen. 

Reksadana ini diluncurkan pada September 2019 dan menggandeng Standard Chartered Bank sebagai bank kustodian.


Sumber : Bareksa

Sayangnya belum tersedia informasi detail perihal top portofolio reksadana ini.

8. Ashmore Saham Sejahtera Nusantara

Reksadana saham Ashmore Saham Sejahtera Nusantara yang juga kelolaan Ashmore Asset Management Indonesia berada di peringkat 8 dengan dana kelolaan Rp2,12 triliun pasa Juli 2020. Secara bulanan AUM Ashmore Saham Sejahtera Nusantara naik 7 persen dan secara YtD masih minus 17 persen. Reksadana ini diluncurkan pada September 2017 dan menggandeng The Hongkong And Shanghai Banking Corporation sebagai bank kustodian (HSBC).


Sumber : Bareksa

Reksadana ini juga tidak mencantumkan detail top portofolio terakhir.

9. Manulife Dana Saham Utama

Posisi 9 ada reksadana saham Manulife Dana Saham Utama kelolaan Manulife Aset Manajemen Indonesia dengan AUM Rp2,01 triliun pada Juli 2020. Dana kelolaan Manulife Dana Saham Utama naik 9 persen secara bulanan dan minus 20 persen YtD. Reksadana yang diluncurkan pada November 2015 ini menggandeng Citibank N.A sebagai bank kustodian. 


Sumber : Bareksa

Reksadana ini tidak mencantumkan detail informasi mengenai top portofolionya.

10. Ashmore Dana Progresif Nusantara

Terakhir di posisi 10 ada reksadana saham Ashmore Dana Progresif Nusantara juga kelolaan Ashmore Asset Management Indonesia dengan AUM per Juli 2020 senilai Rp1,88 triliun. AUM Ashmore Dana Progresif Nusantara naik 6 persen secara bulanan, namun masih minus 24 persen YtD. Diluncurkan pada Februari 2013, reksadana ini menggandeng HSBC sebagai bank kustodian.


Sumber : Bareksa

Ashmore Dana Progresif Nusantara memiliki tujuan investasi untuk memperoleh keuntungan modal dalam jangka panjang melalui investasi pada efek bersifat ekuitas yang telah dijual dalam penawaran umum dan/atau diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia, termasuk memanfaatkan peluang untuk berinvestasi ke dalam perusahaan-perusahaan berkapitalisasi kecil.

Kebijakan investasinya 80 persen hingga 100 persen dalam efek yang bersifat ekuitas yang setidaknya 50 persen berinvestasi dalam perusahaan berkapitalisasi kecil, antara 0 hingga 20 persen dalam instrumen pasar uang domestik.

Portofolio investasinya menurut fund fact sheet Juni 2020 yakni saham ASII, BBCA, BMRI, BBRI, GGRM, PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR), PT Surya Citra Media Tbk (SCMA), TLKM, TBIG dan UNVR.

Sebagian isi artikel ini merupakan cuplikan dari laporan bulanan Industri reksadana Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market – Monthly Report July 2020. Untuk berlangganan laporan ini silakan hubungi [email protected] (cc: [email protected]).

***

Ingin berinvestasi yang aman di reksadana dan diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.