Ketua OJK Wimboh Santoso: Jumlah Investor Pasar Modal Tembus 6,7 Juta

Investor ritel berusia di bawah 30 tahun semakin mendominasi jumlah investor pasar modal
Hanum Kusuma Dewi • 16 Nov 2021
cover

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso

Bareksa.com - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso, mengatakan stabilitas sektor jasa keuangan masih terjaga seiring dengan pemulihan ekonomi Indonesia. Kepercayaan investor di pasar modal juga semakin baik yang tercermin dari pertumbuhan jumlah pemodal. ​

"Investor pasar modal terus meningkat signifikan di tengah pandemi menjadi 6,7 juta, mayoritas adalah investor ritel. Kemudian, investor ritel berusia kurang dari 30 tahun semakin mendominasi dibandingkan tahun lalu," ujar Wimboh dalam paparannya di CEO Network yang diselenggarakan Bursa Efek Indonesia secara online, 16 November 2021. 

Data OJK mencatat porsi investor ritel berusia di bawah 30 tahun per Oktober 2021 mencapai 59,50 persen, semakin membesar dibandingkan 54,90 persen pada akhir Desember 2021. 


Sumber: Paparan OJK 16 November 2021

Wimboh menjelaskan, pemulihan ekonomi Indonesia yang terus membaik serta penanganan penyebaran pandemi Covid 19 telah meningkatkan kepercayaan investor terhadap kondisi perekonomian Indonesia ke depan.

Sejumlah faktor kunci yang menjadi pendorong pemulihan ekonomi pada tahun ini dan tahun depan adalah percepatan vaksinasi COVID-19, penurunan kasus aktif dan pengendalian tingkat penyebaran COVID-19, momentum dari ekspor komoditas, serta peningkatan permintaan dalam negeri. 

Pasar modal Indonesia juga semakin menguat tercermin dari indeks saham dan pasar surat berharga negara (SBN). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah menguat 10,65 persen sejak awal tahun hingga 15 November 2021 dan menyentuh rekor tertinggi di 6.616,03. 

Imbal hasil (yield) SBN semakin baik yang menunjukkan minat investor masih tinggi terhadap surat utang pemerintah. 

Investasi Berkelanjutan

Pada kesempatan yang sama, Wimboh juga menyampaikan isu terkait investasi yang berwawasan lingkungan atau disebut juga green taxonomy. Investasi dengan green taxonomy ini berfokus pada proyek yang ramah lingkungan, dengan salah satu produknya adalah green bond atau green sukuk. 

Ke depan, OJK sedang menyiapkan insentif bagi pelaku pasar modal dan investor keuangan yang mendukung adanya investasi yang berkelanjutan. "Dalam waktu dekat ini, kami menyiapkan insentif mendorong green taxonomy," kata Wimboh. 

Sebagai informasi, pemerintah Indonesia baru saja menawarkan produk SBN berupa Green Sukuk ST008. Berbeda dengan sukuk konvensional, pada green sukuk, seluruh hasil penerbitan digunakan untuk pembiayaan proyek-proyek yang ramah lingkungan. 

Ingin berinvestasi sekaligus bantu negara?

Green Sukuk Ritel ST008 ditawarkan 1-17 November 2021. Investasi mulai dari Rp1 juta dan maksimal Rp1 miliar. ST008 merupakan salah satu jenis SBN Ritel syariah dengan fitur tidak bisa diperdagangkan dengan tenor investasi 2 tahun dan kupon bersifat mengambang dengan batas minimal.

Dengan berinvestasi di SBN Ritel kita tidak hanya mendapatkan imbal hasil tetapi juga membantu pembiayaan anggaran untuk pembangunan negara.

Belum memiliki akun Bareksa tetapi ingin berinvestasi di SBN Ritel? Segera daftar melalui aplikasi Bareksa sekarang, gratis hanya dengan menyiapkan KTP dan NPWP (opsional).

Bagi yang sudah punya akun Bareksa untuk reksadana, lengkapi data berupa rekening bank untuk mulai membeli SBN Ritel di Bareksa. Bagi yang sudah pernah membeli SBR, ORI atau Sukuk di Bareksa sebelumnya, Anda bisa menggunakan akun di Bareksa untuk memesan SBN ritel seri berikutnya.

PT Bareksa Portal Investasi atau Bareksa.com adalah mitra distribusi resmi Kementerian Keuangan untuk penjualan Surat Berharga Negara (SBN) Ritel atau SBN Ritel secara online. Selain proses registrasi dan transaksi sangat cepat dan mudah, Anda juga dapat memantau investasi Anda dari mana saja dan kapan saja.