Yuan China Melemah 3,2% dalam 3 Hari, Kekhawatiran 'Perang Mata Uang' Muncul

‘Perang mata uang’ adalah kondisi dimana negara-negara besar bersaing satu sama lain untuk melemahkan mata uangnya
Bareksa • 15 Aug 2015
cover

A man watches television inside his currency exchange shop in New Delhi in this file phone taken August 30, 2013. REUTERS/Mansi Thapliyal

Bareksa.com – Melemahannya mata uang Yuan terhadap dolar AS sebesar 3,2 persen dalam tiga hari terakhir akibat kebijakan devaluasi bank sentral China (PBoC), mulai dikhawatirkan sejumlah pihak. Kondisi ini dinilai akan memicu terjadinya perang mata uang (currency war).

Salah satu pihak yang khawatir adalah Donald Trump, calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Republik. Dalam salah satu pidato kampanyenya, Trump menyatakan kekhawatirannya atas kebijakan bank sentral China karena akan sangat berpengaruh bagi ekonomi AS.

“Saya pikir, kita harus melakukan sesuatu untuk mengendalikan China. Mereka terus memotong mata uang mereka selama bertahun-tahun. Mereka akan menghancurkan kita (Amerika Serikat),” ujar Trump yang juga merupakan pengusaha properti dikutip Washington Post.

Hal ini beralasan karena jika Yuan terus turun tajam, maka momok deflasi global—tidak hanya terjadi di Amerika— akan menjadi ancaman akibat membanjirnya ekspor ‘barang murah’ China di pasar dunia.

Istilah Perang Mata Uang

‘Perang mata uang’ adalah sebuah kondisi dalam hubungan internasional dimana negara-negara besar bersaing satu sama lain untuk mendorong nilai mata uangnya menjadi lebih rendah.

Perang mata uang pertama kali terjadi pada 1930-an. Saat itu, beberapa negara meninggalkan standar emas dalam perdagangan dalam mendukung mata uang mereka sendiri. Selama Great Depression, banyak dari negara-negara ini mendevaluasi mata uang mereka untuk merangsang ekonomi mereka.

Tidak mau kalah, mitra dagang mereka pun dengan cepat membalas dengan mendevaluasikan kembali mata uang mereka sendiri dan mengurangi tingkat perdagangan secara keseluruhan. Proses ini terus terjadi hingga kemudian di tahun 1980, Dana Moneter Internasional (IMF) mulai memperkenalkan penggunaan inflasi dan tingkat pengangguran, dan tingkat pertumbuhan sebagai tolak ukur dalam mengukur fundamental suatu mata uang.

Istilah ini kembali dicetuskan oleh Menteri Keuangan Brazil, Guido Mantega dalam menjelaskan fenomena persaingan negara-negara besar pada 2010 yang secara sengaja berlomba-lomba melemahkan mata uangnya. Caranya pun beragam, mulai dari menurunkan suku bunga acuan sampai dengan mencetak lebih banyak uang beredar.

Pelemahan ini ditujukan untuk merangsang ekonomi negara masing-masing, dengan meningkatkan perdagangan ekspor sehingga memperoleh keuntungan (surplus) perdagangan.Fenomena ini dimulai oleh kebijakan Quantitative Easing (QE) yang dilakukan The Fed sebagai bank sentral Amerika dengan menggelontorkan uang untuk membeli obligasi pemerintah. Selain itu, The Fed juga memotong suku bunga acuannya Fed Rate menjadi nyaris nol persen.

Langkah ini diambil The Fed untuk mendorong perekonomian AS yang baru saja terkena hantaman krisis subprime mortage. Imbasnya, dolar AS pun melemah.

Grafik Pergerakan Nilai Tukar dolar AS terhadap Rupiah

Sumber: Yahoo, diolah Bareksa

Akibat dari kebijakan ini, perekonomian AS secara perlahan pun membaik yang ditunjukkan oleh data PDB yang tumbuh menjadi 3,1 persen di akhir 2010. Angka ini naik dari 4,1 persen di pertengahan tahun 2009.    

Kondisi ini pun diikuti oleh Bank sentral Eropa (BoE) pada 2010. Saat itu, BoE menerapkan Quantitive Easing (QE) untuk mendorong perekonomian Eropa yang melemah akibat tingginya nilai tukar Euro. Kebijakan QE ini diberlakukan juga untuk mencegah terjadinya spiral deflasi di banyak negara eropa—penurunan harga barang yang disebabkan konsumsi masyarakat karena perlambatan ekonomi.

Grafik Pertumbuhan Ekonomi AS (periode 2008-2010)

Sumber: Yahoo, diolah Bareksa

Tidak hanya Eropa, Jepang pun pada akhir 2012 ikut mengeluarkan kebijakan yang dikenal “Abenomics”. Kebijakan ekonomi yang terdiri dari kebijakan moneter, fiskal, dan strategi pertumbuhan untuk mendorong ekonomi Jepang yang mengalami stagflasi lebih dari satu dekade.

Pelemahan ketiga mata uang dunia tersebut membuat Yuan, mata uang China sebagai pengimpor menguat. Hal ini menyebabkan barang-barang produksi China pun menjadi lebih mahal. Imbasnya, laju pertumbuhan industri China pun tertahan.

Untuk mengatasi hal ini, PBoC pun ikut mendevaluasikan mata uangnya agar bisa kembali kompetitif terhadap mata uang lainnya.

Lantas, apakah devaluasi China akan memanaskan perang mata uang ini?