Dongkrak Jumlah & Kualitas Investor, KSEI Siapkan Infrastruktur dan Dorong Efisiensi

Jumlah investor reksadana mendominasi jumlah investor pasar modal, yakni sebanyak 4,93 juta orang pada Juni 2021
Abdul Malik • 16 Jul 2021
cover

Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). (www.ksei.co.id)

Bareksa.com - Direktur Utama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Uriep Budhi Prasetyo berharap jumlah investor pasar modal tahun ini bisa terus bertumbuh, baik dari sisi jumlah maupun kualitas. "Syukur-syukur bisa menembus 6 juta orang sebelum akhir tahun," ujar Uriep beberapa waktu lalu.

Menurut Uriep, meski pihaknya tidak menargetkan jumlah SID secara spesifik, namun KSEI akan mempersiapkan diri untuk menyambut penambahan jumlah investor. Bentuk persiapan itu dari sisi infrastruktur dan efisiensi dalam proses pembukaan rekening.

Jumlah investor pasar modal hingga Juni 2021 mencapai 5,6 juta SID (single investor identification). Jumlah ini meningkat 44,45 persen dibandingkan akhir 2020 yang mencapai 3,88 juta orang.

Berdasarkan data KSEI, jumlah investor reksadana mendominasi jumlah investor pasar modal, yakni sebanyak 4,93 juta orang. Investor reksadana ini meningkat 55,27 persen dibandingkan akhir 2020 yang mencapai 3,17 juta orang.

Sementara investor saham mencapai 2,51 juta SID, meningkat 48,32 persen dari akhir 2020 yang mencapai 1,69 juta orang. Sedangkan investor surat berharga negara (SBN) mencapai 538,78 ribu orang atau meningkat 17,03 persen dari akhir 2020.

Investor Laki-laki Mendominasi

Dilihat dari jenis kelamin, laki-laki mendominasi jumlah investor pasar modal sebanyak 61,87 persen atau dengan nilai aset Rp623,72 triliun. Sementara perempuan menguasai 38,13 persen dengan nilai aset sebesar Rp202,82 triliun.

Sedangkan dari usia, investor yang berusia 30 tahun ke bawah mendominasi jumlah investor atau sebanyak 58,39 persen. Sementara investor berusia 31-40 tahun mencapai 21,61 persen dan sisanya berasal dari investor berusia 41-50 tahun, 51-60 tahun dan di atas 60 tahun.

Dilihat dari jenis pekerjaan, pegawai, baik pegawai negeri maupun pegawai swasta mendominasi jumlah investor pasar modal, yakni sebanyak 33,98 persen. Kemudian berasal juga dari pelajar yang mencapai 27,73 persen, pengusaha 13,59 persen, dan ibu rumah tangga 4,64 persen.

Sementara dari jenis pendidikan, investor dengan latar pendidikan SMA mendominasi jumlah investor pasar modal, yakni mencapai 53,54 persen. Investor berpendidikan S1 mencapai 35,3 persen, D3 sebanyak 7,85 persen dan S2 3,32 persen.

Sedangkan dari sisi penghasilan, investor dengan penghasilan Rp10-100 juta menjadi investor dengan jumlah terbanyak, yakni 52,69 persen. Sementara yang berpenghasilan di atas Rp1 miliar hanya mencapai 0,71 persen, namun nilai asetnya mendominasi, yakni mencapai Rp177,51 triliun.

Terpusat di Pulau Jawa

Dilihat dari sebaran wilayah, sebanyak 70,29 persen investor terpusat di Pulau Jawa. Investor tersebut menguasai Rp3.190,23 triliun aset pasar modal. Lalu, sebanyak 30 persen sisa lainnya tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan NTT, serta paling sedikit di Pulau Maluku dan Papua.

Tahun ini, Direktur Utama KSEI Uriep Budhi Prasetyo berharap jumlah investor pasar modal bisa terus bertumbuh, baik dari sisi jumlah maupun kualitas.

"Syukur-syukur bisa menembus 6 juta orang sebelum akhir tahun," papar dia beberapa waktu lalu.

Menurut Uriep, meski pihaknya tidak menargetkan jumlah SID secara spesifik, namun KSEI akan mempersiapkan diri untuk menyambut penambahan jumlah investor. Bentuk persiapan itu dari sisi infrastruktur dan efisiensi dalam proses pembukaan rekening.

Peran Investor Ritel

Di sisi lain, Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengungkapkan, pertumbuhan jumlah investor ritel sangat melesat terutama saat pandemi seperti saat ini. Pencapaian ini menjadi prestasi yang luar biasa bagi SRO (self regulatory organization) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Pertumbuhan jumlah investor ini, lanjut Hans juga sejalan dengan perkembangan transaksi saham di bursa yang mencapai Rp20 triliun per hari. Jumlah ini meningkat signifikan dibandingkan periode sebelum pandemi yang hanya mencapai sekitar Rp9 triliun.

Kendati transaksi saham ini meningkat, namun kepemilikan saham investor ritel masih kecil, yakni sekitar 13,1 persen. Kepemilikan saham sejauh ini masih didominasi investor asing 48,1 persen dan investor institusi 38,3 persen.

Oleh karena itu, kepemilikan saham investor ritel perlu ditingkatkan agar pasar modal Indonesia tidak mudah mengalami volatilitas jangka pendek ketika investor asing menarik dananya. Begitu juga dengan investor institusi yang selama ini sudah menjadi tulang punggung pasar modal Indonesia.

(K09/AM)


***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.