Indeks Saham IHSG Anjlok Pasca Libur Lebaran, Haruskah Investor Reksadana Khawatir?

Secara YTD, kinerja pasar saham Indonesia masih merupakan salah satu yang terbaik
Hanum Kusuma Dewi • 10 May 2022
cover

Ilustrasi investor wanita duduk di bangku sambil melihat laptop dan memegang telepon handphone smartphone dengan wajah marah frustasi bingung stress melihat hasil investasi reksadana saham obligasi surat berharga negara. (shutterstock)

Bareksa.com - Hingga jeda siang ini (10/5/2022), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 2,89 persen ke 6.709,77. Sebelumnya pada perdagangan sesi pagi, IHSG sempat menyentuh level terendah intraday di 6.666,34. 

Penurunan IHSG hari ini melanjutkan koreksi 4,4 persen kemarin saat perdagangan saham kembali dibuka pascalibur Lebaran 2022. Dengan koreksi hingga jeda siang ini, akumulasi penurunan IHSG sejak kemarin sudah mencapai 7,18 persen dari level 7.228.91 pada penutupan 28 April 2022. 

Grafik Kinerja Bursa Global YTD

Namun, secara tahun berjalan atau year to date (YTD) kinerja pasar saham Indonesia masih merupakan salah satu yang terbaik dibandingkan dengan bursa saham negara lainnya.

Baca juga Bareksa Insight : Pasar Saham Cetak Untung Hampir 10% Hingga April, Cuan Reksadana Ini

Menurut penjelasan Syailendra Capital, sejumlah sentimen global yang menjadi faktor penekan IHSG termasuk keputusan rapat FOMC terkait suku bunga acuan AS pada 4 Mei 2022, isu geopolitik Rusia dan Ukraina, serta pelemahan ekonomi China. 

Suku Bunga The Fed

Pada tanggal 4 Mei 2022, the Fed memutuskan untuk meningkatkan suku bunga sebesar 50 bps ke 0,75 bps dari 0,25 bps (batas bawah). Meskipun hal ini sudah terpriced-in, reaksi pasar justru negatif tercermin pada kinerja pasar global yang terkoreksi.

Pasar menilai bahwa pernyataan the Fed untuk meniadakan opsi peningkatan suku bunga sebesar 75 bps di masa mendatang merupakan langkah yang tidak tepat. Pernyataan ini seolah-olah memberikan sinyal bahwa the Fed telah menghilangkan salah satu cara ampuh yang dapat dijadikan solusi untuk menjinakkan isu inflasi AS dan global saat ini. Ditambah lagi, dampak dari ketidakpastian geopolitik Rusia-Ukraina masih terus membayangi jalannya perekonomian global.

Baca juga Bareksa Insight: Pasar Saham Murah, Peluang Tambah Investasi Reksadana

Perang Rusia - Ukraina

Isu geopolitik Rusia-Ukraina menyebabkan adanya ketidakpastian pada perekonomian global. Disrupsi pada rantai pasok dan meningkatnya harga komoditas, menyebabkan adanya inflasi yang lebih disebabkan oleh peningkatan harga bahan baku. 

Jika terus terjadi, maka angka inflasi di masa mendatang masih berpotensi untuk berada di level yang tinggi sehingga menghambat pemulihan ekonomi global. Saat ini Russia merupakan negara dengan sanksi terbanyak di dunia (>5.000 sanksi) vs. Iran (3.616 sanksi).

Ekonomi China

Menurut Syailendra, kebijakan zero-covid di China menyebabkan adanya pelemahan pada perekonomian negara kedua terbesar di dunia itu. 

Perekonomian China kian melemah tercermin pada indeks sektor jasa Caixin Services PMI yang turun ke level 36,2 di bulan April (vs. konsensus 40,0 dan bulan sebelumnya 42,0).  Sektor jasa menyumbang lebih dari setengah perekonomian China dan lebih dari 40 persen lapangan kerja. 

Indeks manufaktur Caixin Manufacturing Index juga ikut terkontraksi ke level 46,0 di periode yang sama (dibandingkan angka konsensus 47,0 dan angka bulan sebelumnya 48,1). Ini disebabkan oleh upaya pemerintah China menurunkan angka penyebaran Covid-19 dengan memberlakukan lockdown

Baca juga Flash Sale Bursa Indonesia, Saatnya Beli Reksadana Saham?

Kondisi Ekonomi Indonesia

Syailendra menjelaskan bahwa ekonomi Indonesia masih menunjukkan fundamental yang baik. Hal ini tercermin pada sejumlah faktor:  

1. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (GDP) triwulan I di atas ekspektasi. Perekonomian indonesia berhasil tumbuh 5,01 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan dengan perkiraan konsensus di 4,95 persen. 

2. Angka inflasi yang relatif rendah dibandingkan dengan inflasi negara lainnya. Inflasi Indonesia secara tahunan 3,5 persen pada April 2022. 

Grafik Inflasi Global April (YOY)


3. Nilai mata uang yang stabil di tengah ketidakpastian global.  Nilai mata uang rupiah yang stabil disebabkan oleh adanya peningkatan harga komoditas batu bara, nikel, serta besi dan baja, yang berkontribusi besar terhadap nilai ekspor Indonesia. 

Grafik Kinerja Mata Uang Vs. USD sejak 1 April 2022


4. Arus investasi asing pada pasar saham yang lebih tinggi relatif terhadap negara lain (peers). Dengan stabilitas rupiah, angka inflasi relatif rendah, serta meningkatnya harga komoditas, Indonesia dipilih oleh investor asing sebagai destinasi investasi utama. 

Dengan penjelasan tersebut di atas, smart investor dengan profil risiko agresif dapat memanfaatkan momen ini untuk menambah investasi reksadana saham dan reksadana indeks saham saat harga murah. 

Perlu diingat kembali, investasi mengandung risiko, sehingga investor juga perlu membekali diri mengenai peluang keuntungan maupun risiko yang ada di pasar keuangan.

Lihat juga Baru Mulai atau Rutin Investasi Reksadana Pakai Robo, Raih Voucher hingga Rp50 Ribu

(hm)

* * * 

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER​
Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.