Pasar Obligasi Tertekan, Return 8 Reksadana Pendapatan Tetap Ini Tumbuh

Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun mengalami pelemahan menjadi 7,22 persen
Bareksa • 29 Jul 2019
cover

Ilustrasi investasi reksadana pendapatan tetap fixed income fund obligasi korporasi surat utang negara surat berharga yang disimbolkan dengan keyboard dan kunci

Bareksa.com - Sepanjang pekan kemarin kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak cenderung melemah. Pada penutupan perdagangan Jumat (26/7/2019), bursa saham utama Indonesia terkoreksi hingga 1,19 persen, paling dalam di antara bursa saham utama Benua Asia. Alhasil dalam sepekan mencatatkan koreksi hingga 2,03 persen dan saat ini berada di bawah level psikologis 6.400 dengan ditutup di 6.325,24.

Selain itu, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun yang dijadikan acuan atau benchmark juga turut mengalami pelemahan, dari 7,18 persen pada 26 Juli, dan kini berangsur-angsur melemah menjadi 7,22 persen saat ini.

Sentimen Negatif Datang dari Eropa

Penyebab dari lesunya pergerakan indeks saham Benua Asia secara umum disebabkan oleh Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) yang menahan suku bunga acuan karena tidak ada risiko signifikan perihal resesi di kawasan Uni Eropa.

ECB mengumumkan main refinancing rate, lending facility rate, dan deposit facility rate dipertahankan masing-masing di level 0 persen, 0,25 persen dan -0,4 persen.

Para analis menganggap dengan ECB yang tidak terlalu dovish dalam kebijakan moneternya, maka besar kemungkinan Bank Sentral AS/The Fed akan menunjukkan pola yang sama.

Meski begitu, Berdasarkan reksadana pendapatan tetap yang dijual Bareksa, terdapaat 8 reksadana pendapatan tetap yang berhasil mencatatkan kenaikan positif dibandingkan seluruh produk reksadana pendapatan tetap yang lain.

Reksadana Pendapatan Tetap yang Positif di Saat Benchmarknya Melemah


Sumber : Bareksa.com

Terdapat 8 reksadana pendapatan tetap yang membukukan kinerja positif di pekan lalu, dengan rata-rata kenaikan 0,12 persen pada perdagangan sepekan kemarin, di saat pasar obligasi cenderung tertekan

Secara umum, reksadana pendapatan tetap bertujuan untuk memperoleh tingkat pertumbuhan investasi yang stabil dan tingkat pengembalian yang menarik dengan tingkat risiko yang serendah mungkin melalui investasi pada efek pendapatan pendapatan tetap antara lain Surat Utang Negara, surat utang lainnya yang ditawarkan melalui penawaran umum dan instrumen pasar uang antara lain Sertifikat Bank Indonesia (SBI), deposito pada bank-bank di Indonesia.

Adapun arahan kebijakan investasinya yaitu 1-20 persen pada instrumen pasar uang dan/atau kas, serta minimum 80 persen - maksimum 100 persen pada efek pendapatan tetap.

Sebagai informasi, semua reksadana pendapatan tetap diatas dapat dibeli di Bareksa dengan minimal pembelian awal Rp100.000.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(KA02/AM)

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.