BeritaArrow iconReksa DanaArrow iconArtikel

Berita Hari Ini : Buffett Buat Emas Melesat di Atas US$2.000, Harga SBN Bangkit

Bareksa19 Agustus 2020
Tags:
Berita Hari Ini : Buffett Buat Emas Melesat di Atas US$2.000, Harga SBN Bangkit
Ilustrasi foto Warren Buffet (shutterstock)

Reksadana tetap solid meski banyak sentimen negatif, OJK akan diskresi NPF multifinance, S&P catat rekor tertinggi

Bareksa.com - Berikut adalah perkembangan penting di isu ekonomi, pasar modal dan aksi korporasi, yang disarikan dari media dan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Rabu, 18 Agustus 2020 :

Harga Emas

Harga emas dunia menguat pada perdagangan Selasa (18/8/2020), kembali ke atas US$2.000 per troy ons. Dolar Amerika Serikat (AS) yang kembali merosot membuat logam mulia ini kembali bersinar. Dilansir CNBC Indonesia (18/8/2020), pada pukul 19:43 WIB, emas diperdagangkan di kisaran US$ 2.012,1 per troy ons, menguat 1,34 persen di pasar spot melansir data Refinitiv. Kemarin emas juga melesat 2,15 persen.

Promo Terbaru di Bareksa

Sejak ambrol lebih dari 5 persen pada Selasa pekan lalu, emas terus menunjukkan kinerja positif. Dalam 5 hari perdagangan terakhir, termasuk hari ini, emas hanya sekali melemah.

Pada periode yang sama, indeks dolar AS terus mengalami pelemahan. Kemarin indeks yang mengukur kekuatan dolar AS ini melemah 0,59 persen ke 92,319, yang merupakan level terendah sejak Mei 2018. Sementara dalam 5 hari terakhir, indeks ini melemah sekitar 1,4 persen. Saat dolar AS melemah, maka harga emas dunia akan menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga permintaan berpotensi meningkat, dan harganya pun menguat.

Pembahasan stimulus fiskal yang kembali macet di Kongres (Parlemen) AS, menjadi penyebab kembali melemahnya indeks dolar AS. Tanpa stimulus tambahan, pemulihan ekonomi AS tentunya akan berjalan lebih lambat. Kondisi tersebut diperparah dengan menurunnya kondisi sektor manufaktur di New York bulan ini. Hal tersebut tercermin dari empire state manufacturing index yang dirilis 3,7 awal pekan kemarin, menurun drastis dari bulan sebelumnya 17,2.

Indeks ini menggunakan angka 0 sebagai awal, di atasnya berarti pebisnis melihat kondisi usaha manufaktur yang membaik, sebaliknya di bawah 0 artinya kondisi sedang memburuk. Selain itu, investor papan atas Warren Buffet yang membeli saham perusahaan tambang emas membuat investor semakin optimis harga emas akan terus melesat naik. Dampaknya, aksi beli emas pun kembali terjadi.

Data yang dirilis oleh regulator di AS pada hari Jumat pekan lalu menunjukkan perusahaan Warren Buffet, Berkshire Hathaway membeli 20,9 juta lembar saham Barrick Gold, salah satu perusahaan tambang emas terbesar di dunia. "Penurunan tajam harga emas dan pergerakan setelahnya menunjukkan bagaimana sikap spekulatif pelaku pasar terhadap logam mulia," kata Daniel Ghali, ahli strategi komoditas di TD Securities.

Ghali juga menambahkan fakta Warren Buffet kini tertarik ke perusahaan emas membuat selera pelaku pasar terhadap emas semakin meningkat. Artinya kinerja Barrick Gold diramal akan cemerlang oleh Buffet. Kinerja cemerlang tersebut tentunya terkait dengan potensi kenaikan harga emas dunia ke depannya. Para pelaku pasar pun akhirnya kembali memburu emas setelah aksi beli saham Barrick Gold oleh Warren Buffet.

SBN

Harga obligasi pemerintah mulai bangkit, di mana imbal hasil (yield) obligasi pemerintah bertenor 10 tahun yang menjadi acuan pasar mulai melemah, mengindikasikan aksi beli investor. Dilansir CNBC Indonesia (18/8/2020), imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) seri IDFR0082 ini tercatat melemah 0,12 persen ke 6,758 persen pada Selasa (18/8/2020), mengindikasikan harga lagi menguat. Padahal pada akhir pekan lalu, imbal hasil yang sama tercatat menguat. Imbal hasil surat utang berlawanan arah dari harga, sehingga koreksi imbal hasil menunjukkan harga sedang menguat.

Pelaku pasar masih memburu SBN jangka pendek, sehingga obligasi bertenor 5 tahun mencatatkan pelemahan yield 0,44 persen, melanjutkan penurunan yang dibukukan pada Jumat pekan lalu 0,55 persen. Sebaliknya, SBN bertenor ekstra-panjang masih dihindari sehingga harganya tertekan. Imbal hasil SBN tenor 20 tahun menguat 0,08 persen ke 7,399 persen.

Bank Indonesia (BI) melaporkan surplus neraca pembayaran (NPI) periode April-Juli 2020 senilai US$9,2 miliar. Jauh membaik dibandingkan kuartal sebelumnya yang defisit US$8,5 miliar. Transaksi berjalan (current account) masih defisit, tetapi menipis jadi US$2,9 miliar atau 1,2 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sebaliknya neraca perdagangan membagikan kabar buruk dengan anjloknya impor hingga 32,5% menandakan sektor manufaktur yang tak bergeliat. Hal ini memicu aksi beli SBN bertenor panjang karena aset investasi pendapatan tetap ini dinilai masih menjanjikan keuntungan, di tengah ketidakpastian.

Pekan lalu, investor melepas obligasi jangka panjang setelah pidato nota keuangan Presiden Joko Widodo yang mematok suku bunga SBN 10 tahun pada kisaran 7,29 persen d 2021, atau jauh lebih tinggi dari posisi sekarang di level 6,77 persen. Dengan inflasi yang ditargetkan terjaga di 3 persen pada tahun depan, atau sedikit lebih tinggi dari tahun ini yang per Juni baru 1,54 persen, pemodal pun berekspektasi imbal hasil SBN bertenor panjang akan terus meningkat dan harga di pasar sekunder tertekan.

Akibatnya, mereka memilih memburu surat utang jangka pendek, untuk memarkir dananya dan menghindari risiko fluktuasi harga dalam jangka menengah. Obligasi jangka pendek memungkinkan mereka mengambil strategi 'simpan hingga jatuh tempo' (hold to maturity). Namun kini, surat utang jangka pendek maupun panjang diburu, mengindikasikan bahwa investor kian pede dengan kondisi ekonomi ke depan.

Reksadana

Sentimen negatif dari sejumlah kasus yang menyeret industri investasi kolektif dinilai tak memberikan dampak signifikan terhadap jumlah aktivitas investor reksadana. Head of Investment Avrist Asset Management Farash Farich menilai industri reksadana saat ini terpantau cukup solid. Sebab kinerja reksadana tidak mengalami penurunan signifikan dari sisi dana kelolaan maupun unit penyertaan akibat isu-isu yang menggoyang industri reksadana.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, dana kelolaan atau asset under management (AUM) reksadana per 30 Juli 2020 sebesar Rp504 triliun. Setelah tertekan di masa puncak pandemi, jumlah ini terus menunjukkan tren naik kembali menuju posisi awal tahun yakni sebesar Rp542,17 triliun.

Begitu pula dengan jumlah unit penyertaan reksadana yang menunjukkan tren serupa. Per 30 Juli 2020, unit penyertaan tercatat 415,42 miliar unit, sedangkan di awal tahun sebesar 424,79 miliar unit. “Turunnya AUM ini lebih banyak karena harga saham yang belum kembali dari koreksi penuh,” ujarnya dilansir Bisnis (18/8/2020).

Mengacu pada angka tersebut, Farash mengaku masih sangat optimistis dengan pertumbuhan industri reksadana meski ada sentimen yang membayangi. Di sisi lain, dia menilai aktivitas investor juga masih terjaga karena jumlah investor masih terus menunjukkan kenaikan. “Nasabah individu di Avrist sendiri pertumbuhannya sangat pesat. Saat ini sekitar 33.000 nasabah, tahun lalu masih sekitar 3.000an,” ungkapnya.

Meskipun begitu, Farash mengaku tetap memberikan edukasi berkelanjutan bagi para nasabahnya, baik melalui artikel di media sosial maupun bekerja sama dengan agen penjual reksa dana yang terdaftar di Perkumpulan Agen Penjual Efek Reksa Dana Online (Paperdo) juga Asosiasi Penasihat Investasi Indonesia.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan memberikan diskresi pengawasan bagi perusahaan pembiayaan yang mencatatkan tingkat non-performing financing atau NPF di atas 5 persen karena kondisi perekonomian yang sedang mengalami tekanan.

Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) 2B OJK, Bambang W. Budiawan menjelaskan pandemi Covid-19 menyebabkan industri pembiayaan mengalami tekanan besar. Hal tersebut terlihat dari melonjaknya tingkat NPF meskipun sudah terdapat relaksasi kredit.

OJK mencatat NPF industri multifinance pada kuartal II 2020 mecapai 5,17 persen. Angka itu menjadi catatan terbesar dalam lima tahun terakhir, yakni catatan tertinggi sebelumnya terjadi pada Mei 2017 yang berada di angka 3,45 persen.

Menurut Bambang, kondisi itu membuat otoritas akan memberlakukan diskresi bagi perusahaan-perusahaan pembiayaan berdasarkan kinerjanya masing-masing. Namun, OJK tetap akan memberikan penindakan kepada perusahaan yang sudah mengalami kendala sebelum masa pandemi.

"Kami akan lihat case by case. Kalau sebelum Covid-19 [NPF-nya] sudah di atas 5 persen, enforcement berjalan, kalau sebelum Covid-19 di bawah 5 persen lalu menjadi di atas itu, ada diskresi pengawasan," ujar Bambang dilansir Bisnis (18/8/2020).

Berdasarkan Peraturan OJK (POJK) 35/2018 tentang Penyelenggaraan Perusahaan Pembiayaan, perusahaan multifinance diwajibkan menjaga NPF di bawah 5 persen. Catatan NPF industri yang berada di atas 5 persen menunjukkan bahwa terdapat sejumlah perusahaan yang sudah melebihi batas maksimal dari otoritas.

Rasio NPF merupakan proporsi kualitas aset piutang pembiayaan kategori macet dan diragukan terhadap total piutang pembiayaan. Adapun, kualitas kredit sendiri dibagi menjadi lima kategori, yakni lancar, dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan, dan macet.

Menurut Bambang, kenaikan NPF terjadi karena jumlah penyaluran pembiayaan terus mengalami penurunan semenjak masa pandemi Covid-19. Volume penyaluran pembiayaan yang menjadi pembagi dalam perhitungan NPF membuat hasil akhirnya pun meningkat.

Dia menyatakan bahwa saat ini industri pembiayaan menghadapi masalah dalam menggerakkan penjualan piutang meskipun dalam jumlah minimum. Industri pun dituntut untuk selalu menjaga arus kas seiring besarnya jumlah restrukturisasi yang diberikan kepada debitur.

"Tantangan terjadi salah satunya karena penjualan otomotif roda dua dan roda empat, sebagai mesin utama pertumbuhan piutang perusahaan pembiayaan, menurun tajam dan sektor produksinya pun menurunkan kapasitasnya," ujar Bambang.

Indeks S&P 500

Indeks S&P 500 ditutup pada rekor tertinggi perdagangan Selasa (18/8), rebound dari penurunan besar yang dipicu oleh pandemi virus corona dan menjadi salah satu pemulihan paling dramatis dalam sejarah indeks. Dilansir Kontan, indeks Dow Jones Industrial Average turun 66,84 poin atau 0,24 persen menjadi 27.778,07, S&P 500 naik 7,79 poin, atau 0,23 persen menjadi 3.389,78, dan Nasdaq Composite bertambah 81,12 poin, atau 0,73 persen, menjadi 11.210,84.

Asal tahu saja, triliunan dolar AS dalam stimulus fiskal dan moneter telah membuat Wall Street dibanjiri uang tunai, mendorong investor yang mencari imbal hasil ke dalam pasar saham. Amazon dan saham terkait teknologi yang mengalami pertumbuhan tinggi telah dipandang paling dapat diandalkan untuk mengatasi krisis. Catatan S&P menegaskan, menurut definisi yang diterima secara luas, bahwa indeks Wall Street yang paling dekat diikuti memasuki pasar bullish setelah mencapai titik terendah pandemi pada 23 Maret. Indeks telah melonjak sekitar 55 persen sejak itu.

Membuat bull market yang dimulai pada akhir Februari menjadi S&P 500 terpendek dalam sejarahnya. Sejak penutupan terendah 23 Maret, S&P membukukan kenaikan terbesar dalam periode 103 hari dalam 87 tahun, menurut data Refinitiv. Keraguan tentang kesehatan ekonomi yang mendasarinya, bagaimanapun, bertahan di sesi Selasa, dengan reaksi hangat terhadap hasil besar dari Home Depot dan Walmart membatasi kenaikan.

S&P 500 bermain-main dekat level tertinggi sepanjang masa untuk beberapa sesi sebelum dan akhirnya mencapai rekor baru, menimbulkan pertanyaan tentang apakah kenaikan ini bisa bertahan."S&P 500 sangat mengesankan dan telah menciptakan banyak keuntungan, tetapi saya tidak yakin itu mencerminkan kesehatan ekonomi secara keseluruhan," kata Patrick Leary, kepala strategi pasar di Incapital.

"Reli lebih berkaitan dengan inflasi aset, yang didorong oleh semua likuiditas dan semua dukungan berkelanjutan dalam perekonomian serta melemahnya dolar," tambahnya. Saham Amazon, yang naik 4,1 persen, adalah pemenang terbesar di S&P 500. Sementara itu, Nasdaq mencatat rekor penutupan tertinggi ke-18 sejak awal Juni, ketika mengonfirmasi pemulihannya dari aksi jual virus corona.

Rekor hari Selasa adalah rekor penutupan ke-34 sepanjang tahun ini dibandingkan dengan 31 rekor penutupan tertinggi pada 2019 dan 29 pada 2018. Home Depot Inc melaporkan kenaikan terbesar dalam penjualan kuartalan toko yang sama dalam setidaknya dua dekade, namun, sahamnya turun 1,1 persen menjadi US$285 setelah analis memperingatkan bahwa penjualannya mungkin telah mencapai titik puncaknya. Saham Walmart Inc merosot 0,9 persen meskipun membukukan pertumbuhan kuartalan terbesar dalam penjualan online.

(*)

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Trimegah Dana Tetap Syariah

1.330,84

Up0,38%
Up3,77%
Up0,04%
Up4,57%
Up18,78%
-

Capital Fixed Income Fund

1.784,99

Up0,56%
Up3,37%
Up0,03%
Up6,90%
Up17,11%
Up42,50%

I-Hajj Syariah Fund

4.849,34

Up0,58%
Up3,16%
Up0,03%
Up6,14%
Up21,95%
Up40,60%

Reksa Dana Syariah Syailendra OVO Bareksa Tunai Likuid

1.144,14

Up0,34%
Up2,74%
Up0,03%
Up4,96%
Up14,32%
-

STAR Stable Amanah Sukuk

Produk baru

1.043,45

Up0,53%
Up3,65%
Up0,03%
---

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua