Kripto Dilarang Pemerintah China, Bagaimana Peluang Reksadana?

Harga mata uang kripto terus melemah dalam sepekan terakhir
Abdul Malik • 27 Sep 2021
cover

Ilustrasi pelarangan kripto di China, sehingga investor diperkirakan bakal mengalihkan asetnya ke instrumen investasi lain, di negara-negara berkembang. Kondisi itu dinilai jadi peluang bagi reksadana saham. (Shutterstock)

Bareksa.com - Harga mata uang kripto (cryptocurrency) berkapitalisasi pasar terbesar "babak belur" kembali melemah pada Sabtu (25/9/2021) siang waktu Indonesia, setelah China kembali memperkeras tindakannya terhadap industri kripto.

Berdasarkan data dari CoinMarketCap pukul 14:10 WIB, yang dilanasir CNBC Indonesia, dari delapan kripto berkapitalisasi terbesar non-stablecoin, hanya koin digital cardano yang mampu bertahan di zona hijau. Cardano melesat 4,44 persen ke level harga US$2,36 per koin atau setara dengan Rp33.642 per koin (asumsi kurs Rp 14.255 per dolar Amerika Serikat).

Sementara mata uang kripto lainnya kembali diperdagangkan di zona merah pada Sabtu. Bitcoin anjlok 3,62 persen ke level US$42.718,94 per koin atau setara Rp608.958.490 per koin, ethereum ambles 4,74 persen ke level US$2.925,83 per koin (Rp 41.707.707 per koin), serta binance coin ambrol 4,24 persen jadi US$356,74 per koin (Rp 5.085.329 per koin).

Beberapa perusahaan pertukaran kripto yang memiliki sebagian besar pengguna China, melaporkan adanya aksi jual masif pada Sabtu kemarin.

Regulator China telah mengintensifkan tindakan kerasnya terhadap industri cryptocurrency dengan cara melarang segala bentuk transaksi dan penambangan kripto. Langkah regulator China ini telah memukul bitcoin dan koin utama lainnya serta menekan saham-saham yang terkait dengan aset kripto.

Sepuluh lembaga, termasuk bank sentral, lembaga keuangan, sekuritas dan regulator valuta asing, berjanji untuk bekerja sama membasmi aktivitas cryptocurrency "ilegal". Hal ini merupakan pertama kalinya regulator yang berbasis di Beijing bergabung secara eksplisit melarang semua aktivitas terkait cryptocurrency.

Namun, tekanan regulasi bukanlah hal baru bagi pasar kripto. Beberapa Analis terus memantau tindakan keras pemerintah China, yang biasanya terjadi di saat pasar kripto sedang bergejolak. Sebelumnya pada Mei lalu, China sudah melarang lembaga keuangan dan perusahaan pembayaran untuk menyediakan layanan dan transaksi menggunakan mata uang kripto. China juga mengeluarkan larangan serupa pada 2013 dan 2017 silam.

Bank Sentral China (People's Bank of China/PBoC) memposting daftar kegiatan terlarang yang sebelumnya termasuk dalam zona abu-abu. Di lain sisi, Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional China menetapkan rencana untuk menghentikan penambangan kripto secara menyeluruh.

"Dalam sekejap dan secara efektif, satu dari tujuh populasi dunia yang memiliki dompet digital kripto secara resmi dibekukan dari pasar aset kripto." kata Simon Peters, analis di eToro, dikutip dari CoinDesk.

Peluang Saham dan Reksadana Saham

Tubagus Farash Akbar Farich, Direktur Avrist Asset Management menyatakan larangan pemerintah China atas kripto dapat mengurangi inflow ke aset tersebut oleh investor di China. Aliran modal yang selama ini masuk ke kripto, bisa dialihkan ke instrumen investasi lainnya. Misalnya, kembali ke pasar modal dan komoditas.

"Mereka (investor kripto) bisa pindah ke mana saja, mungkin sama seperti di pasar global sekarang, lebih positif di saham dibandingkan misalnya obligasi," lanjut Farash kepada Bareksa (27/9/2021).

Mengenai kemungkinan aliran modal yang semula masuk di kripto China ke Indonesia, Farash menilai hal tersebut belum kelihatan. "Ada inflow asing sekitar US$180 juta (Rp2,5 triliun) ke pasar saham Indonesia sepanjang September ini, tapi ini campuran," ujar Farash.

Menurut Farash saat ini saham tengah rebound dan sehingga reksadana saham momentumnya baru dimulai. Dia menilai kalau dari kacamata investor Indonesia, mungkin mereka investasi di crypto lebih melihat ke price momentum-nya. "Dengan tidak ada dukungan investor China, maka price momentumnya menjadi lebih lemah," kata Farash.

Makanya, Farash mengatakan investor kripto di Indonesia dengan strategi investasinya price momentum, bisa pindah dari kripto yang melemah ke reksadana saham karena sedang menguat.

Farash menyampaikan pada dasarnya investasi di kripto bisa dilakukan oleh siapa saja termasuk investor pemula. Namun yang harus diperhatikan ialah risiko counterparty. "Seperti apakah broker yang dipakai merupakan institusi yang bisa dipercaya dan lainnya," kata Farash.

Kinerja Reksadana Saham

Menurut daftar reksadana yang tersedia di Bareksa, top 10 reksadana saham imbalan tertinggi 1 tahun terakhir (per 24 September 2021) mencatatkan imbal hasil 82,45 persen yakni reksadana saham Manulife Greater Indonesia Fund, kelolaan PT Manulife Aset Manajemen Indonesia.

Kemudian reksadana Manulife Saham Andalah berhasil membukukan imbalan 73,67 persen, Sucorinvest Sharia Equity Fund 63,93 persen, Shinhan Equity Growth 49,61 persen dan reksadana Manulife Saham SMC Plus 38,96 persen.

Selanjutnya sebagaimana tertera dalam tabel berikut :

Sumber : Bareksa

Perlu diingat, apapun produk investasi pilihan kamu, agar selalu disesuaikan dengan tujuan dan jangka waktu investasi, serta profil risiko kamu ya!

(Martina Priyanti/AM)

​***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.