Harga Emas akan Dipengaruhi Varian Baru Covid-19 dan Kebijakan The Fed

Pada pekan ini, perdagangan emas tertuju pada beberapa sentimen yang bisa memberikan arah The Fed dalam mengambil keputusan pada 2022 mendatang
Abdul Malik • 30 Nov 2021
cover

Ilustrasi investor sedang memegang emas batangan atau logam mulia hasil investasinya. (Shutterstock)

Bareksa.com - Pergerakan harga emas pekan ini disinyalir akan dipengaruhi oleh varian baru Covid-19, Omicron dan kebijakan The Fed. Dengan sentimen tersebut, harga emas diperkirakan akan bergerak di atas US$1.800.

Indonesia Commodity and Derivatives Exchange mencatat, harga emas pada perdagangan Senin, (29/11), mengalami konsolidasi dan bergerak ke zona US$1.780. Kekhawatiran terhadap varian Omicron sempat menjadi perhatian pasar.

"Namun fokus di awal sesi perdagangan pekan ini relatif tertuju pada potensi keagresifan the Fed pada tahun 2022 mendatang," tulis ICDX dalam risetnya, Selasa (30/11).

Pada pekan ini, perdagangan emas tertuju pada beberapa sentimen yang bisa memberikan arah The Fed dalam mengambil keputusan pada 2022 mendatang.

Sentimen yang cukup mendapat perhatian adalah data sektor ketenagakerjaan AS lapis pertama. Data sektor ketenagakerjaan AS tersebut bisa memberikan gambaran seberapa ketatnya sektor tenaga kerja AS yang selama ini menjadi perhatian The Fed.

Selain data ketenagakerjaan, data inflasi AS yang menunjukan pertumbuhan juga menjadi sentimen yang mempengaruhi The Fed. Sentimen lainnya adalah pernyataan dari Jerome Powell, Ketua The Fed untuk melihat sinyal tambahan terkait perubahan kebijakan moneter.

Dengan berbagai sentimen tersebut, harga emas pekan ini akan berada di zona resistance terdekat US$1.811 dan zona support terdekat di level US$1.785.

Sedangkan resistance terjauh berada di zona US$1.825 hingga US$1.835. Sementara untuk zona support terjauh berada di area US$1.780 hingga US$1.770.

Baca juga : Bareksa Raih Pendanaan Seri C dari Grab, Kukuhkan Sinergi Grab - Bareksa - OVO

Dua Faktor Penggerak Harga Emas

Senior Investment Strategist OCBC Bank Vasu Menon menjelaskan, emas mengalami comeback dengan adanya kekhawatiran stagflasi. Kenaikan sementara dapat terjadi jika kekhawatiran stagflasi memburuk. Namun, harga emas sebesar US$1.840 per ons dapat dianggap sebagai soft cap.

Menurut Vasu ada beberapa hal yang akan mempengaruhi pergerakan harga emas. Pertama, kekhawatiran akan stagflasi dapat mengakibatkan kombinasi perlambatan inflasi dan pertumbuhan yang cukup stabil dan kuat.

Kedua, kecenderungan hawkish The Fed akan mempercepat transisi dolar AS ke angka yang lebih kuat secara jangka menengah.

Walaupun terdapat kekhawatiran terhadap harga emas, OCBC Bank masih melihat investor masih akan menyimpan sebagian emas di dalam portofolio mereka.

Hal ini dikarenakan dunia global sedang perlahan-lahan keluar dari krisis yang belum pernah terjadi selama hampir 100 tahun terakhir. 

"Harga emas memang cenderung naik ketika bunga menurun sejalan dengan melemahnya ekonomi. Karena itu, emas dapat digunakan sebagai hedge terhadap ketidakpastian ekonomi atau bahkan kemungkinan terjadinya resesi," ungkap Vasu.

(K09/AM)

Baca juga : Investasi Reksadana di Bareksa dapat OVO Poin dan Voucher GrabFood

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.