Kenapa Ahok Berencana Bentuk Holding BUMD Seperti Temasek

Deutsche Bank mencatat terdapat 13 tipe proyek yang diestimasikan perlu total investasi sekitar $36 miliar di Jakarta.
Bareksa • 21 Oct 2015
cover

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok (kiri) didampingi Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane T Iskandar (kedua kiri) meninjau pembangunan tanggul Kali Sunter, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (12/2). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan.

Bareksa.com - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama sejak Senin 19 Oktober 2015 melakukan kunjungan kerja ke Singapura. Beberapa agenda penting Ahok -- begitu ia biasa disapa -- di antaranya adalah menemui profesional muda Indonesia di negeri ini dan mengunjungi kantor Temasek Holdings untuk belajar membangun BUMD holding investasi di DKI Jakarta.

Mengutip laporan Deutsche Bank kepada Investor yang diterima Bareksa, Gubernur Ahok rupanya memiliki rencana untuk membentuk perusahaan holding investasi seperti layaknya Temasek untuk DKI Jakarta. Tujuannya untuk memastikan terus berlangsungnya pembangunan infrastruktur strategis di Ibukota walaupun nanti dia tidak terpilih lagi dalam pemilihan Gubernur DKI pada 2017 mendatang.

Sebagaimana diketahui, Temasek merupakan perusahaan holding investasi milik pemerintah Singapura yang didirikan untuk memisahkan fungsi pemerintah sebagai regulator dan pembuat kebijakan dengan fungsi pemerintah sebagai pemegang saham.

Dibentuk pada1974, Temasek berkembang pesat menjadi salah satu perusahaan holding berskala besar dan ternama di dunia, yang memastikan keberlangsungan dan efektivitas pembangunan di Singapura. Portofolio Temasek per 31 Maret 2015  mencapai US$194 miliar, di mana 70 persennya berada di Asia. Tiga sektor krusial terbesar yang dikuasai Temasek meliputi bidang keuangan, telekomunikasi, dan transportasi.

Sementara di DKI Jakarta, Pemerintah Provinsi sedang berupaya mengembangkan salah satu BUMN PT Jakarta Propertindo menjadi perusahaan holding. Sejumlah proyek pembangunan sudah masuk dalam tahap perencanaan dalam beberapa tahun mendatang, sehingga diperlukan kepastian dari segi pendanaan dan regulasi untuk menjaga keberlangsungan proyek-proyek tersebut.

Berdasarkan catatan Deutsche Bank setidaknya ada 13 tipe proyek yang diestimasikan perlu total dana investasi sekitar $36 miliar atau setara Rp504 triliun (kurs Rp14.000 per dolar), yang mencakup pembangunan MRT, LRT, jalan layang, dan juga jalan tol.

Setidaknya ada enam ruas tol baru yang sudah masuk ke perencanaan Gubernur, yakni Semanan - Sunter, Sunter - Pulo Gebang, Duri Pulo - Kampung Melayu, Kemayoran - Kampung Melayu, Ulujami - Tanah Abang,, dan Pasar Minggu - Casablanca. Proyek tol tersebut memakan investasi sebesar Rp41 triliun dan rencananya akan dikerjakan oleh BUMD PT Jakarta Tollroad Development.

Selain itu, pemerintah provinsi DKI juga berencana menambah jalan layang non-tol di bundaran Semanggi. Proyek yang diperkirakan menelan dana Rp500 miliar tersebut kabarnya sudah didiskusikan bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. "Hitungan kasar kami sekitar Rp500 miliar," kata Ahok seperti dikutip Bisnis.com, 2 Juli 2015.

DKI juga memiliki sejumlah mega proyek yang belum selesai, yakni Mass Rapid Transit (MRT) rute Timur ke Barat yang dikerjakan PT Jakarta MRT, serta pembangunan Light Rail Transit (LRT) Jakarta yang rencananya akan diintegrasikan dengan LRT buatan PT Adhi Karya Tbk (ADHI) di kawasan Jabodetabek. (kd)