IHSG Melemah, Sentimen Eksternal dan Domestik Ini Penggeraknya

Bursa AS melemah, sementara harga BBM non-subsidi turun
Bareksa • 11 Feb 2019
cover

Pegawai melintas di depan layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (9/11/2018). Pergerakan IHSG pada Jumat (9/11), ditutup melemah 1,72 persen ke level 5.874,15 dari posisi penutupan perdagangan kemarin di level 5.976,806. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso

Bareksa.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pagi ini bergerak melemah melanjutkan penurunan pekan lalu seiring dengan sejumlah sentimen yang datang baik dari dalam maupun luar negeri. Meskipun demikian investor asing mencatat beli bersih saham-saham di Bursa Efek Indonesia.

Hingga pukul 9:49 WIB pagi ini 11 Februari 2019, IHSG melemah 0,21 persen ke 6.507,86 meski sempat dibuka lebih tinggi dibandingkan level penutupan kemarin. IHSG bergerak dalam rentang 6.503,53 dan 6.535,18.

Mayoritas indeks saham sektoral yang ada di Bursa bergerak melemah dipimpin oleh sektor perkebunan (agriculture) dan industri dasar (basic industry). Sementara itu, sektor infrastruktur dan jasa masih bergerak naik.

Investor asing mencatat beli bersih (net buy) Rp34,36 miliar pagi ini.

IHSG pada perdagangan akhir pekan kemarin ditutup melemah berada di level 6,521. Indeks berpeluang untuk melanjutkan konsolidasi yang terjadi selama lebih dari sepekan terakhir, di mana berpeluang menuju resistance level 6,555 hingga 6,590. Stochastic berada di wilayah netral dengan kecenderungan menguat. Namun jika indeks berbalik melemah dapat menguji support level 6,490.

Pergerakan IHSG dipengaruhi faktor penguatan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS, rilis kinerja emiten dan rilis data ekonomi yaitu data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tumbuh 5,17 persen tahun 2018, cadangan devisa dan transaksi berjalan yang mengalami defisit.

Sentimen Eksternal

Adapun Wall Street pada perdagangan Jumat terkoreksi dengan indeks Dow Jones turun 0.25 persen, S&P 500 naik 0.07 persen dan Nasdaq naik 0.14 persen akibat kecemasan pertumbuhan ekonomi global serta konflik dagang di tengah ketidakpastian negosiasi antara AS dan China.

Kedua negara belum menyusun draft tentang hal-hal yang mereka sepakati atau tidak setujui menjelang deadline negosiasi awal Maret 2019. Bila tidak ada kesepakatan, AS kemungkinan besar menerapkan kembali bea masuk terhadap produk asal China.

Selain itu, Uni Eropa juga menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Eropa untuk tahun 2019 dan 2020 dan Bank of England mengingatkan Inggris bakal menghadapi pertumbuhan ekonomi terlemahnya dalam satu dekade.

Berkaitan dengan upaya perdamaian dagang antara AS dan China, negosiator AS bersiap untuk negosiasi tahap selanjutnya pada minggu ini demi mencapai kesepakatan dagang antar AS dan Tiongkok. Pembahasan minggu depan akan berkutat dengan ketentuan perlindungan hak intelektual perusahaan AS di Tiongkok, yang mana pemerintah AS meminta adanya reformasi struktural tentang kebijakan tersebut akrena adanya indikasi pencurian hak intelektual oleh perusahaan Tiongkok. Pihak Tiongkok sendiri sejauh ini membantah adanya praktik pencurian hak intelektual perusahaan AS.

Sentimen Domestik

Harga jual bahan bakar minyak (BBM) non subsidi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) turun, menyusul formula baru yang dirilis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Formula tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri (Kepmen) Nomor 19 K/10/MEM/2019 tentang Fomula Harga Dasar dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Jenis Bensin dan Minyak Solar yang Disalurkan melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum dan/atau Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan.

Bersamaan dengan itu, harga jual BBM jenis Premium di Jawa, Madura dan Bali (Jamali) juga turun Rp 100/liter. Mulanya, harga Premium di Jamali Rp 6.550/liter, kini jadi Rp 6.450. Dengan demikian, harga Premium di Jamali dan non-Jamali sama. (KA02/hm)

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui saham mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami kinerja keuangan saham tersebut.