Gaji UMP Bisa Punya Uang Jutaan Rupiah, Ini Triknya

Cukup sisihkan 10 persen dari gaji bulanan, dapat terkumpul jutaan rupiah di reksadana
Bareksa • 18 Apr 2018
cover

ilustrasi investasi, Shutterstock

Bareksa.com – Memiliki penghasilan sangat terbatas alias pas-pasan, seringkali menjadi alasan bagi masyarakat untuk tidak menabung dan berinvestasi. Hal inipun tak jarang terjadi pada kalangan pekerja pemula (fresh graduated) yang berpenghasilan masih berada di sekitar batas upah minimum. 

Misalnya saja saat ini upah minimum provinsi (UMP) DKI Jakarta sebesar Rp3,6 juta. Dengan kebutuhan hidup yang tinggi di kota ini, tidak sedikit masyarakat yang mengeluh batas UMP tersebut tidak mencukupi. Jangankan memikirkan untuk menabung atau investasi, penghasilan yang ada saja mungkin masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan standar hidup di Jakarta.

Namun, sebenarnya bukan seberapa besar penghasilan kita setiap bulannya yang penting, melainkan bagaimana cara kita mengelola keuangan dengan baik. Dengan penghasilan yang terbatas ini, ada baiknya kita belajar hidup hemat dan mulai membiasakan diri untuk menabung atau berinvestasi demi mempersiapkan kebutuhan di masa depan yang lebih baik. 

Menurut perencana keuangan Tatadana Consulting, Tejasari Asad, setiap individu idealnya dapat menyisihkan minimal 10 persen dari penghasilannya setiap bulan untuk menabung atau investasi. Bahkan, orang yang belum menikah (single) bisa menyisihkan pada pos ini hingga 40 persen dari penghasilannya. (Baca Juga: 4 Tips Atur Gaji Sebelum Habis Tengah Bulan)

Ini artinya apabila mengacu dengan proporsi perencanaan keuangan di atas, dengan gaji yang sebesar Rp3,6 juta per bulan, kita bisa menyisihkan uang paling tidak sekitar Rp360.000-Rp1.440.000 per bulan untuk menabung atau investasi. Lantas, dengan nominal tersebut apabila digunakan untuk berinvestasi, jenis investasi apa yang cocok bagi seorang pemula ini?

Dalam hal ini, menyimpan uang dengan aman tentunya akan menjadi prioritas utama bagi seorang pemula selain potensi keuntungannya. Saat ini, tersedia produk reksadana jenis pasar uang yang sangat cocok untuk kebutuhan pemula ini. 

Reksadana pasar uang sendiri adalah produk keuangan yang dikelola oleh manajer investasi dan berbentuk investasi kolektif yang terdiri dari kumpulan aset pasar uang (portofolio) seperti deposito dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari setahun. Seperti yang diketahui, kedua aset portofolio jenis reksa dana ini minim risiko fluktuasi di pasar keuangan. 

Kendati demikian, keuntungan (return) yang dihasilkan jenis reksadana ini mampu mengalahkan bunga tabungan dan tidak dikenakan pajak atas hasil investasinya. Pada Marketplace Reksa Dana Bareksa, dalam setahun terakhir terdapat  produk reksa dana pasar uang yang menghasilkan return tertinggi dengan rata-rata sebesar 7 persen per tahun. Sementara pada bunga tabungan hanya sebesar 0,7 persen per tahun (belum termasuk dipotong pajak). Untuk melihat produk reksadana di Bareksa selengkapnya, klik tautan berikut.

Apabila secara rutin kita mulai menyimpan uang sebesar Rp360.000 tiap bulan pada jenis reksadana ini, maka perkiraan hasil investasi dalam setahun ke depan bisa tumbuh menjadi Rp4.845.116,38, seperti yang tampak pada hasil Kalkulator Investasi Bareksa di bawah ini. Padahal, uang yang terkumpul semula hanya sebesar Rp4.680.000, dengan kata lain terdapat pertumbuhan aset sekitar 3,27 persen tanpa dipotong pajak pada reksadana pasar uang ini dalam waktu 12 bulan saja. 
 
Grafik: Perkiraan Hasil investasi Reksadana Pasar Uang

Sumber: Bareksa.com 

Jadi, keuntungan reksa dana ini bisa dirasakan semua kalangan tak terkecuali bagi mereka yang berpenghasilan terbatas. Ayo mulai berinvestasi sekarang! (hm)

**

Ingin berinvestasi reksa dana?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksa dana, klik tautan ini
- Pilih reksa dana, klik tautan ini
- Belajar reksa dana, klik Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana.

.