IHSG Catat Kinerja Terbaik di Kawasan, Reksadana Campuran Ini Terbang

Indeks reksadana campuran naik 1,4 persen dan indeks reksadana campuran syariah bertambah 1,3 persen
Bareksa • 09 Dec 2019
cover

Karyawan beraktivitas di dekat grafik pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (2/8/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 41.36 poin atau 0,65 persen ke level 6,340.18. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj.

Bareksa.com - Mengakhiri pekan pertama di bulan Desember 2019, kinerja pasar saham Indonesia terlihat sangat positif,di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu menguat 2,91 persen secara mingguan ke level 6.186,87 pada penutupan perdagangan Jumat (06/12/2019).

Penguatan IHSG dalam pekan kemarin menjadikannya bursa saham dengan kinerja terbaik di kawasan regional.

Dari eksternal, perkembangan terkait perang dagang Amreika Serikat (AS) dengan China yang positif menjadi faktor yang memantik aksi beli di bursa saham Benua Kuning. Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa sesuatu bisa terjadi terkait dengan bea masuk tambahan yang dibebankan Washington terhadap produk impor asal China.

Seperti yang dketahui, penghapusan bea masuk tambahan merupakan syarat dari China jika AS ingin meneken kesepakatan dagang tahap satu.

Sejauh ini AS telah mengenakan bea masuk tambahan bagi senilai lebih dari US$500 miliar produk impor asal China, sementara Beijing membalas dengan mengenakan bea masuk tambahan bagi produk impor asal AS senilai kurang lebih US$110 miliar.

Di sisi lain, China juga melunak terhadap AS. Kementerian Keuangan China mengumumkan Beijing akan menghapuskan bea masuk bagi sebagian kedelai dan daging babi yang diimpor dari AS, seperti dikutip dari CNBC International.

Dari dalam negeri, desember effect bisa dikatakan langsung terasa. Ya, jika berkaca kepada sejarah, bulan Desember memang merupakan bulan yang bersahabat bagi pelaku pasar saham tanah air. Bahkan, bulan Desember bisa dikatakan sebagai bulan yang paling bersahabat jika dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.

Tercatat, dalam 18 tahun terakhir (2001-2018) tak sekalipun IHSG membukukan imbal hasil negatif secara bulanan pada bulan Desember. Capaian sebaik ini tak bisa didapati pada bulan-bulan lainnya.

Kondisi bursa saham domestik yang bergerak ke zona hijau, turut memberikan sentimen positif terhadap kinerja reksadana campuran, di mana indeks reksadana campuran naik 1,4 persen dan indeks reksadana campuran syariah bertambah 1,3 persen dalam periode yang sama.


Sumber: Bareksa

Di tengah kondisi indeks reksadana campuran yang bergerak positif, tercatat ada dua produk reksadana campuran yang dijual Bareksa mampu membukukan kenaikan fantastis dengan return di atas 4 persen sepanjang pekan lalu. Berikut ulasannya.

1. Semesta Dana Maxima

Reksadana campuran yang mencatatkan imbal hasil tertinggi pada pekan lalu diraih oleh Semesta Dana Maximadengan kenaikan 4,45 persen.


Sumber: Bareksa

Semesta Dana Maxima bertujuan untuk memperoleh hasil investasi yang optimal dengan memanfaatkan seluruh instrumen investasi di pasar modal yaitu surat utang maupun efek ekuitas dan instrumen investasi di pasar uang.

Produk yang dikelola oleh PT Semesta Aset Manajemen ini, hingga Oktober 2019 memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) senilai Rp24,44 miliar.

Arah kebijakan investasinya yaitu :

• Minimum 5 persen dan maksimum 75 persen pada efek utang,
• Minimum 5 persen dan maksimum 75 persen pada efek bersifat ekuitas
• Minimum 5 persen dan maksimum 75 persen pada instrumen pasar uang.

Mengutip fund fact sheet per Agustus 2019, beberapa aset yang terdapat dalam portofolio Semesta Dana Maxima antara lain :

• PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI)
• PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM)
• PT Astra International Tbk (ASII)
• PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP)
• PT H.M. Sampoerna Tbk (HMSP)

Semesta Dana Maxima dapat dibeli di Bareksa dengan minimal pembelian awal Rp100.000. Reksadana saham yang diluncurkan sejak 8 Oktober 2004 ini bekerja sama dengan bank kustodian PT Bank Danamon Indonesia Tbk.

2. HPAM Flexi Plus

Reksadana campuran yang mencatatkan imbal hasil tertinggi berikutnya pada pekan lalu diraih oleh HPAM Flexi Plus dengan kenaikan 4,29 persen.


Sumber: Bareksa

HPAM Flexi Plus bertujuan untuk memperoleh pertumbuhan nilai investasi yang optimal dalam jangka panjang dengan melakukan investasi ke dalam instrumen investasi secara aktif pada efek saham yang telah dijual dalam penawaran umum dan/atau dicatatkan di Bursa Efek dan/atau efek bersifat utang dan/atau instrumen pasar uang dan/atau kas dan setara kas.

Produk yang dikelola oleh PT Henan Putihrai Asset Management ini, hingga Oktober 2019 memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) senilai Rp107,92 miliar.

Arah kebijakan investasinya yaitu :

• Minimum 2 persen dan maksimum 79 persen pada efek bersifat ekuitas
• Minimum 2 persen dan maksimum 79 persen pada efek bersifat utang
• Minimum 2 persen dan maksumum 79 persen pada instrumen pasar uang yang berjangka waktu kurang dari 1 tahun serta kas dan setara kas

Mengutip fund fact sheet per Oktober 2019, beberapa aset yang terdapat dalam portofolio HPAM Flexi Plus antara lain :

• PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA)
• PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA)
• PT AKR Corporindo Tbk (AKRA)
• PT Bank Permata Tbk (BNLI)
• PT Bukit Asam Tbk (PTBA)

HPAM Flexi Plus dapat dibeli di Bareksa dengan minimal pembelian awal Rp1.000.000. Reksadana saham yang diluncurkan sejak 18 Juli 2011 ini bekerja sama dengan bank kustodian PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Reksadana ialah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Reksadana campuran adalah reksadana yang melakukan investasi pada efek bersifat ekuitas, efek bersifat utang, dan/atau instrumen pasar uang dalam negeri yang masing-masing paling banyak 79 persen (tujuh puluh sembilan persen) dari nilai aktiva bersih, di mana dalam portofolio reksadana tersebut wajib terdapat efek bersifat ekuitas dan efek bersifat utang. Jenis Reksadana ini cocok untuk investasi dengan jangka waktu 3 - 5 tahun dan/atau cocok untuk investor dengan profil risiko moderat.

(KA01/AM)

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.