BeritaArrow iconReksa DanaArrow iconArtikel

Kinerja Stabil Mendukung Bisnis Manager Investasi Ciptadana Asset Management

Bareksa21 Januari 2015
Tags:
Kinerja Stabil Mendukung Bisnis Manager Investasi Ciptadana Asset Management
Direktur Pemasaran PT Ciptadana Asset Manajemen, Paula Rianty (kiri) bersama dengan Head of Investment PT Ciptadana Asset Manajemen, Tenno Tinodo (kanan) (Bareksa.com)

Sebetulnya peluang IHSG capai 6.500 tahun ini ada jika program-program yang dijanjikan Jokowi terealisasi: Ciptadana.

Bareksa.com – Bukan return yang superior yang ditawarkan PT Ciptadana Asset Management kepada investor reksa dana, tetapi kinerja yang relatif stabil yang selama ini menjaga eksistensi Ciptadana dalam menjalani bisnis manajer investasi dari tahun 1991.

Berdasarkan data matriks reksa dana Bareksa.com, salah satu produk reksa dana yang dikelola Ciptadana yakni 'Cipta Syariah Equity' menjadi produk reksa dana saham yang berada pada kuadran pertama – artinya memiliki risiko yang rendah dengan return yang lebih tinggi dari rata-rata industry -- untuk periode 3 tahun.

Paula Rianty, Direktur Pemasaran Ciptadana, mengatakan sangat puas dengan kinerja produk reksa dana saham yang menghasilkan return lebih baik dari benchmark. 'Rencana Cerdas' memperoleh return 34,38 persen pada tahun 2014, lebih tinggi dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang membukukan gain 22 persen dalam periode yang sama. 'Dan Cipta Syariah Equity' memiliki return 26 persen, lebih tinggi daripada Jakarta Islamic Index (JII) yang sebesar 18 persen.

Promo Terbaru di Bareksa

Di bawah ini Paula dan Tenno Tinodo, Head of Investment PT Ciptadana Asset Management, menjelaskan kepada Bareksa.com seperti apa gaya pengelolaan dana serta sektor apa saja yang jadi andalan dalam investasi tahun ini.

Dua produk andalan di jenis reksa dana saham yakni 'Rencana Cerdas' dan 'Cipta Syariah Equity' memiliki return yang melebihi benchmark pada tahun 2014. Apa rahasianya?

Strateginya kita sebut sebagai indeks plus yaitu pada perencanaan awal kita mulai dengan mereplikasi dengan benchmark. Sebagai contoh untuk produk reksa dana saham syariah, benchmarknya adalah indeks JII. Komposisi portofolionya menjadi mirip dengan indeks JII lalu kita beri plus. Plusnya adalah beberapa saham yang terdapat pada indeks tersebut diberi bobot tambahan jika menurut analisis internal saham tersebut murah dan begitupun sebaliknya.

Karena mereplikasi benchmark jumlah saham yang terdapat pada portofolio cukup banyak dan terdiversifikasi untuk menekan risiko.

Apakah ada batasan saham yang bisa masuk dalam portofolio reksa dana, misalnya seperti batasan kapitalisasi pasar?

Tidak ada batasan kapitalisasi pasar dalam portofolio reksa dana yang dibentuk oleh tim investasi Ciptadana. Karena bobotnya disesuaikan dengan bobot indeks. Yang lebih menjadi perhatian justru likuiditas harian. Biasanya kita akan lebih hati-hati terhadap saham yang nilai transaksi hariannya kecil.

Saat ini manajer investasi cenderung menerbitkan produk yang berinvestasi pada saham-saham kapitalisasi menengah (medium cap) dan kapitalisasi kecil (small cap), ada rencana menerbitkan produk seperti itu juga?

Ciptadana tidak fokus terhadap saham-saham seperti itu karena pengelolaannya lebih mengacu pada indeks. Jarang sekali bagi kita juga membeli saham-saham yang diluar benchmark agar dampaknya tidak terlalu besar jika terjadi penurunan pada saham-saham tertentu. Ini membuat investor kita tidak terlalu cemas.

Pendekatan kita tidak rigid dan beta portofolio juga tidak tinggi. Kita mengejar alfa (selisih antara return benchmark dengan return reksa dana) berkisar antara 5 sampai 7 persen. Sehingga kinerja produk Ciptadana relatif lebih stabil.

Lalu bagaimana dengan target IHSG tahun ini, serta sektor apa yang menarik perhatian Ciptadana tahun ini?

Tahun ini target Ciptadana lebih konservatif dibanding teman-teman yang lain. Target kita ekspektasi pasar 5.800 walaupun itu hanya target awal. Sebetulnya peluang IHSG bisa mencapai 6.500 itu ada namun masih perlu diamati apakah program-program yang selama ini dijanjikan Presiden Joko Widodo dapat terealisasikan atau tidak.

Untuk kemungkinan negatifnya kita ekspektasi IHSG bisa turun ke level 4700.

Resiko apa yang bisa memicu sentimen negatif bagi IHSG?

Kita menunggu refleksi inflasi pada laporan keuangan perusahaan, karena pada Desember lalu relatif tinggi.

Selain itu juga efek dari kenaikan suku bunga acuan di Amerika yakni Fed Rate yang diproyeksi akan terjadi sekitar pertengahan kuartal III-2015 dan dikhawatirkan dapat memukul nilai tukar.

Jadi langkah apa yang akan dilakukan mengantisipasi hal tersebut?

Pada semester awal ini kita akan lebih agresif sambil melihat kinerja laporan keuangan perusahaan. Lalu pada semester kedua tahun ini kita baru mulai akan lebih berhati-hati terhadap risiko nilai tukar. Kita akan mengimbangi dengan memiliki saham-saham yang berorientasi ekspor dan memiliki pendapatan dalam dolar.

Sementara itu turunnya subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan beralih pada kenaikan anggaran infrastruktur, pada tahun ini tidak memberi ruang kenaikan yang tinggi pada saham konstruksi seperti pada tahun lalu. Walaupun kita masih melihat prospek yang positif, tetapi dalam bobot portofolio sudah mulai berkurang.

Bukankah dengan adanya peningkatan pada infrastruktur baik bagi sektor konstruksi?

Ya, memang positif. Tetapi valuasi pada saham konstruksi juga relatif tinggi pada saat ini. Kita perlu melihat apakah rencana pembangunan infrastruktur sesuai dengan program pemerintah, berjalan dengan lancar. Karena tantangan terhadap pemerintah cukup besar. Memang dana untuk infrastruktur naik, tetapi bagaimana dengan regulasi pendukung lainnya seperti masalah pembebasan lahan. Jika terbukti pemerintah bisa mengatasi hal tersebut, baru ekspektasi terhadap sektor ini bisa kembali meningkat.

Justru kita melihat katalis positif terkait turunnya harga minyak kepada saham-saham sektor konsumsi yang memiliki jalur distribusi seperti Unilever (UNVR) dan Indofood (INDF).

Soal Ciptadana Asset Management sendiri, pengembangan apa yang ingin dilakukan kedepannya?

Kita akan mengembangkan jumlah nasabah ritel, salah satu caranya dengan menggandeng Buana Capital sebagai agen penjual dan Bareksa.com sebagai platform penjualan reksa dana secara online serta edukasi didalamnya.

Saat ini porsi dana kelolaan mayoritas dipegang oleh institusi. Jika kita hanya mengandalkan institusi, fluktuasi atas dana kelolaan menjadi lebih tinggi. Memang dana kelolaan yang diperoleh dari institusi sangat besar tetapi menjadi resiko jika terjadi redemption (penjualan reksa dana). Walaupun penarikan investasi itu hanya profit taking dan akan segera masuk kembali. (qs)

Grafik Matriks Industri Reksa Dana Saham Periode 3 Tahun

Illustration

Sumber: Bareksa.com

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

autodebet

1.210,09

Up0,68%
Up1,43%
Up0,30%
Up7,39%
Up20,17%
Up14,25%

STAR Stable Amanah Sukuk

autodebet

1.200,4

Up0,41%
Up2,26%
Up1,32%
Up7,87%
--

Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A

1.170,94

Up0,62%
Up2,17%
Up1,36%
Up7,58%
--

Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A

1.049,18

Up0,41%
Up2,25%
Up0,15%
---

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua