BEI : Minat Investasi Terus Meningkat, Jumlah Investor Pasar Modal Bisa Naik 30 Persen di 2022

Beberapa pengembangan yang akan dilakukan Bursa Efek Indonesia adalah penambahan indeks acuan baru seperti untuk tema syariah, sustainability index dan juga indeks faktor
Abdul Malik • 28 Oct 2021
cover

Hasan Fawzi, Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia (Bareksa/Issa A)

Bareksa.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan pertumbuhan investor pasar modal tahun depan bisa mencapai 30 persen dari realisasi tahun ini. Sementara sampai pertengahan Oktober 2021, jumlah investor pasar modal mencapai 6,6 juta orang.

Direktur Pengembangan BEI Hasan Fawzi menjelaskan, jumlah investor pasar modal pada pertengahan Oktober bertumbuh sekitar 68 persen dari akhir 2020 yang mencapai 3,88 juta orang. Menurut Hasan, pertumbuhan jumlah investor itu lebih tinggi dari target BEI yang bertumbuh 30 persen pada tahun ini.

"Untuk investor saham, pertumbuhannya bahkan lebih tinggi lagi, yaitu 81 persen menjadi 3 juta investor. Per bulan, berarti ada pertumbuhan jumlah investor sekitar 10 persen yang diharapkan bisa terus meningkat hingga akhir tahun ini," terang dia dalam acara Temu Wartawan secara Virtual, Rabu (27/10).

Pada tahun depan, Hasan optimistis pertumbuhan jumlah investor akan mencapai 30 persen, namun dengan absolut yang lebih tinggi. Hal ini seiring dengan antusiasme investor dan perkembangan pasar modal.

Di sisi lain, Bursa juga akan melakukan pengembangan pasar dengan fokus pada tema “memperluas produk dan partisipan, serta meningkatkan layanan non-cash equities”. Sejalan dengan tema tersebut, pengembangan pasar akan difokuskan pada  perluasan produk dan layanan BEI.

Beberapa pengembangan yang akan dilakukan Bursa Efek Indonesia adalah penambahan indeks acuan baru seperti untuk tema syariah, sustainability index dan juga indeks faktor.

Dari tiga indeks tersebut, BEI sudah dalam pembahasan final dengan Yayasan Kehati untuk meluncurkan dua indeks bertema sustainability atau environment, social and governance (ESG).

Lalu, BEI akan melakukan pengayaan produk data informasi kebursaan, enhancement pada Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA) untuk mendukung pengembangan perdagangan efek non-ekuitas, enhancement taksonomi dan sistem XBRL, pengembangan produk derivatif dan waran terstruktur, enhancement sistem e-IPO, pengembangan papan pemantauan khusus dan papan baru untuk new economy.

"Kami juga akan mendukung agenda pemerintah untuk melakukan perdagangan karbon. Tahun depan, nilai ekonomis karbon sudah bisa diimplementasikan," terang dia.

Jumlah Investor per September 2021

Sementara itu, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat, jumlah investor pasar modal mencapai 6,43 juta orang pada September 2021. Jumlah ini meningkat 65,73 persen dibandingkan akhir 2020 yang mencapai 3,88 juta orang.

Investor reksadana mendominasi jumlah investor pasar modal, yakni sebanyak 5,78 juta orang atau meningkat 82,18 persen dari akhir 2020.

Investor saham mencapai 2,9 juta orang dan investor Surat Berharga Negara (SBN) mencapai 571,79 ribu. Investor saham dan SBN masing-masing meningkat 71,58 persen dan 24,2 persen dari akhir 2020.

Dilihat dari usia, investor berusia 30 tahun ke bawah mendominasi investor pasar modal, yaitu sebanyak 59,23 persen. Lalu, investor berusia 31-40 tahun berkontribusi 21,54 persen dan 41-50 tahun sebesar 10,69 persen. Namun dari nilai aset, investor yang berusia di atas 60 tahun mendominasi aset pasar modal, yakni mencapai Rp451,9 triliun, meskipun jumlah investornya hanya 3,13 persen dari total investor pasar modal.

Dari sisi penghasilan, investor yang berpenghasilan Rp10-100 juta mendominasi pasar modal, yakni mencapai 52,49 persen. Tetapi dari nilai aset, investor dengan penghasilan Rp100-500 juta mendominasi pasar modal, yakni mencapai Rp193,07 triliun.

Kemudian, investor dengan pendidikan SMA ke bawah mendominasi pasar modal, yakni mencapai 55,97 persen. Sementara dilihat dari pekerjaan, investor yang berprofesi sebagai pegawai, baik pegawai swasta maupun pegawai negeri mendominasi pasar modal, yakni mencapai 33,66 persen.

Dari sisi wilayah, sebanyak 69,93 persen investor berlokasi di Pulau Jawa dengan total aset sebesar Rp3.441,5 triliun atau mencapai 96 persen dari total aset pasar modal. Investor paling sedikit berada di kawasan Maluku dan Papua, yakni hanya 0,96 persen investor dengan nilai aset Rp3,28 triliun.

Total aset di saham pada September 2021 mencapai Rp5.258,95 triliun. Investor domestik mendominasi dengan kepemilikan aset 58,42 persen dan investor asing sebesar 41,58 persen. Kepemilikan investor domestik meningkat dari akhir 2020 yang baru mencapai 56,85 persen.

(K09/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.