BeritaArrow iconBelajar InvestasiArrow iconArtikel

Cara Atur Aset Investasi Anti Zonk Buat Emak-emak ala Sandiaga Uno

Abdul Malik15 April 2026
Tags:
Cara Atur Aset Investasi Anti Zonk Buat Emak-emak ala Sandiaga Uno
Sandiaga Uno (Antara Foto/Widodo S. Jusuf).

Simulasi investasi Rp1 miliar di saham, reksadana, SBN Ritel hingga emas ala Sandiaga Uno. Strategi atur aset anti zonk untuk portofolio lebih seimbang dan terdiversifikasi.

Bareksa - Sering merasa uang terus keluar tapi aset tidak kunjung bertambah? Masalahnya sering bukan pada kurangnya penghasilan, melainkan cara mengelola uang dan risiko.

Mengutip postingan IG reel akun resmi Sandiaga Uno (9/4), investasi bukan sekadar mengejar untung besar, tapi bagaimana menata portofolio agar tetap aman di berbagai kondisi pasar.

Hal ini terlihat dari pengalaman Sandiaga saat diminta mengelola aset ibunya Mien R Uno, tokoh pendidikan yang kini berusia 84 tahun, yang telah dikumpulkan selama puluhan tahun sebagai guru.

Promo Terbaru di Bareksa

Sandi terkejut. Sebab meski sudah berinvestasi lebih dari 15 tahun, komposisi portofolio sang ibu ternyata cukup agresif, dengan porsi saham mencapai 40%.

Padahal, untuk profil investor yang cenderung konservatif seperti “emak-emak”, komposisi tersebut dinilai kurang ideal karena belum seimbang dengan kebutuhan stabilitas dan keamanan.

Komposisi Awal

  • 40% saham (equity)
  • 40% pendapatan tetap (fixed income)
  • 20% cash (deposito/tabungan)

Catatan:

Porsi saham tergolong tinggi, sementara cash cukup besar sehingga sebagian dana kurang produktif.

Usai Sandiaga purna tugas dari jabatan terakhirnya di pemerintahan yakni menjabat sebagai Menparekraf (22 Desember 2020 – Oktober 2024), mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017–2022, itu kemudian merebalancing portofolio investasi sang ibunda.

Setelah Rebalancing

Portofolio kemudian disesuaikan agar lebih stabil:

  • 20% saham (equity)
  • 60% pendapatan tetap (fixed income)
  • 20% cash & emas

Dengan rebalancing ini, portofolio investasi Mien Uno diharapkan lebih tahan dari dampak gejolak pasar. Selain itu, juga memberikan pemasukan rutin dari instrumen pendapatan tetap seperti di Surat Berharga Negara (SBN), serta masih tetap punya potensi pertumbuhan dari saham dan emas. Likuiditas juga tetap terjaga dari cash.

Simulasi Investasi Rp1 Miliar

Sebenarnya tidak ada rumus pasti alokasi aset yang ideal untuk semua orang, karena sangat bergantung pada profil risiko, usia, kebutuhan, dan tujuan investasi masing-masing.

Namun, ada pendekatan sederhana yang sering digunakan sebagai panduan awal, yaitu rumus 100 dikurangi usia untuk menentukan porsi aset agresif seperti saham.

Contohnya, jika usia investor 40 tahun, maka alokasi saham sekitar 60% (100 – 40), sementara sisanya 40% ditempatkan di instrumen yang lebih konservatif seperti reksa dana pasar uang, obligasi, atau emas.

Seiring bertambahnya usia, porsi aset agresif umumnya dikurangi. Investor yang sudah memasuki usia senior biasanya lebih disarankan memperbesar alokasi di instrumen defensif atau konservatif, karena cenderung lebih mengutamakan stabilitas dan menghindari risiko gejolak pasar dibandingkan mengejar pertumbuhan tinggi.

Untuk contoh investasi Mien Uno yang sudah berusia 84 tahun, Sandiaga juga menerapkan pola serupa. Dia mengalokasikan saham hanya 20%, sisanya di instrumen defensif dan konservatif.

Apalagi beberapa waktu terakhir sejak Israel-Amerika Serikat menyerang Iran akhir Februari lalu, sehingga membuat konflik geopolitik di Timur Tengah kian memanas, telah membuat pasar bergejolak dan kinerja instrumen saham memerah.

IHSG tercatat minus 9,44% dan Indeks LQ45 merosot 10,53% hingga akhir pekan lalu.

Grafik Kinerja IHSG & Indeks LQ45 (27 Feb - 10 April 2026)

Illustration

Sumber: Bareksa

Dengan memperbesar alokasi investasi di instrumen pendapatan tetap dan emas, Sandiaga telah berhasil membuat kinerja portofolo ibunda tetap aman dari gejolak pasar dan tetap berhasil meraih return positif.

Sebagai gambaran sederhana, berikut kinerja portofolio investasi Mien Uno misalnya dengan dana Rp1 miliar, dibagi dalam beberapa alokasi investasi berikut:

Simulasi Portofolio Rp1 Miliar: Sebelum vs Sesudah Rebalancing

Sebelum Rebalancing

  • Total portofolio: Rp1 miliar

  • 40% saham (Rp400 juta): saham LQ45 seperti SRTG, BBCA, BMRI, BBRI

  • 40% pendapatan tetap (Rp400 juta):

    • Rp200 juta reksa dana pendapatan tetap (return ±7,44% per tahun)

    • Rp200 juta Sukuk Negara Ritel SR021 (kupon 6,35%–6,45%) masa penawaran 23 Agustus - 18 September 2024.

  • 20% deposito (Rp200 juta): bunga ±4,25% (sesuai LPS saat itu)

Setelah Rebalancing

  • Total portofolio: Rp1 miliar

  • 20% saham (Rp200 juta): saham LQ45 (SRTG, BBCA, BMRI, BBRI)

  • 60% pendapatan tetap (Rp600 juta):

    • Rp300 juta reksa dana pendapatan tetap (return ±8,6% per April 2026)

    • Rp300 juta Sukuk Tabungan ST013 (imbal hasil 6,4%–6,5%) masa penawaran: 8 November - 4 Desember 2024.

  • 20% aset defensif (Rp200 juta):

    • Rp100 juta deposito (bunga ±4,25%)

    • Rp100 juta emas (harga naik dari Rp1.446.214 → Rp2.604.290 per gram per 13 April 2026)

Grafik Harga Beli Emas Digital Treasury 31 Okt vs Harga Jual Emas 13 April 2026

Illustration
Illustration

Sumber: fitur Bareksa Emas

Dari grafik terlihat dengan investasi emas digital pada Oktober 2024 saat harga beli Rp1,44 juta per gram, maka pada 13 April 2026 saat dijual kembali berpeluang meraih keuntungan 80% karena harganya sudah tembus Rp2,6 juta per gram.

Adapun untuk saham dengan profil risiko Mien Uno, maka portofolionya diasumsikan bisa ditempatkan di saham-saham LQ45, seperti PT. Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia hingga PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Simulasi Investasi Saham Okt 2024 - April 2026

Kode Saham
Harga 31 Okt 2024
Harga 10 Apr 2026
Return

SRTG

2.310

1.720

-25,54%

BMRI

6.750

4.670

-30,81%

BBRI

4.710

3.390

-28,03%

BBCA

10.250

6.675

-34,88%

Sumber: Investing, diolah Bareksa

- Rata-rata return portofolio saham: -29,82%

Simulasi Hasil Investasi Sebelum dan Usai Rebalancing

Dengan asumsi tersebut, maka simulasi hasil investasi Mien Uno sebelum dan usai rebalancing adalah sebagai berikut:

Asumsi Pajak:

  • Reksa dana: sudah mencerminkan return bersih (NAB)
  • SBN: pajak 10%
  • Deposito: pajak 20%
  • Saham: menggunakan rata-rata return -29,82%
  • Emas: tidak dikenakan pajak dalam simulasi

1. Sebelum Rebalancing

Instrumen
Alokasi
Return Net
Nilai Akhir

Saham

Rp400 juta

-29,82%

Rp280,7 juta

RD Pendapatan Tetap

Rp200 juta

7,44%

Rp214,9 juta

SBN (SR021)

Rp200 juta

5,76%

Rp211,5 juta

Deposito

Rp200 juta

3,40%

Rp206,8 juta

Sumber: hasil simulasi Bareksa

- Total Nilai Akhir: Rp913,9 juta
- Return: -8,61%

2. Setelah Rebalancing

Instrumen
Alokasi
Return Net
Nilai Akhir

Saham

Rp200 juta

-29,82%

Rp140,4 juta

RD Pendapatan Tetap

Rp300 juta

8,60%

Rp325,8 juta

SBN (ST013)

Rp300 juta

5,81%

Rp317,4 juta

Deposito

Rp100 juta

3,40%

Rp103,4 juta

Emas

Rp100 juta

80,00%

Rp180,0 juta

Sumber: hasil simulasi Bareksa

- Total Nilai Akhir: Rp1,067 miliar
- Return: 6,7%

Perbandingan Hasil

Kondisi
Nilai Akhir
Return

Sebelum Rebalancing

Rp913,9 juta

-8,61%

Setelah Rebalancing

Rp1,067 miliar

6,7%

Sumber: hasil simulasi Bareksa

Dalam simulasi ini, penyesuaian alokasi aset membantu meredam dampak penurunan pasar terhadap portofolio.

Simulasi ini hanya untuk tujuan ilustrasi dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa depan. Keputusan investasi tetap harus disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan masing-masing investor.

Kesimpulan

Penyesuaian alokasi aset (rebalancing) dapat membantu menjaga keseimbangan portofolio di tengah kondisi pasar yang dinamis. Dalam simulasi ini, pengurangan porsi saham dan peningkatan alokasi ke instrumen pendapatan tetap serta emas membuat kinerja portofolio menjadi lebih stabil.

Hasilnya, portofolio yang sebelumnya mengalami penurunan, berpotensi kembali mencatatkan kinerja positif setelah dilakukan rebalancing. Namun, komposisi investasi yang optimal tetap bergantung pada profil risiko, usia, serta tujuan keuangan masing-masing investor.

FAQ

1. Apa itu rebalancing portofolio?
Rebalancing adalah penyesuaian kembali komposisi aset investasi agar sesuai dengan tujuan dan profil risiko investor.

2. Kapan sebaiknya melakukan rebalancing?
Umumnya dilakukan secara berkala (misalnya 6–12 bulan) atau saat komposisi portofolio sudah berubah signifikan akibat pergerakan pasar.

3. Apakah rebalancing selalu menghasilkan keuntungan?
Tidak. Rebalancing bertujuan mengelola risiko dan menjaga keseimbangan portofolio, bukan menjamin keuntungan.

4. Kenapa porsi saham dikurangi pada profil konservatif?
Karena saham memiliki fluktuasi yang lebih tinggi, sehingga porsi biasanya disesuaikan agar lebih selaras dengan kebutuhan stabilitas.

5. Apa peran emas dan pendapatan tetap dalam portofolio?
Instrumen ini umumnya digunakan untuk membantu menjaga stabilitas nilai portofolio saat pasar bergejolak, meskipun tetap memiliki risiko masing-masing.

6. Apakah strategi ini cocok untuk semua investor?
Belum tentu. Setiap investor memiliki kondisi dan tujuan berbeda, sehingga perlu penyesuaian sebelum menerapkan strategi tertentu.

Investasi di Aplikasi Trading Saham Online Terbaik – Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.

Beli Saham di Sini

(Rahmat Hidayat/Adam Nugoroho/AM)

Tentang Penulis

*Rahmat Hidayat adalah Investment Specialist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 7 tahun di bidang investasi dan produk finansial digital. Ia aktif mengembangkan produk pasar modal dan memberikan edukasi keuangan kepada masyarakat, serta memegang lisensi WPPE.

*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

***

DISCLAIMER​​​​​​​​​

Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.

Fitur Bareksa Emas dikelola oleh PT Bareksa Inovasi Digital, bekerja sama dengan Mitra Emas berizin.

Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Empty Illustration

Produk Belum Tersedia

Ayo daftar Bareksa SBN sekarang untuk bertransaksi ketika periode pembelian dibuka.

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua