Manuver Yuan China Bisa Lemahkan Rupiah?

Masuknya Yuan sebagai SDR dalam jangka pendek bisa berpotensi kembali melemahkan nilai tukar rupiah
Bareksa • 02 Dec 2015
cover

Karyawati menunjukkan mata uang Yuan di salah satu tempat penukaran valuta asing di Jakarta, Senin (30/11). ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

Bareksa.com - Lembaga Moneter Internasional (IMF) merestui mata uang China yakni Yuan untuk bergabung di dalam Special Drawing Rights (SDR) bersama empat mata uang global lainnya yakni dolar AS, Euro, Yen, dan Poundsterling. Yuan akan resmi bergabung pada bulan Oktober 2016 dan akan menjadi mata uang global yang bebas dipakai dalam perdagangan dunia.

Masuknya Yuan sebagai salah satu mata uang global dikhawatirkan dapat memicu pelemahan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek. "Kalau itu (Yuan masuk SDR) picu PBoC mengurangi intervensi Yuan yang sekarang diduga overvalued, maka impaknya akan negatif untuk rupiah dalam jangka pendek," ucap Rangga Cipta, ekonom Samuel Sekuritas ketika dihubungi Bareksa.com.

Bank Sentral China (PBoC) menjaga stabilitas nilai tukar Yuan melalui intervensi agar mata uang Negeri Tirai Bambu ini bisa masuk dalam kategori SDR. PBoC sampai harus menggerus cadangan devisa hingga $467 juta atau sekitar Rp6,3 triliun (asumsi kurs Rp13.500 per dolar Amerika) sepanjang Juni 2014 - November 2015. Tak mengherankan jika pada periode yang sama mata uang uang Yuan hanya melemah sekitar 3 persen terhadap dolar Amerika padahal mata uang negara lain rata-rata ambrol 20 persen.

Grafik Pelemahan Nilai Tukar Terhadap Dolar Amerika Periode 1 April 2014 - 30 November 2015

Sumber: Bloomberg website, diolah

Padahal sejak tahun 2005 currency peg (penerapan kurs tetap) antara dolar Amerika dan Yuan tidak lagi berlaku, tetapi dalam data Bloomberg menunjukan penguatan Yuan terhadap dolar sebesar 20,8 persen sejak 2005 sampai dengan sekarang. Kedua hal ini mengindikasikan mata uang Yuan overvalued (berada di atas nilai wajar).

Grafik: Penguatan Nilai Tukar Yuan Terhadap Dolar AS 2005-2015


sumber: Bareksa

Hal mengenai yuan yang tidak lagi murah juga diungkap oleh IMF dalam siaran pers 26 Mei 2015. "Penilaian kami saat ini adalah bahwa apresiasi nilai tukar efektif dalam beberapa tahun kebelakang sudah membawa yuan kepada titik yang tidak lagi undervalued," tulis IMF.

Hal lain yang mengindikasikan mahalnya mata uang China adalah ekspor yang tidak kunjung menguat sejak tahun 2012. Data yang dipaparkan Tradingeconomics.com menunjukan bahwa ekspor China tidak bergerak signifikan dari kisaran $200 miliar sejak tahun 2012. Di bulan Oktober 2015 Bahkan ekspor China kembali mencatatkan penurunan 6,9 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya menjadi $192 miliar.

Grafik: Ekspor China


sumber: Tradingeconomics

Pada kondisi Yuan overvalued dan dengan masuknya Yuan sebagai SDR membuat PBoC tidak lagi dapat melakukan intervensi maka risiko pelemahan Yuan terhadap dolar Amerika meningkat.

Berdasarkan data historis, pelemahan Yuan bisa berdampak pada melemahnya rupiah -- seperti yang terjadi pada bulan Agustus lalu, ketika China melakukan devaluasi mata uang.  Seiring dengan devaluasi nilai tukar yuan, rupiah ikut anjlok 2,5 persen dari kisaran Rp13.524 per dolar ke kisaran Rp13.856 per dolar. (np)

Grafik: Devaluasi Yuan & Pelemahan Rupiah


sumber: Bareksa