Tingkat Literasi Rendah, Pelajar Rentan Terkena Bujuk Rayu Influencer

Tingkat literasi keuangan penduduk berusia 15-17 tahun hanya 16 persen atau jauh di bawah tingkat literasi keuangan nasional 38 persen
Abdul Malik • 24 Aug 2021
cover

Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Tirta Segara menyampaikan kuliah umum di Universitas Andalas (Unand), Padang, Sumatera Barat, Jumat (13/3/2020). ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

Bareksa.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai tingkat literasi keuangan para pelajar relatif rendah. Rendahnya tingkat literasi itu bisa membuat pelajar rentan dipengaruhi tawaran investasi ilegal ataupun yang marak ditawarkan influencer di media sosial.

Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Tirta Segara menjelaskan, gerakan menabung menjadi hal yang penting bagi pelajar karena jumlahnya cukup besar, yakni mencapai 65 juta pelajar.

"65 juta pelajar itu merupakan 25 persen dari total penduduk dan termasuk kategori critical economic players (pelaku ekonomi yang sangat strategis) sehingga perlu dibekali pemahaman keuangan yang memadai," jelas Tirta dalam keterangannya (24/8).

Survei OJK juga menunjukkan bahwa pelajar umumnya memiliki tingkat literasi dan inklusi keuangan yang relatif rendah. Tingkat literasi keuangan penduduk berusia 15-17 tahun hanya 16 persen atau jauh di bawah tingkat literasi keuangan nasional 38 persen.

Rendahnya tingkat literasi juga diikuti dengan rendahnya tingkat inklusi keuangan penduduk berusia 15-17 tahun tersebut, yakni mencapai 58 persen, atau jauh di bawah tingkat inklusi keuangan nasional sebesar 76 persen. Rendahnya tingkat literasi dan inklusi ini juga membuat mereka rentan dari sisi keuangan.

"Para pelajar juga lebih rentan dari sisi keuangan karena belum memahami pentingnya menabung atau berinvestasi termasuk menyiapkan dana darurat serta mudah dipengaruhi tawaran influencer di media sosial," papar dia.

Karenanya, pemerintah mencanangkan program Aksi Indonesia Menabung melalui Dewan Nasional Keuangan Inklusif sebagai langkah strategis yang memberikan manfaat yang besar dan mendorong masyarakat untuk menabung di lembaga jasa keuangan formal.

Tahun ini, pemerintah menargetkan sekitar 70 persen pelajar di Indonesia memiliki rekening tabungan. Sedangkan hingga kuartal II-2021, sebanyak 40,8 juta atau 63,14 persen pelajar di Indonesia telah memiliki rekening tabungan dengan total nominal sebesar Rp26,3 triliun.

Memiliki rekening tabungan di lembaga keuangan formal merupakan syarat utama dalam berinvestasi di instrumen saham, reksadana ataupun obligasi. Dengan memiliki rekening tabungan, pelajar bisa leluasa memilih lembaga jasa keuangan yang menawarkan produk investasi.

Pelajar bisa memulai investasi dengan dana kecil. Sejauh ini, sudah ada produk reksadana yang bisa dibeli dengan nominal mulai dari Rp10 ribu. Produk obligasi atau sukuk ritel juga ditawarkan dengan nominal rendah, yakni mulai Rp1 juta.

(K09/AM)

***

​​​Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.