OJK : Ekonomi Global Bergejolak, Pasar Modal RI Masih Positif dan IHSG Terbaik di ASEAN

Sampai dengan 11 Oktober 2022, total NAB Reksadana menurun 8,06% dari Rp573,54 triliun per 30 Desember 2021 jadi Rp531,8 triliun
Abdul Malik • 14 Oct 2022
cover

Ilustrasi perlambatan ekonomi global akibat agresifnya kenaikan suku bunga AS guna memerangi lonjakan inflasi, membuat pasar modal global bergejolak, namun pasar modal RI masih positif, IHSG terbaik di ASEN, meski begitu dana kelolaan reksadana menurun. (Shutterstock)

Bareksa.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan di tengah gejolak perekonomian global yang terus meningkat dan tingginya volatilitas pasar keuangan global yang berpotensi memberikan dampak ke pasar keuangan domestik, kinerja pasar modal Indonesia menorehkan pertumbuhan yang positif dengan volatilitas yang relatif terjaga jika dibandingkan dengan negara lain.

“Keseluruhan capaian pasar modal Indonesia sangat penting dalam upaya mewujudkan Indonesia sebagai tempat berinvestasi yang aman, nyaman, dan terpercaya,” ungkap Anggota Dewan Komisioner sekaligus Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Inarno Djajadi (14/10/2022). 

Hal itu, menurut Inarno, khususnya dalam mendukung penyediaan sumber pembiayaan yang berkelanjutan, baik bagi proyek prioritas pemerintah, maupun untuk meningkatkan daya saing perusahaan Indonesia ke kancah global.

Kinerja IHSG menjadi yang tumbuh tertinggi jika dibandingkan dengan kinerja bursa ASEAN dan regional. Sebagai gambaran, IHSG per 11 Oktober 2022 berada di posisi 6.939,15 poin atau meningkat 5,43% sepanjang tahun berjalan (YTD). Bahkan, pada 13 September 2022, pertumbuhan IHSG telah menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah yakni di level 7.318,01. 

“Meskipun saat ini kembali turun mengikuti pelemahan di bursa global,” kata Inarno.

Sementara itu, nilai kapitalisasi pasar (market cap) saat ini tercatat mencapai Rp9.142 triliun atau meningkat 10,75% (YTD). Di samping itu, para pengusaha (emiten) juga mulai meningkatkan aktivitas penghimpunan dana melalui pasar modal, seiring dengan telah pulihnya kembali aktivitas perekonomian domestik. 

Hingga 11 Oktober 2022, aktivitas penghimpunan dana di pasar modal masih cukup tinggi yaitu mencapai Rp179,66 triliun dari 168 emisi yang terdiri dari 42 penawaran umum perdana saham, 22 penawaran umum terbatas, 16 penawaran umum efek bersifat utang dan/atau sukuk, 88 penawaran umum berkelanjutan efek bersifat utang dan/atau sukuk di tahap I dan tahap II.

Dari 168 kegiatan emisi tersebut, 48 di antaranya adalah Emiten baru, bahkan saat ini sudah ada puluhan perusahaan lagi yang mengincar untuk melakukan penawaran umum perdana. 

Pertumbuhan Jumlah Investor

Pertumbuhan jumlah emiten ini diikuti oleh pertumbuhan jumlah investor ritel yang meningkat hampir 9 kali lipat dalam 5 tahun terakhir. “Kami mencatat, hingga 11 Oktober 2022, jumlah investor pasar modal mencapai 9,85 juta SID,” Inarno mengungkapkan. 

Pertumbuhan tertinggi dicatatkan oleh investor reksadana dan mayoritas masih didominasi oleh investor berusia di bawah 30 tahun yang mencapai 59,08%. 

Inarno menambahkan perkembangan pasar modal syariah juga cukup menggembirakan yang tercermin dari peningkatan nilai Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI), maupun nilai kapitalisasi pasar saham syariah sepanjang tahun berjalan. Per 7 Oktober 2022, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) ditutup pada 203,91 poin atau naik 7,87%, dibandingkan indeks ISSI pada 30 Desember 2021 yang sebesar 189,02 poin. 

“Sementara nilai kapitalisasi pasar saham syariah tercatat Rp4.345.98 triliun atau meningkat 9,09% YTD dari sebelumnya Rp3.983,65 triliun,” kata dia. 

Meski begitu, kinerja reksadana masih menurun. Sampai dengan 11 Oktober 2022, total nilai aktiva bersih (NAB) atau dana kelolaan reksadana turun 8,06% dari Rp573,54 triliun per 30 Desember 2021 jadi Rp531,8 triliun. “Sementara itu, total asset under management juga mengalami penurunan 1,27% dari sebelumnya Rp847,37 triliun menjadi Rp836,57 triliun,” ujarnya. 

(AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.