Pandu Sjahrir BEI: Peluang Dapen Gunakan Fintech untuk Optimalkan Investasi Pasar Modal

Saat ini alokasi aset dapen Indonesia lebih banyak di deposito dan SBN dan sedikit di reksadana dan saham
Hanum Kusuma Dewi • 04 Jun 2021
cover

Komisaris Bursa Efek Indonesia (BEI) Pandu Patria Sjahrir (kanan) dalam Webinar bertema Pengelolaan Dana Pensiun 4.0: Memanfaatkan Fintech, Meningkatkan Transparansi dan Akuntabilitas yang diselenggarakan Bareksa dan Perkumpulan ADPI.

Bareksa.com - Institusi pengelola dana pensiun seperti BPJS Ketenagakerjaan bisa memanfaatkan platform teknologi keuangan (fintech) untuk mendukung transparansi dan peluang investasi di pasar modal. 

Komisaris Bursa Efek Indonesia (BEI) Pandu Patria Sjahrir menjelaskan bahwa saat ini alokasi aset dana pensiun di Indonesia lebih banyak di instrumen dengan imbal hasil (return) rendah seperti deposito dan sukuk. Sehingga, hasil investasi jangka panjang kurang maksimal bila dibandingkan dengan dana pensiun negara lain. 

Mengutip data OJK, Pandu menjelaskan bahwa lebih dari 50 persen alokasi aset dana pensiun dan BPJS Ketenagakerjaan masih terkonsentrasi pada deposito dan SBN/sukuk. Adapun di Amerika Serikat, contohnya, sudah 53 persen di saham dan hanya 27 persen di SBN. 

Sumber: Presentasi Pandu Sjahrir

Karena alokasi aset tersebut, return dana pensiun di Indonesia relatif lebih rendah dibanding return dana pensiun di negara-negara asing. Pada 2019 (sebelum pandemi), return investasi Dana Pensiun dan BPJS di 8,5 persen. 

Sumber: Presentasi Pandu Sjahrir

"Dana pensiun negara lain memiliki tingkat return 5 tahun yang lebih tinggi daripada dana pensiun Indonesia. Di antaranya CPPIB (Kanada) di 9,6 persen ROI dan CalPERS (AS) di 8,4 persen ROI. Sebelum terdampak COVID-19, CPPIB bahkan bisa memberikan ROI dua digit," ujar Pandu dalam Webinar bertema Pengelolaan Dana Pensiun 4.0: Memanfaatkan Fintech, Meningkatkan Transparansi dan Akuntabilitas yang diselenggarakan Bareksa dan Perkumpulan Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI). 

Maka dari itu, Pandu menyarankan dana pensiun dan investor institusi untuk melihat potensi di pasar modal baik melalui investasi saham langsung maupun reksadana. Contoh yang bisa dipertimbangkan adalah perusahaan publik di sektor teknologi mendapat minat yang besar di Bursa Efek Indonesia. 

"Perusahaan teknologi finansial telah masuk ke 10 perusahaan terbesar dari segi kapitalisasi pasar dan juga dari segi nilai transaksi harian," ujar Pandu mengutip data dari Bursa Efek Indonesia. 

Contoh perusahaan teknologi keuangan adalah PT Bank Jago Tbk (ARTO) dengan kapitalisasi pasar Rp140 triliun atau 2,1 persen dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan berada di posisi 8 terbesar. Kemudian ada PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) dengan kapitalisasi pasar Rp139 triliun atau setara 2,0 persen bursa di posisi 9. 

Dari segi nilai perdagangan atau trading value, PT Bank Net Indonesia Syariah Tbk (BANK) yang kini dikenal sebagai Bank Aladin Syariah juga masuk di jajaran saham paling banyak diperjualbelikan. Nilai transaksi harian mencapai Rp288 triliun atau 3,7 persen nilai transaksi Bursa per 19 Mei 2021. 

"Secara potensi return, perusahaan teknologi menunjukan performa yang baik di bursa dan ke depannya, sangat berpotensi untuk menjadi perusahaan-perusahaan terbesar secara kapitalisasi."

Dia menyebutkan harga saham Bank Aladin (BANK) yang merupakan bank digital sudah naik lebih dari 2.000 persen sejak pertama tercatat di Bursa. Potensinya seperti saham-saham teknologi di AS, termasuk Apple, Microsoft, Amazon, Alphabet dan Facebook yang mendominasi kapitalisasi pasar saham di New York Stock Exchange. Delapan dari 10 perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di AS adalah perusahaan teknologi. 

Kemudian, dana pensiun dan investor institusi juga bisa menuai manfaat dengan menggunakan teknologi untuk berinvestasi. Contohnya, melalui platform investasi Bareksa untuk investasi reksadana. 

Manfaat menggunakan platform teknologi, menurut Pandu, adalah akses ke pasar yang lebih mudah. Kemudian, biaya per transaksi yang lebih rendah serta informasi yang transparan dan mudah diakses oleh investor. 

Meski saat ini masih minim investor institusi yang menggunakan teknologi untuk memfasilitasi investasi mereka, ke depan diharapkan bisa bertumbuh dengan banyaknya manfaat fintech yang memudahkan ini. 

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.