Bos BlackRock: Keluar Masuk Pasar Bisa Pangkas Imbal Hasil, Ini Arti bagi Investor Kripto
Larry Fink menyebut melewatkan 10 hari terbaik pasar dalam 25 tahun bisa memangkas imbal hasil S&P 500 dari sekitar 11% menjadi sekitar 6%.

Larry Fink menyebut melewatkan 10 hari terbaik pasar dalam 25 tahun bisa memangkas imbal hasil S&P 500 dari sekitar 11% menjadi sekitar 6%.
Konten ini merupakan kerja sama Bareksa dengan CryptoWave x TRIV Research.
Bareksa - CEO BlackRock Larry Fink mengingatkan bahwa investor yang terlalu sering keluar masuk pasar demi menebak waktu terbaik justru berisiko melewatkan hari-hari kenaikan terbesar. Menurut Fink, kebiasaan ini bisa memangkas imbal hasil jangka panjang secara signifikan, sementara investor yang tetap berada di pasar cenderung menikmati hasil majemuk yang lebih baik.
Mengutip CryptoWave pada Senin, 2 November 2026, Fink mencontohkan kinerja investasi yang mengikuti indeks S&P 500, indeks saham utama Amerika Serikat. Strategi mencoba menebak kapan harus masuk dan keluar pasar ini dikenal dengan istilah market timing.
Promo Terbaru di Bareksa
Fink menyebut investasi yang mengikuti S&P 500 dan dipertahankan selama 25 tahun terakhir menghasilkan imbal hasil majemuk sekitar 11%. Angka itu turun menjadi sekitar 6% jika investor melewatkan 10 hari terbaik pasar dalam periode tersebut. Bahkan, investor yang melewatkan 40 hari terbaik dari sekitar 6.300 hari perdagangan selama 25 tahun akan mencatat imbal hasil negatif.
Indikator | Nilai |
|---|---|
Periode pengamatan | 25 tahun (sekitar 6.300 hari perdagangan) |
Imbal hasil majemuk jika tetap berinvestasi di S&P 500 | Sekitar 11% |
Imbal hasil jika melewatkan 10 hari terbaik | Sekitar 6% |
Imbal hasil jika melewatkan 40 hari terbaik | Negatif |
Sumber: CryptoWave, diolah Bareksa
Kenapa Pesan Ini Relevan Sekarang?
Melalui perhitungan tersebut, Fink menilai pergerakan harian pasar tidak perlu terlalu mendominasi perhatian investor yang punya tujuan jangka panjang. Hari-hari kenaikan terbesar sering kali sulit ditebak, sehingga investor yang sedang berada di luar pasar bisa kehilangan momen tersebut.
Pesan ini muncul di tengah pasar kripto yang baru melewati bulan yang menantang. Data Coinglass yang dikutip CryptoWave mencatat Bitcoin menutup Oktober 2026 dengan penurunan sekitar 7,3%, seiring sentimen negatif dari insiden peretasan hot wallet Binance. Dalam situasi seperti ini, godaan untuk keluar masuk pasar demi menghindari koreksi biasanya meningkat.
Meski demikian, angka yang disampaikan Fink didasarkan pada kinerja historis indeks saham AS dan tidak menjamin hasil serupa di masa mendatang, termasuk untuk aset kripto yang karakter pergerakannya berbeda.
Cek Harga Bitcoin di Bareksa Crypto RWA
Apa Artinya bagi Investor?
- Fokus pada tujuan jangka panjang: Pergerakan harian, baik naik maupun turun, sebaiknya tidak menjadi satu-satunya dasar keputusan jual-beli. Tentukan dulu tujuan dan jangka waktu investasi.
- Investasi rutin (DCA): Membeli secara berkala dengan nominal tetap membantu investor tetap berada di pasar tanpa harus menebak waktu terbaik untuk masuk.
- Kripto sebagai porsi kecil portofolio: Karena volatilitasnya tinggi, kripto lebih tepat ditempatkan sebagai pelengkap, bukan porsi utama portofolio. Pahami dulu risiko investasi kripto yang wajib dipahami investor pemula.
- Gunakan platform terdaftar: Pilih platform yang terdaftar dan diawasi OJK. Simak perbedaan platform kripto terdaftar OJK dan tidak terdaftar sebelum berinvestasi.
Faktor Risiko
- Data historis bukan jaminan: Perhitungan Fink berasal dari kinerja masa lalu S&P 500 dan tidak menjamin hasil yang sama di masa depan.
- Karakter aset berbeda: Aset kripto memiliki volatilitas lebih tinggi dibanding indeks saham, sehingga hasil jangka panjangnya bisa sangat berbeda.
- Sentimen pasar kripto: Kabar seperti insiden keamanan di bursa kripto dapat memicu tekanan jual dalam waktu singkat.
- Profil risiko pribadi: Strategi bertahan jangka panjang tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan menanggung risiko dan kebutuhan dana masing-masing investor.
Kesimpulan
Larry Fink mengingatkan bahwa terlalu sering keluar masuk pasar berisiko membuat investor melewatkan hari-hari kenaikan terbesar, yang pada data historis S&P 500 bisa memangkas imbal hasil dari sekitar 11% menjadi sekitar 6%, bahkan negatif. Bagi investor, termasuk investor kripto, pelajaran utamanya adalah disiplin pada tujuan jangka panjang, berinvestasi secara rutin, menjaga porsi kripto tetap proporsional, dan memilih platform yang terdaftar OJK, sambil tetap memahami bahwa kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan.
Pantau Berita Pasar Kripto di Aplikasi CryptoWave
Disclaimer
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan. Bareksa menyajikan ringkasan ini berdasarkan kerja sama konten dengan CryptoWave x TRIV Research.
Profil Penulis

Hanum Kusuma Dewi adalah seorang penulis dengan spesialisasi pada topik bisnis, keuangan, dan investasi termasuk reksa dana, saham, SBN hingga emas. Dengan latar belakang pendidikan di bidang komunikasi dan pengalaman 8+ tahun di pasar modal, Hanum juga melakukan riset untuk membuat konten yang mena
Pilihan Investasi di Bareksa
Klik produk untuk lihat lebih detail.
| Produk Eksklusif | Harga/Unit | 1 Bulan | 6 Bulan | YTD | 1 Tahun | 3 Tahun | 5 Tahun |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
Trimegah Dana Obligasi Nusantara autodebet | 1.251,26 | ||||||
Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A | 1.206,96 | - | - | ||||
STAR Stable Amanah Sukuk autodebet | 1.221,77 | - | - | ||||
Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A | 1.015,89 | - | - |
Produk Belum Tersedia
Ayo daftar Bareksa SBN sekarang untuk bertransaksi ketika periode pembelian dibuka.
Ayo daftar Bareksa SBN sekarang untuk bertransaksi ketika periode pembelian dibuka.
