Kebal Terhadap Inflasi, Begini Dua Strategi dalam Investasi Emas

Anda bisa memilih strategi dollar cost averaging atau strategi constant share
Abdul Malik • 23 Jun 2022
cover

Ilustrasi investasi emas batangan atau logam mulia. (Shutterstock)

Bareksa.com - Emas dinilai sebagai instrumen investasi yang memiliki daya tahan atau kebal terhadap inflasi. Harga logam mulia cenderung naik, utamanya jika dilihat secara jangka panjang di atas 5 tahun, Lantas bagaimana sebaiknya strategi dalam berinvestasi emas, agar mendatangkan cuan? 

Seperti halnya dalam berinvestasi reksadana atau  instrumen investasi lainnya, berinvestasi emas juga membutuhkan strategi agar bisa cuan maksimal. Strategi yang dipilih sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan dan profil risiko masing-masing investor. Setidaknya ada dua strategi yang bisa dterapkan dalam berinvestasi emas, yakni strategi dollar cost averaging dan strategi constant share, 

1. Strategi Dollar Cost Averaging

Strategi pertama ialah Dollar Cost Averaging. Yakni upaya untuk membagi transaksi investasi dengan memasukkan jumlah dana yang sama dalam nilai mata uang (dolar atau rupiah) dalam rentang waktu tertentu, sehingga didapatkan harga secara rata-rata. Bisa dikatakan, investor membagi porsi investasi secara rutin, misalnya setiap bulan.

Misalnya penghasilan smart investor Rp10 juta per bulan dan ingin investasi emas senilai Rp10 juta. Jadi smart investor bisa mengalokasikan 10 persen dari gaji bulanan smart investor yang berarti Rp1 juta, untuk berinvestasi pada logam mulia. Pembelian emas untuk investasi dilakukan secara konsisten setiap tanggal gajian.

Investasi dengan metode DCA tidak perlu menunggu harga emas turun, karena kondisi pasar tertentu. Nilai investasi akan dihitung secara rata-rata, karena bisa saja hari ini membeli emas seharga Rp1 juta per gram, kemudian di bulan depan harganya Rp900.000 per gram, investor tetap membeli emas seharga Rp1 juta tetapi mendapat ukuran emas lebih besar.

Dengan metode Dollar Cost Averaging ini, smart investor tidak harus menebak-nebak kapan harga emas naik dan turun, dibanding jika memggunakan metode lump sum alias membeli aset dalam satu waktu sekaligus.

Berikut ilustrasi agar semakin memahami strategi Dollar Cost Averaging. Sebut saja harga emas di bulan pertama adalah Rp1 juta per gram. Lalu harga emas turun di bulan ke-2 jadi Rp750 ribu per gram, maka smart investor bisa mendapatkan emas seberat 1,3 gram di bulan kedua seharga Rp1 juta. Kemudian di bulan ke-3 harga emas kembali turun jadi Rp500 ribu per gram, dengan begitu smart investor bisa membeli emas tersebut seberat 2 gram dengan modal Rp1 juta. 

Bulan ke-

Harga Emas (Rp/gr)

Nilai investasi (Rp)

Pembelian emas (gr)

Saldo Emas

Nilai Rata-Rata (Rp/gr)

gram

rupiah

1

1.000.000

1.000.000

1,00

1.00

1.000.000

1.000.000

2

750.000

1.000.000

1,33

2.33

2.000.000

857.143

3

500.000

1000.000

2,00

4.33

3.000.000

692.308

2. Strategi Constant Share

Dalam strategi constant share, investor bisa membeli emas secara rutin mengacu pada jumlah unitnya, bukan nilai uangnya. Misalnya, smart investor rutin investasi emas dengan membeli logam mulia 1 gram setiap bulan. 

Kelebihan utama dari strategi constant share adalah investor dapat dengan mudah menghitung jumlah unit yang dimiliki dalam jangka waktu tertentu. Jika memilih strategi constant share, tentu saja biaya yang dikeluarkan bisa sangat bervariasi. 

Lalu bagaimana hasil investasi emas logam mulia rutin dengan strategi constant share selama lima tahun?

Mari kita buat ilustrasi. Misalkan smart investor rutin membeli emas logam mulia ukuran 1 gram tiap bulannya sejak lima tahun lalu. Maka dalam setahun smart investor bisa memiliki emas batangan sebesar 12 gram, hingga misalnya dalam lima tahun, ukuran emas yang dimiliki sudah mencapai 60 gram.

Jadi, berapa nilai emas yang bisa smart investor miliki saat ini dari berinvestasi sejak 5 tahun lalu misalnya? Melansir laman Logam Mulai, harga beli emas Antam pada 22 Juni 2017 senilai Rp607 ribu per gram dan harga jual kembali (buyback)-nya Rp531 ribu per gram.


Sumber: Logam Mulia

Sementara itu harga beli emas Antam pada 22 Juni 2022 senilai Rp993 ribu per gram dan harga jual kembalinya Rp871 ribu per gram.

Sumber: Logam Mulia

Dengan demikian, jika smart investor ingin menjual emas hasil investasi selama 5 tahun, maka hasil investasi emas selama lima tahun tersebut Rp871 ribu X 60 = Rp52,26 juta. Catatan lainnya, strategi constant share ini cocok bila smart investor ingin mencapai target sejumlah emas tertentu dalam gram, berapapun harganya.

Bareksa Emas

Smart investor yang tidak mau repot menghitung dan menyimpan emas batangan bisa menggunakan fitur Bareksa Emas di super app investasi Bareksa, yang tersedia untuk ponsel (handset) berbasis iOS dan Android.

Di Bareksa Emas, Bareksa telah bermitra dengan pedagang emas online yang menyediakan fasilitas titipan atau gadai, yaitu Pegadaian dan Indogold. Mitra pengelola emas ini sudah mendapat izin OJK sebagai salah satu usaha pergadaian (untuk penitipan emas).

Selain itu, emas yang diperjualbelikan Bareksa melalui fitur Bareksa Emas adalah logam mulia dengan kadar 99,99 persen yang diproduksi oleh ANTAM dan UBS. Emas ANTAM dan emas UBS sudah sering dijadikan alat investasi sehingga tidak perlu diragukan lagi keasliannya.

(Martina Priyanti/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER​

Fitur Bareksa Emas dikelola oleh PT Bareksa Inovasi Digital, berkerjasama dengan Mitra Emas berizin.