Strategi Menyiapkan Dana untuk Liburan Saat Lebaran dengan Nabung di Reksadana

Menyiapkan dana liburan dengan nabung reksadana berpotensi lebih untung dan likuid dibanding deposito
Bareksa • 07 Jun 2019
cover

Ilustrasi pendaki gunung sedang menikmati sunrise dari atas tebing yang tinggi. Backpacker menikmati liburan wisata alam.

Bareksa.com - Tahun ini, pemerintah menetapkan sebanyak 20 hari libur dan cuti bersama. Tanggal merah tersebut paling banyak terjadi di bulan Juni 2019 sehubungan dengan adanya Hari Raya Idul Fitri 1440 H.

Banyaknya hari libur selain Sabtu-Minggu tersebut tentunya membuat kamu yang bekerja Senin sampai Jumat dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore tertarik untuk menikmati liburan ke luar kota, bahkan ke luar negeri. Sayang sekali jika hari libur yang begitu banyak tersebut hanya dinikmati dengan tidur siang di rumah atau membawa pekerjaan kantor ke rumah.

Kamu bisa mulai memikirkan rencana liburan di tanggal merah tersebut mulai dari sekarang. Hal ini penting untuk bisa menetapkan waktu liburan, lokasi liburan, biaya perjalanan hingga lama liburan, apakah harus menambah libur dengan mengajukan cuti ke kantor.

Apabila melihat tanggal merah tahun ini, waktu liburan yang paling baik adalah pada tanggal 30 Mei hingga 9 Juni 2019. Pada tanggal tersebut, kamu bisa menikmati liburan selama 12 hari dengan mengajukan cuti tambahan pada Jumat, 31 Mei 2019.

Bagi yang beragama Islam, kamu bisa menikmati momen Idul Fitri 1440 H dengan liburan ke kampung halaman. Sedangkan bagi kamu yang non-muslim, kamu bisa mulai ancang-ancang untuk menetapkan lokasi liburan.

Selain pada tanggal tersebut, waktu lain yang bisa dimanfaatkan untuk liburan adalah pada Jumat, 19 April 2019. Tanggal tersebut bertepatan dengan hari Jumat sehingga kamu bisa menikmati long weekend hingga hari Minggu dengan berlibur ke luar kota.

Kamu juga bisa menikmati liburan cukup lama pada Selasa dan Rabu, 24 dan 25 Desember 2019, saat perayaan Natal. Kamu bisa mengajukan cuti pada hari Senin, 23 Desember 2019 sehingga kamu bisa menikmati liburan atau berkumpul bersama keluarga dari hari Sabtu 21 Desember 2019 hingga 25 Desember 2019.

Setelah menetapkan waktu, kamu juga perlu menetapkan lokasi dan biaya liburan. Lokasi yang bisa kamu pilih bisa disesuaikan dengan dana yang kamu miliki. Apabila danamu terbatas, kamu bisa mencoba liburan di daerah terdekat dengan tempat tinggalmu. Misalnya, kamu yang tinggal di Jakarta bisa liburan ke Jakarta atau Bogor.

Namun, apabila dana liburanmu banyak, kamu bisa menikmati liburan ke Sumatra Barat. Di daerah ini, kamu bisa menikmati beragam tempat wisata seperti Ngarai Sianok, Lembah Anai, Jam Gadang, Lembah Harau, Danau Maninjau, Istana Pagaruyung, Pantai Aie Manih Malin Kundang, Pulau Mentawai dan masih banyak wisata lainnya.

Kalau kamu ingin lebih jauh lagi ke luar negeri, kamu bisa mengunjungi Belanda. Negeri Kincir Angin ini menyuguhkan panorama yang tidak bakal kamu lupakan seumur hidupmu. Kamu bisa mengunjungi taman bunga terindah di dunia, Taman Bunga Keukenhof. Kemudian ada Leiden Canals, Desa Kinderdijk, Kanal Amsterdam, Peace Palace, Rijksmuseum, dan banyak lainnya.

Setelah melihat lokasi liburan di atas, mungkin kamu akan langsung melihat buku tabunganmu, 'uangku cukup tidak ya?' dan akhirnya memutuskan untuk liburan di dekat rumah saja atau paling jauh ke Bandung atau Bogor. Apabila liburan tersebut direncanakan secara dadakan memang uang yang ada di tabungan tidak akan cukup. Sehingga sangat penting yang namanya perencanaan keuangan investasi adalah jalan untuk mencapainya.

Bagi kamu yang ingin pergi ke Sumatera Barat pada 30 Mei 2019, tiket pesawat menuju ke daerah tersebut saat ini sudah mencapai Rp1,77-2 juta untuk sekali perjalanan sehingga kamu harus mengeluarkan setidaknya Rp5 juta untuk tiket pulang pergi per orang.

Sedangkan untuk biaya penginapan hotel berbintang selama kurang lebih seminggu di Sumatera Barat adalah Rp500 ribu-Rp1 juta per malam atau Rp3,5 juta-7 juta untuk 7 malam.Biaya lain yang harus kamu persiapkan adalah biaya akomodasi dan transportasi. Sehingga selama 7 hari di Sumatera Barat kamu setidaknya harus menyiapkan dana Rp15 juta.

Kemudian apabila kamu ingin pergi ke Belanda, tiket pesawat ke negara tersebut sudah mencapai Rp7-15 juta pada tanggal 30 Mei 2019. Sehingga kamu harus menyisihkan Rp14-30 juta untuk tiket perjalanan pulang pergi. Sedangkan biaya penginapan pada tanggal tersebut sudah mencapai Rp3 juta per malam atau Rp21 juta untuk 7 malam.

Apabila ditambah biaya akomodasi dan transportasi sebesar Rp2-4 juta per hari, maka setidaknya kamu membutuhkan dana minimal Rp60 juta untuk bisa liburan ke Belanda selama 7 hari. Biaya ini belum termasuk biaya pembuatan visa.

Simulasi Reksadana

Untuk menyiapkan dana Rp15 juta sebagai biaya perjalanan ke Sumatera Barat, kamu bisa menggunakan investasi di reksadana pendapatan tetap. Mengapa reksadana? Sebab instrumen ini memberikan imbal hasil yang lebih tinggi dari deposito dan jangka waktunya dapat disesuaikan.

Instrumen ini juga lebih likuid (atau mudah dicairkan) dibandingkan instrumen lainnya sehingga bisa digunakan untuk kamu yang ingin menggunakan hasil investasi secara cepat.

Kamu bisa menabung di reksadana pendapatan tetap dengan menyisihkan uang Rp100.000 sebagai modal awal dan Rp500.000 setiap bulannya selama 2,5 tahun di produk Syailendra Fixed Income Fund dari PT Syailendra Capital. Uang pokok yang kamu kumpulkan mencapai Rp14,6 juta dalam 2,5 tahun.

Berdasarkan simulasi Bareksa, pertumbuhan uang kamu tidak hanya sampai di situ karena kamu bisa mendapatkan imbal hasil 6,41 persen selama 2,5 tahun dalam periode 1 Desember 2016 hingga 31 Mei 2019.

Sehingga, total investasi dan imbal hasil yang kamu dapatkan mencapai Rp15,53 juta bersih tanpa dipotong pajak lagi. Imbal hasil tersebut jauh lebih besar dibandingkan dengan apabila menabung di rekening bank yang memberikan bunga 2 persen per tahun (belum dipotong pajak dan biaya administrasi).


Sumber : Bareksa

Sedangkan bagi kamu yang bermimpi bisa berwisata ke Belanda, kamu bisa berinvestasi di reksadana campuran, Shinhan Balance Fund dari PT. Shinhan Asset Management.

Dengan berinvestasi di reksadana campuran kamu bisa mendapatkan imbal hasil yang lebih tinggi daripada deposito bank. Namun ingat, berinvestasinya jangan dalam waktu singkat, tetapi sebaiknya lebih dari 3 tahun.

Misalkan kamu bisa menyisihkan dana Rp100.000 sebagai investasi awal dan Rp1 juta per bulan selama 4 tahun, dana pokok yang dikumpulkan sebesar Rp48,1 juta. Menurut simulasi Bareksa, setelah berinvestasi di Shinhan Balance Fund selama 4 tahun (periode 31 Mei 2015 - 31 Mei 2019), kamu bisa mendapatkan imbal hasil 41,42 persen dengan total investasi dan imbal hasil yang kamu dapatkan Rp68,02 juta.

Dengan uang hasil investasi tersebut, kamu tentu bisa menyiapkan biaya untuk perjalanan ke Belanda. Jangan lupa membawa oleh-oleh ya untuk kerabat di Tanah Air.

Mengapa Bisa Untung?

Reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Nilai reksadana bisa tumbuh seiring dengan aset investasi yang terkandung di dalamnya. Pertumbuhan ini membutuhkan waktu yang tidak instan.

Reksadana pendapatan tetap memiliki risiko yang moderat dan cocok untuk jangka pendek (satu hingga tiga tahun). Sementara itu, reksadana campuran memiliki risiko yang tinggi dengan potensi keuntungan yang tinggi juga dan cocok untuk investasi jangka panjang. Untuk kenyamanan berinvestasi, pastikan dulu tujuan keuangan dan profil risiko kamu.

(AM)

* * *

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.