BeritaArrow iconBerita Ekonomi TerkiniArrow iconArtikel

Merpati dan Kertas Leces Masih Tunggu Investor Strategis

06 September 2017
Tags:
Merpati dan Kertas Leces Masih Tunggu Investor Strategis
Petugas berjaga di samping Pesawat Boeing 777-300ER Garuda Indonesia yang baru tiba di Hanggar 3 Garuda Maintenance Facitilities (GMF), Tangerang, Banten, Jumat (19/6). ANTARA FOTO/Lucky R

Di antara BUMN, Garuda mencatatkan rugi paling besar di semester I 2017

Bareksa.com – Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyatakan bahwa sudah ada investor yang berminat terhadap dua BUMN yang sedang direstrukturisasi. Dua BUMN tersebut adalah PT Merpati Nusantara Airlines dan PT Kertas Leces.

Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN, Aloysius Kiik Ro, menuturkan bahwa sejauh ini sudah ada investor yang berminat menjadi pemegang saham Merpati.

“Tetapi diskusinya masih ketat,” ujarnya kepada Bareksa, Senin, 4 September 2017. Ketatnya diskusi tersebut masih terkait dengan kondisi keuangan Merpati.

Promo Terbaru di Bareksa

Investor yang berminat pada Merpati Airlines berasal dari dalam negeri, karena memang investor BUMN yang tengah direstrukturisasi mayoritas harus dari dalam negeri. Menurut Aloysius, satu-satunya cara menyelamatkan Merpati adalah mengundang investor strategis.

Apabila Merpati telah memperoleh investor, perseroan bisa mulai mencicil utang. Nantinya Merpati bisa memperpanjang tenor utangnya hingga 30-40 tahun, sehingga dana investor tidak akan terpakai untuk membayar utang.

Sejak tahun lalu, Kementerian BUMN sudah menyatakan ada investor strategis yang tertarik pada Merpati Airlines. pada 2016, kementerian menyebutkan ada tiga investor yang akan menyuntikkan modal ke Merpati, salah satunya merupakan perusahaan asing asal Asia.

Sementara itu, Kertas Leces sebentar lagi akan kedatangan investor baru.

Rugi Garuda Terbesar Di antara BUMN

Dari 10 perusahaan yang sedang direstrukturisasi Kementerian BUMN, tiga perusahaan di antaranya sudah mendapatkan untung, sementara tujuh lainnya masih merugi.

Sepanjang semester I 2017, terdapat 24 BUMN yang membukukan kerugian, tujuh di antaranya merupakan perusahaan yang tengah direstrukturisasi. Total kerugian dari 24 BUMN tersebut mencapai Rp 5,85 triliun.

Apabila dibandingkan dengan kinerja keuangan semester I tahun lalu, jumlah BUMN rugi tahun ini menyusut. Pada semester I tahun lalu jumlah BUMN rugi sebanyak 27 perusahaan dengan total kerugian Rp 5,82 triliun.

BUMN yang mencatatkan kerugian paling besar adalah PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), yaitu US$ 283,8 juta atau sekitar Rp 3,77 triliun. Jumlah kerugian Garuda Indonesia meningkat dibandingkan dengan periode sama tahun lalu sebesar US$ 63,19 juta.

Keuangan Garuda Semester I 2017

Illustration

Sumber : materi presentasi GIAA

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

autodebet

1.228,77

Up0,75%
Up1,56%
Up1,85%
Up6,37%
Up20,74%
Up14,47%

Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A

1.185,17

Up1,02%
Up2,00%
Up2,59%
Up6,54%
--

Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A

1.031,54

Up1,45%
Down-1,63%
Down-1,53%
---

STAR Stable Amanah Sukuk

autodebet

1.202,85

Up0,50%
Up1,08%
Up1,52%
Up5,18%
--

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua