Berita Hari Ini : SBN Ritel Rilis 6 Seri Target Rp80 Triliun, Penerbangan Umroh Kembali Buka

IHSG berpeluang menguat awal 2021, obligasi diprediksi moncer di semester I, harga emas diperkirakan terus meningkat
Abdul Malik • 04 Jan 2021
cover

Duta besar Kerajaan Arab Saudi untuk Indonesia Essam bin Abed Al-Thaqaf (kiri) memberikan cenderamata kepada jamaah umrah di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (1/11/2020). Setelah tujuh bulan menangguhkan umrah, Kerajaan Arab Saudi resmi membuka umrah tahap pertama untuk Indonesia dengan kuota 278 jamaah. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal

Bareksa.com - Berikut adalah perkembangan penting di isu ekonomi, pasar modal dan aksi korporasi, yang disarikan dari media dan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Senin, 4 Januari 2021 :

IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri tahun 2020 dengan parkir di zona merah. Pada hari terakhir perdagangan tahun 2020, Rabu (30/12), IHSG melemah 57,1 poin atau terkikis 0,95 persen menjadi 5.979,07. Mayoritas sektor saham di bursa memang melemah. Hanya indeks saham sektor agrikultur yang berhasil menguat 0,89 persen. serta indeks saham sektor perdagangan, jasa, dan investasi yang meningkat 0,17 persen.

Sementara itu, sektor infrastruktur, utilitas, dan transportasi mengalami penurunan paling dalam hingga 2,49 persen. Lalu indeks saham sektor industri dasar dan kimia yang terkikis 2,02 persen.

Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama mengungkapkan, pelemahan IHSG diperberat oleh sentimen mutasi atau varian baru dari virus Covid-19. Di sisi lain, kasus Covid-19 terus mengalami kenaikan. "Adapun data-data makro ekonomi domestik maupun global masih belum memberikan high market impact yang positif," ujarnya, Rabu (30/12) dilansir Kontan.

IHSG diprediksi akan menguat pada awal perdagagangan tahun 2021. Secara teknikal, berdasarkan rasio fibonacci, support maupun resistance IHSG berada pada 5874.89 hingga 6157.11. Adapun MACD masih menunjukkan sinyal positif, meskipun telah menampakkan pola dead cross. Sementara itu, stochastic maupun RSI bergerak ke bawah di area netral.

"Pergerakan IHSG telah menguji garis MA 20 sehingga peluang terjadinya penguatan menuju ke level resistance terdekat masih terbuka lebar," ujarnya dalam riset yang diterima Kontan.co.id, Rabu (30/12).

Berbeda, analis Artha Sekuritas Indonesia Denies Christoper Jordan memprediksi IHSG akan bergerak melemah pada Senin (4/1). Dalam risetnya, dia menjelaskan secara teknikal IHSG candlestick membentuk formasi double top sehingga ada indikasi kuat pergerakan akan kembali melemah.

"Pergerakan awal tahun 2021 akan dipengaruhi beberapa data perekonomian di antaranya data manufaktur dan inflasi. Selain itu, ada kekhawatiran akan semakin tingginya lonjakan kasus Covid-19 pasca libur akhir tahun," ujarnya.

IHSG diprediksi akan bergerak dengan level support 5.942 hingga 5.905. Sementara itu, level resistance-nya berada di 6.035 hingga 6.091. Pada penutupan perdagangan Rabu (30/12), IHSG melemah karena adanya aksi profit taking menjelang libur Tahun Baru. Selain itu, pelemahan IHSG disebabkan minimnya sentimen dari data ekonomi di akhir tahun ini.

Dua hal tersebut cenderung mendominasi dibandingkan sentimen positif stimulus dan anggaran Amerika Serikat 2021 yang telah diteken oleh Presiden Donald Trump.

SBN Ritel

Pemerintah melalui Kementerian Keuangan berencana menerbitkan surat berharga negara (SBN) ritel setidaknya enam kali pada 2021, dengan target penerbitan hingga Rp80 triliun.

Direktur Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Luky Alfirman memperkirakan minat investor atas SBN ritel masih tinggi pada tahun ini. Hal itu terjadi seiring dengan proyeksi terjadinya pemulihan ekonomi. Untuk itu, DJPPR mengagendakan penerbitan SBN ritel setidaknya 6 kali pada tahun ini dengan instrumen obligasi negara ritel (ORI), Sukuk Ritel, Saving Bonds Ritel (SBR), serta Sukuk Tabungan.

Tak hanya itu pemerintah juga berencana kembali menerbitkan Cash-Waqf Linked Sukuk (CWLS). “Untuk timing dan besaran penerbitan SBN Ritel di 2021 dapat disesuaikan dengan minat investor dan kondisi pasar keuangan saat itu,” kata Luki dilansir Bisnis, akhir pekan lalu.

Untuk target penerbitan tahun 2021, Luki menyebut pemerintah memasang angka di kisaran Rp60 triliun hingga Rp80 triliun. Angka ini tak jauh dari realisasi penerbitan SBN ritel sepanjang 2020 yang mencapai Rp76,78 triliun.

Luki menegaskan, penerbitan SBN ritel tetap diupayakan untuk menjaring investor baru, khususnya generasi milenial, yang berpotensi menjadi basis investor di masa depan sebagai bagian dari pendalaman pasar SBN di Tanah Air.

Sepanjang 2020, pemerintah telah menerbitkan 6 SBN ritel terdiri atas 1 Savings Bonds Ritel (seri SBR009), 2 sukuk ritel (seri ST012 dan ST013), 2 obligasi negara ritel (seri ORI017 dan ORI018), dan 1 sukuk tabungan (seri ST007).

Adapun, akumulasi nilai pemesanan keenam SBN ritel tersebut mencapai Rp76,78 triliun. Seri SR013 menjadi yang paling banyak dipesan dengan jumlah pemesanan yang ditetapkan Rp25,67 triliun. Realisasi tersebut jauh melampaui total pemesanan SBN ritel pada 2019 yang sebesar Rp49,7 triliun. Padahal tahun tersebut pemerintah lebih getol menerbitkan instrumen ritel yakni hingga 10 seri.

Obligasi

Jadi salah satu pilihan safe haven atau aset lindung nilai saat krisis dan pandemi, kinerja produk investasi berbasis obligasi sukses memberikan return besar sepanjang 2020. Tren tersebut diprediksi masih akan berlanjut hingga semester I 2020, tergantung pada dampak pandemi Covid-19. Berdasarkan rangkuman Kontan, dari lima besar instrumen investasi yang berhasil memberikan return terbesar di 2020, produk berbasis obligasi mendominasi peringkat tersebut.

Di mana pada urutan ketiga ada obligasi pemerintah atau INDOBeX Goverment Total Return yang naik sebanyak 14,77 persen secara year to date (ytd), disusul obligasi korporasi atau INDOBeX Goverment Total Return yang naik 11,09 persen. Ada juga Infovesta 90 Fixed Income Fund Indeks atau reksadana pendapatan tetap yang memberikan return 10,35 persen ytd.

Head of Economics Research Pefindo Fikri C Permana mengungkapkan, secara umum dalam lima tahun terakhir pergerakan obligasi khususnya untuk Surat Utang Negara (SUN) sebagaimana data dalam indeks obligasi IBPA terus mencatatkan return yang lebih baik dibandingkan pasar saham.

"Itu karena, Surat Berharga Negara (SBN) sendiri diterbitkan langsung oleh pemerintah, sementara obligasi korporasi diterbitkan emiten-emiten yang punya rating lebih baik. Sedangkan saham banyak layernya, seperti small cap, big cap dan lainnya," kata Fikri dilansir Kontan, Minggu (3/1).

Selain itu, setahun terakhir tepatnya di 2019 investor cenderung risk averse atau menjauhi risiko dari manajer investasi bermasalah. Alhasil, aset-aset non risk seperti obligasi dianggap punya prospek lebih baik dan aman, terlebih jika dibandingkan dengan saham yang culturenya adalah kepemilikan dan riskan untuk out perform.

Meski begitu, Fikri memandang saat kondisi ekonomi membaik dan keadaan kembali positif, maka masyarakat atau pelaku pasar akan kembali mengincar aset-aset berisiko seperti saham. Prediksinya, itu baru akan terjadi di semester II 2021 bergantung pada keberhasilan distribusi vaksin Covid-19. Fikri menilai tahun ini, tren portofolio investasi sangat bisa berubah dari tahun lalu.

Apalagi, di akhir Agustus 2020 lalu, aset berisiko mulai kembali bangkit didukung kebijakan pemerintah dan cara pelaku investasi melihat risiko ke depan."Kalau ada perubahan risk averse ke retaker, kemungkinan tren investasi 2020 akan berubah tahun ini. Game changernya lebih ke dampak pandemi, sehingga risk averse kemungkinan masih akan terjadi di semester I 2021 dan retaker baru akan terjadi di semester II 2021 di mana investor akan beralih ke aset berisiko," paparnya.

Ke depan, pelaku pasar akan melihat seberapa besar dampak pandemi Covid-19 terhadap perilaku usaha masyarakat, hingga ke pendapatan, alokasi konsumsi dan investasi masyarakat. Fikri memprediksi tren yield SUN masih akan turun, mengingat di awal tahun risiko pandemi Covid-19 masih akan dirasakan. Ditambah lagi, penurunan yield SUN juga didukung tren penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dan yield spread dengan US Treassury.

Meski begitu, inflasi 2021 diprediksi lebih terjaga di kisaran 2 persen, sehingga potensi yield turun lebih dalam menjadi terbatas. Penurunan yield akan lebih jelas tampak pada SUN dengan tenor jangka panjang. Adapun untuk yield SUN tenor 10 tahun, Fikri memprediksi akan berada di rentang 5,5 persen hingga 5,7 persen. Dengan inflasi yang terjaga, BI juga diprediksi masih memiliki ruang untuk memangkas suku bunga acuannya sekitar 25 basis poin (bps) hingga 50 bps di tahun ini.

Umroh

Pemerintah Arab Saudi pada Minggu (3/1/2021) secara resmi mencabut penutupan penerbangan sementara yang diberlakukan dua pekan lalu. Sebelumnya penutupan dilakukan untuk mencegah masuknya varian baru virus corona dari Inggris. Pembukaan kembali penerbangan internasional tertuang dalam surat edaran yang dikeluarkan oleh Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi (GACA) No.4/36252 pada Minggu (3/1/2021).

"Mencabut penangguhan penerbangan dan kunjungan internasional ke Kerajaan (Arab Saudi). Maskapai penerbangan diizinkan untuk kembali membawa penumpang," demikian bunyi surat edaran tersebut.

Kabid Umrah Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri), Zaki Zakaria mengatakan, dengan terbitnya peraturan baru tersebut, maka jemaah umroh asal Indonesia bisa kembali diberangkatkan ke Tanah Suci. "Setelah airport Indonesia dibuka untuk penerbangan internasional tanggal 14 Januari 2021, umrah bisa kembali diberangkatkan," kata Zaki dalam keterangan tertulis yang dilansir Kompas.com, Minggu (3/1/2021).

Informasi terbaru mengenai ketentuan penerbangan di Arab Saudi juga dipublikasikan oleh KBRI Riyadh melalui laman Facebook mereka. Penjadwalan ulang Sebelumnya, keberangkatan jemaah umroh asal Indonesia pada 21 Desember 2020 tertunda karena Arab Saudi menutup semua penerbangan internasional selama sepekan.

Seperti diberitakan, 22 Desember 2020, penundaan itu membuat jadwal keberangkatan umrah jemaah Indonesia harus dijadwal ulang atau re-schedule. Zaki Zakariya mengatakan, jumlah jemaah yang tertunda keberangkatannya pada 21 Desember 2020 dari Amphuri ada sekitar 20 orang. Sedangkan dari seluruh asosiasi dan travel, informasi yang didapat Zaki dari konjen (konsul jenderal) ada sekitar 75 jemaah yang tertunda.

Melansir Arab News, Minggu (3/1/2021) selain membuka kembali akses penerbangan internasional, surat edaran GACA No.4/36252 juga memuat beberapa ketentuan lain, yaitu bagi warga negara asing (WNA) yang datang dari Inggris, Afrika Selatan, serta negara lain, yang menurut Kementerian Kesehatan Arab Saudi telah mengalami penyebaran varian baru virus corona, maka diwajibkan untuk menunggu 14 hari sebelum memasuki Arab Saudi, dengan membawa hasil tes PCR yang dilakukan setelah masa tunggu selesai.

Kemudian, berdasarkan alasan kemanusiaan dan situasi mendesak, warga negara Arab Saudi diizinkan masuk dengan persyaratan karantina 14 hari di rumah masing-masing, dan melakukan dua kali tes PCR, yakni dalam kurun waktu 48 jam dan pada hari ke-13 setelah kedatangan.

Seperti diberitakan Kompas.com, Senin (21/12/2020), sebelumnya Arab Saudi menutup sementara semua penerbangan internasional selama satu pekan untuk mencegah penularan strain baru virus corona SARS-CoV-2. Selain penerbangan internasional, pintu masuk ke Arab Saudi melalui pelabuhan dan jalur darat juga ditutup untuk rentang waktu yang sama.

Berdasarkan keterangan Saudi Press Agency (SPA), keputusan penutupan sementara itu diambil setelah adanya temuan strain baru virus corona di Inggris dan Eropa yang diketahui lebih menular. Akan tetapi, sejauh ini, menurut WHO, belum ada bukti strain virus ini berperilaku berbeda dengan jenis virus yang telah ada.

Harga Emas

Kilau emas pada tahun 2020 tampak sangat memukau. Logam mulia itu berhasil membukukan kinerja harga tahunan terbaik dalam 10 tahun terakhir. Kinerja cerah pun masih menanti emas. Berdasarkan data Bloomberg, harga emas berjangka di bursa Comex berhasil menguat 24,42 persen sepanjang 2020 dan parkir di posisi US$1.895 per troy ounce pada akhir perdagangan 2020, Kamis (31/12/2020). Kinerja itu merupakan penguatan tahunan terbesar bagi harga emas dalam 10 tahun terakhir.

Pada 2019, emas hanya mampu menguat 18 persen di tengah sentimen perang dagang. Pada 2020 penguatan emas didukung oleh pelemahan dolar AS ke level terendahnya sejak April 2018. Emas sempat menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah, US$2.000 per troy ounce, pada medio Agustus 2020. Adapun, sejak menyentuh rekor itu emas terus menurun, apalagi vaksin Covid-19 terus memberikan perkembangan positif yang mendorong optimisme di pasar keuangan dan menjauhkan investor dari aset aman seperti emas.

Namun, menjelang penutupan 2020 keadaan kembali mendukung harga emas untuk melanjutkan tren penguatannya seiring dengan penggelontoran stimulus jumbo oleh Pemerintah AS yang melemahkan dolar AS sehingga akhirnya emas tetap berhasil membukukan kinerja tahunan terbaik. Penguatan itu pun terjadi untuk harga emas batangan buatan dalam negeri, atau emas Antam garapan PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM).

Sepanjang 2020, harga emas batangan Antam untuk ukuran 1 gram telah menguat 25,16 persen dan parkir di level Rp965.000 per gram pada akhir perdagangan Kamis (31/12/2020).Pada 2019, emas Antam hanya mampu menguat 14,3 persen. Adapun, pada 2020 emas Antam juga menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah yaitu di level Rp1.065.000 per gram pada medio Agustus 2020.

Di sisi lain, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang utama terkoreksi hingga 6,75 persen sepanjang 2020. Pada akhir perdagangan Kamis (31/12/2020) indeks dolar AS parkir di level 89,931.

Tim riset HSBC Holdings Plc dalam publikasi risetnya mengatakan pihaknya melihat emas berpeluang untuk naik lebih tinggi pada tahun ini karena berlanjutnya ketidakpastian pasar. Perusahaan keuangan itu menilai sebagian besar kinerja emas tahun depan akan bergantung terhadap perkembangan Covid-19 yang diharapkan segera mereda dan pada akhirnya sebanding dengan kebijakan stimulatif yang sedang berlangsung.

“Dipimpin oleh Ketua Jerome Powell, Federal Reserve AS, juga telah mengisyaratkan bahwa kondisi moneter yang sangat mudah akan bertahan sepanjang 2021, menjadi katalis baik bagi emas,” tulis HSBC Holdings Plc dikutip dari Bloomberg, Minggu (4/1/2020).

Selain itu, upaya pemerintah AS untuk meneruskan stimulus fiskal lebih lanjut juga menjadi katalis sangat positif bagi emas karena membuat pasar dibanjiri likuiditas sehingga tren pelemahan dolar AS pun berlanjut.

Di sisi lain, sejumlah analis dan perusahaan keuangan global justru berpendapat sebaliknya. Morgan Stanley, contohnya, melihat emas dan logam mulia lainnya akan berada di bawah tekanan pada 2021 karena pasar keuangan sudah berangsur normal dan imbal hasil obligasi bertenor panjang sudah naik.

Secara terpisah, Tim Riset Panin Sekuritas dalam publikasi Market Outlook 2021 memperkirakan rata-rata harga emas pada 2021 berada di posisi US$1.690 per troy ounce, lebih rendah daripada rata-rata harga pada 2020 di posisi US$1.760 per troy ounce. Namun, perkiraan rata-rata harga tahun depan masih jauh lebih tinggi daripada rata-rata harga pada 2019 di kisaran US$1.395 per troy ounce.

“Emas diekspektasikan akan menurun pada 2021, didorong oleh ekspektasi pertumbuhan ekonomi ke depan didorong dari perkembangan positif dari vaksin Covid-19,” tulis tim riset Panin Sekuritas, dilansir Bisnis.com Minggu (3/1/2021).

(*)