Capai Rp10 Triliun, Ini Top 10 Reksadana Dana Kelolaan Terbesar di Bareksa

Kesepuluh produk dikelola oleh manajer investasi yang juga masuk top 20 daftar pengelola dana terbesar Indonesia
Bareksa • 28 Jul 2020
cover

Ilustrasi investor pria sedang melihat layar laptop untuk memantau hasil investasi reksadana saham obligasi sukuk

Bareksa.com - Industri reksadana nasional terus bangkit dan melanjutkan tren pemulihannya. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, nilai aktiva bersih (NAB) atau dana kelolaan industri reksadana per 20 Juli sudah menyentuh Rp499,33 triliun, atau hampir menembus Rp500 triliun.

Dana kelolaan atau NAB adalah total harga pasar atas aset (seperti saham, surat utang dan deposito) dalam portofolio suatu reksadana, ditambah dengan biaya pencadangan bunga dari surat utang atau deposito pada portofolio, dikurangi biaya-biaya operasional reksadana seperti biaya pengelolaan, biaya kustodi, pajak dan lainnya. Hasilnya, NAB adalah nilai yang sudah bersih (net) yang tidak lagi terkena pajak.

Dana kelolaan dalam bahasa Inggris disebut Asset Under Management (AUM). Masing-masing reksadana memiliki dana kelolaannya sendiri.

Saat ini, satu produk reksadana yang memiliki dana kelolaan terbesar di Indonesia adalah Schroder Dana Prestasi Plus dengan nilai AUM Rp10,43 triliun per Juni 2020. Reksadana saham yang dikelola oleh PT Schroder Investment Management Indonesia ini tersedia di marketplace reksadana online Bareksa.

Kemudian, peringkat kedua ditempati oleh Mandiri Investa Pasar Uang dengan nilai AUM Rp10,16 triliun per Juni 2020. Reksadana pasar uang yang dikelola oleh PT Mandiri Manajemen Investasi ini juga tersedia di marketplace reksadana online Bareksa.

Di marketplace reksadana online Bareksa, produk reksadana yang juga masuk dalam top 10 reksadana dengan dana kelolaan terbesar adalah reksadana pasar uang Sucorinvest Money Market Fund, reksadana saham Batavia Dana Saham, reksadana pasar uang Batavia Dana Kas Maxima, reksadana saham Schroder Dana Prestasi, reksadana pasar uang Bahana Dana Likuid, reksadana pendapatan tetap Schroder Dana Mantap Plus II, reksadana pendapatan tetap Manulife Obligasi Negara Indonesia Kelas A, dan reksadana pasar uang Manulife Dana Kas II.

Top 10 produk reksadana dengan dana kelolaan terbesar tersebut memang dikelola oleh manajer investasi yang juga masuk top 20 daftar pengelola dana tertinggi di Indonesia.

Daftar Top 10 Produk Reksadana AUM Terbesar di Bareksa (AUM dalam Triliun Rupiah)

Sumber: Bareksa.com

Ada yang percaya bahwa NAB atau dana kelolaan yang besar mencerminkan kepercayaan investor kepada reksadana dan manajer investasi yang mengelolanya. Sebagian besar reksadana dengan dana kelolaan terbesar ini sudah berusia lebih dari 10 tahun, sehingga wajar telah mengumpulkan dana dari banyak investor.

Meskipun demikian, nilai dana kelolaan tidak menjamin kinerja reksadana karena itu adalah dua hal yang berbeda. Kinerja reksadana dihitung dengan selisih harga reksadana atau NAB per unit penyertaan akhir dan awal periode.

Kinerja lebih disebabkan oleh pergerakan nilai aset di dalam reksadana tersebut. Misalnya, reksadana saham bisa tumbuh tinggi karena harga saham-saham di dalam portofolionya juga naik tinggi.

Di samping kemampuan manajer investasi, ada juga faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap kinerja reksadana. Lengkapnya baca di sini.

Perlu diketahui, reksadana ialah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

***

Ingin berinvestasi yang aman di reksadana dan diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.