Jelang Akhir Tahun, Berikut 4 Cara Evaluasi Kinerja Investasi

Investor perlu memastikan investasi sesuai dengan rencana tujuan dan profil risikonya
Hanum Kusuma Dewi • 18 Nov 2021
cover

Ilustrasi wanita sedang mengevaluasi kinerja investasinya. (Shutterstock) .

Bareksa.com - Tahun 2021 berakhir kurang dari dua bulan lagi.  Apakah Anda sebagai investor sudah dapat cuan berapa dari dana yang diinvestasikan? Biar lebih cuan lagi, tidak ada salahnya Anda melalukan evaluasi pada investasi yang sudah dilakukan.

Ada beberapa cara mudah mengevaluasi kinerja investasi. Avrist AM dalam laman resminya menyebutkan ketika Anda sudah rajin mengembangkan aset melalui investasi, sebaiknya Anda jangan melupakan begitu saja dana yang sudah Anda tanam.

Evaluasi kinerja investasi yang sudah dilakukan wajib Anda lakukan karena bagaimanapun, investasi memiliki target dan tujuan yang hendak Anda capai. Misalnya, jika Anda rutin berinvestasi setiap bulan di sebuah produk investasi yang diasumsikan mampu tumbuh 10 persen per tahun, selama 4 tahun ke depan.

Tentu langkah tersebut sudah menghitung berapa target dana yang hendak Anda kumpulkan.Untuk memastikan asumsi hitungan tujuan keuangan yang sudah dipatok di depan terpenuhi, Anda perlu rutin mengecek kinerja investasi tersebut.

Umumnya, seseorang perlu mengevaluasi kinerja investasi yang dia miliki minimal setiap akhir tahun atau setiap semester. Berikut empat langkah melakukan evaluasi investasi :

1. Cek

Ketika pertama kali berinvestasi di sebuah instrumen invetasi, apakah itu saham, reksadana, obligasi ataupun emas, jangan lupa untuk mencatat dan mengingat harga beli ketika itu. Misalnya, Anda berinvestasi rutin di reksadana saham A, catatlah berapa harga unit penyertaan dan nilai aktiva bersih reksadana tersebut ketika pertama kali Anda membeli (initial subscription).

Dengan mengetahui harga sebuah instrumen investasi ketika pertama kali membelinya, Anda bisa menghitung berapa pertumbuhannya atau penurunannya selama setahun belakang.

Bagaimana bila Anda lupa tidak mencatat harga pertama pembelian? Tenang. Jika Anda berinvestasi di reksadana, manajer investasi akan mengirimkan kinerja dana Anda secara rutin atau Anda bisa memintanya kepada manajer investasi.

Jika Anda membeli reksadana tersebut melalui bank, Anda juga bisa melihatnya kinerjanya di internet banking. Bila Anda berinvestasi di saham, Anda bisa mengecek catatan histori pembelian di akun investor yang Anda miliki. 

Lebih mudah lagi kalau membeli reksadana di aplikasi Bareksa, karena Anda bisa kapan saja melihat nilai investasi. Jadi, setiap saat sebenarnya Anda bisa langsung tahu apakah nilai investasi Anda untung atau rugi.

2. Bandingkan

Instrumen investasi pasti memiliki acuan untuk mengukur pertumbuhan harga. Apabila Anda berinvestasi di saham atau reksadana saham, maka acuan atau benchmark yang bisa Anda bandingkan adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Misalnya, investasi Anda di reksadana saham ABCD mampu tumbuh 2 persen tahun lalu, sedangkan pertumbuhan IHSG pada periode yang sama malah minus 2,54 persen.

Artinya, kinerja investasi reksadana ABCD cukup bagus walau pertumbuhannya kecil, karena masih mampu tumbuh positif apabila dibandingkan harga acuannya yang negatif. Anda juga memanfaatkan indeks acuan yang dirilis oleh beberapa institusi, seperti Indeks Reksadana Bareksa. Hal yang sama juga dapat Anda lakukan pada kinerja saham.

3. Evaluasi

Sebelum berinvestasi ke sebuah instrumen, Anda tentu memiliki tujuan keuangan yang hendak dicapai. Sebagai contoh, kebutuhan dana pensiun atau dana pendidikan anak yang hendak Anda gunakan enam tahun lagi adalah Rp100 juta. Untuk bisa mencapai target dana tersebut, Anda berinvestasi di sebuah instrumen investasi yang mampu tumbuh minimal 15 persen per tahun selama enam tahun, dengan modal investasi berkala Rp850 ribu per bulan.

Kemudian, saat melakukan evaluasi rutin di akhir tahun, terungkap bahwa kinerja instrumen investasi yang Anda gunakan untuk meraih tujuan keuangan tersebut hanya 10 persen per tahun. Jika demikian, ada risiko target dana yang Anda kejar tidak tercapai. Maka, Anda bisa menimbang langkah lanjutan supaya target dana dalam tujuan keuangan tersebut bisa tercapai. 

4. Ambil Keputusan

Ketika asumsi awal yang Anda gunakan dalam penghitungan tujuan keuangan meleset, maka Anda memiliki beberapa opsi pasca-evaluasi. Pertama, switching atau mengalihkan investasi ke instrumen investasi lain yang mencetak kinerja lebih bagus dan sesuai dengan asumsi hitungan awal Anda.

Kedua, memangkas kerugian (cut loss) dan switching ke instrumen berbeda saat kinerja investasi Anda ternyata di bawah target. Setelah melihat tren ke depan, banyak prediksi ahli yang menyebut kondisi pasar belum akan membaik dalam jangka pendek. Hal ini mungkin menjadi sinyal bagi Anda untuk menempuh aksi cut loss dan mengalihkan investasi ke instrumen lain yang lebih rendah risiko sekaligus masih mampu memenuhi asumsi hitungan awal.

Contohnya, Anda berasumsi investasi saham C mampu tumbuh minimal 7 persen per tahun. Tapi, pada kenyataannya kinerja investasi saham C tersebut hanya sebesar 3 persen per tahun. Anda pun tak yakin kinerjanya tahun depan akan lebih baik sementara waktu sudah mendekati target tujuan investasi.

Jadi, jika sudah demikian, cut loss adalah yang paling mungkin dan mengalihkan investasi di instrumen lain dengan proyeksi return lebih baik dengan risiko lebih rendah seperti instrumen Surat Berharga Negara (SBN) yang berpendapatan tetap atau menempatkannya di deposito.

Ketiga, menambah modal investasi (top up). Anda mendapati bahwa kinerja instrumen investasi yang Anda gunakan ternyata di bawah asumsi awal. Meski demikian, Anda memiliki optimisme bahwa kinerja investasi tersebut akan berbalik tumbuh tinggi tahun depan.

Dengan keyakinan tersebut, Anda menilai menambah modal investasi adalah yang tepat. Sebagai contoh, Anda membeli saham D seharga Rp1.000 per saham dengan asumsi pertumbuhan 15 persen per tahun. Investasi ini ditujukan untuk dana pensiun kelak.

Jika ternyata pertumbuhan harganya setahun ini justru turun 3 persen. Namun, berbekal analisa fundamental dan proyeksi jangka panjang, Anda optimistis bahwa harga saham tersebut akan menembus Rp1.500 tahun depan.

Dengan demikian, Anda justru memanfaatkan momen kejatuhan harga saham tersebut untuk membeli lebih banyak dengan harapan memperoleh keuntungan lebih optimal saat harganya menembus Rp1.500 per saham.

Nah, kalau sudah tahu langkah-langkah mengevaluasi investasi, jangan panik lagi ketika melihat nilainya tidak sesuai perkiraan. Selalu ambil keputusan sesuai dengan tujuan dan profil risiko Anda. 

(Martina Priyanti/hm)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.