
Bareksa — PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) membukukan laba bersih sebesar Rp540 miliar untuk periode Januari–Mei 2026, flat secara tahunan dan setara 39/40% dari proyeksi tahun penuh 2026 versi Ciptadana dan konsensus, sesuai rata-rata historis periode yang sama sebesar 40%, berdasarkan riset Ciptadana Sekuritas Asia (25/6/2026).
Kinerja yang stagnan secara tahunan terutama disebabkan oleh tekanan pada marjin bunga bersih (NIM — rasio pendapatan bunga bersih terhadap aset produktif) yang turun ke 22,7% dari 25,6% pada periode yang sama tahun lalu, mengakibatkan kontraksi pendapatan bunga bersih (NII) sebesar 3% secara tahunan.
Di sisi positif, biaya kredit (CoC — rasio beban provisi terhadap total pembiayaan) membaik signifikan ke 5,9% dari 9,1% pada Januari–Mei 2025, meski angka absolutnya masih terbilang tinggi. Pembiayaan tumbuh 6% secara tahunan dengan kenaikan 1% secara bulanan pada Mei 2026.
Secara bulanan, laba bersih Mei 2026 tercatat naik 9% dibanding April 2026 seiring perbaikan PPOP sebesar 8% secara bulanan — memberikan sinyal pemulihan bertahap dalam momentum operasional. Total deposito tumbuh 11% secara tahunan ke Rp12,7 triliun, dengan deposito berjangka mendominasi pertumbuhan.
Ringkasan Kinerja BTPS Januari–Mei 2026
Indikator | 5M 2025 | 5M 2026 | Pertumbuhan YoY |
|---|---|---|---|
Laba Bersih (Rp miliar) | 537 | 540 | flat |
NIM (%) | 25,9 | 22,7 | -3,2 ppt |
Biaya Kredit/CoC (%) | 9,1 | 5,9 | -3,2 ppt |
Total Pembiayaan (Rp miliar) | 10.192 | 10.861 | +6% |
Total Deposito (Rp miliar) | 11.451 | 12.665 | +11% |
LDR (%) | 89,0 | 85,6 | -3,4 ppt |
ROE (%) | 13,0 | 12,8 | -0,2 ppt |
Sumber: Riset Ciptadana Sekuritas Asia, 25 Juni 2026
Risiko terbesar yang membayangi prospek BTPS ke depan adalah kebijakan pemerintah yang memangkas suku bunga pinjaman program PNM Mekaar menjadi 8% dari sebelumnya sekitar 25%. Mengingat BTPS dan PNM Mekaar sama-sama melayani segmen pembiayaan ultra-mikro, kebijakan ini berpotensi menekan NIM BTPS secara struktural akibat tumpang tindih target pasar yang dapat memicu persaingan harga di segmen tersebut.
Harga saham BTPS ditutup di Rp975 pada perdagangan 24 Juni 2026 berdasarkan data BEI. Analis mempertahankan rating Buy dengan target harga Rp1.560 per saham.
BTPS membukukan laba flat YoY Rp540 miliar per Mei 2026 yang sesuai ekspektasi, dengan perbaikan CoC dari 9,1% ke 5,9% sebagai titik positif utama. Namun tekanan NIM yang berlanjut dan risiko struktural dari kebijakan penurunan bunga PNM Mekaar ke 8% menjadi dua faktor yang perlu dicermati investor dalam mengevaluasi prospek perseroan ke depan. Analis Ciptadana Sekuritas Asia mempertahankan rating Buy dengan target harga Rp1.560 per saham.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
***
DISCLAIMER
Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
BTPS membukukan laba bersih Rp540 miliar untuk periode Januari–Mei 2026, flat secara tahunan. Pencapaian ini setara 39/40% dari proyeksi tahun penuh 2026, sesuai rata-rata historis periode yang sama.
Penurunan NIM sebesar 3,2 poin persentase secara tahunan mencerminkan tekanan pada yield aset pembiayaan di segmen ultra-mikro, yang dipengaruhi persaingan yang meningkat dan potensi moderasi suku bunga pinjaman di segmen tersebut. NIM BTPS yang secara historis sangat tinggi dibanding bank konvensional mencerminkan karakteristik segmen ultra-mikro yang memiliki biaya operasional dan risiko kredit yang lebih tinggi.
Pemerintah memangkas suku bunga pinjaman PNM Mekaar menjadi 8% dari sebelumnya sekitar 25%. Karena BTPS dan PNM Mekaar sama-sama melayani segmen ultra-mikro, kebijakan ini berpotensi memicu persaingan harga yang menekan NIM BTPS secara struktural. Risiko ini menjadi salah satu faktor utama yang perlu dicermati investor.
Biaya kredit BTPS membaik dari 9,1% ke 5,9% secara tahunan, mencerminkan kualitas pembiayaan yang lebih baik dan penurunan beban provisi. Perbaikan ini menjadi buffer terhadap tekanan NIM, meski angka CoC absolut sebesar 5,9% masih jauh di atas rata-rata industri perbankan konvensional.
Analis Ciptadana Sekuritas Asia mempertahankan rating Buy untuk BTPS dengan target harga Rp1.560 per saham. Angka ini bersumber dari riset analis dan bukan merupakan rekomendasi investasi dari Bareksa.