Indeks di Pekan II September Koreksi 0,52 Persen, Reksadana Saham Mampu Naik Tertinggi

IHSG sepanjang pekan II September 2021 mengakumulasi koreksi 0,52 persen ke level 6.094,87
Abdul Malik • 13 Sep 2021
cover

Ilustrasi pasangan sedang jalan-jalan dan belanja. Survei Bank Indonesia menyebutkan indeks keyakinan konsumen Agustus menurun, menunjukkan konsumen pesimistis menatap perekonomian 6 bulan ke depan. (Shutterstock)

Bareksa.com - Mengakhiri pekan kedua September 2021, bursa saham Tanah Air harus rela berakhir lebih rendah dibandingkan dengan pekan sebelumnya. Sempat bergerak di bawah level psikologis 6.000, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhirnya mampu memangkas pelemahannya hingga kembali ditutup di atas level tersebut.

Dalam sepekan perdagangan yang berlangsung mulai dari 6 hingga 10 September, IHSG sejatinya hanya berakhir di zona merah sebanyak dua kali dan di zona hijau sebanyak tiga kali, di mana secara mingguan mengakumulasi koreksi 0,52 persen ke level 6.094,87.

Meski cenderung melemah pada pekan lalu, nyatanya investor asing terlihat masih bersemangat dalam memborong aset berisiko Tanah Air dengan catatan aksi beli bersih (net buy) mencapai Rp1 triliun di pasar reguler.

Pada pekan lalu, sentimen pelaku pasar global tampak sedang kurang bagus yang terlihat dari bursa saham Amerika Serikat (AS) yang anjlok. Begitu pun dengan bursa saham Eropa. Sementara dari dalam negeri, beberapa data ekonomi juga kurang bagus. Alhasil pergerakan pasar saham menjadi bervariasi.

Data yang dirilis pada Rabu (8/9/2021) menunjukkan masyarakat Indonesia cenderung tidak percaya diri dalam menatap perekonomian. Hal itu tercermin dari survei konsumen yang digelar Bank Indonesia (BI). Pada periode Agustus 2021, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada di level 77,3. Turun dibandingkan bulan sebelumnya 80,2.

IKK menggunakan angka 100 sebagai ambang batas. Jika di bawah 100, maka artinya konsumen pesimistis memandang prospek perekonomian saat ini hingga enam bulan mendatang. Ketika masyarakat tidak pede, maka tingkat konsumsi cenderung menurun, yang tentunya berisiko menekan pertumbuhan ekonomi.

Sehari setelahnya, BI melaporkan penjualan ritel yang dicerminkan oleh Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Juli 2021 berada di level 188,5. Nilai itu turun 5  persen dibandingkan bulan sebelumnya (month on month/MoM) dan -2,9  persen dari Juli 2020 (year on year/YoY).

Satu data bagus dari dalam negeri yakni cadangan devisa (Cadev) dilaporkan US$144,8 miliar pada Agustus, naik US$7,5 miliar dari bulan sebelumnya.

BI menyebutkan kenaikan cadangan devisa terutama karena adanya tambahan alokasi Special Drawing Rights (SDR) 4,46 miliar SDR. "Atau setara dengan US$6,31 miliar (Rp90,23 triliun) yang diterima oleh Indonesia dari IMF," ujar Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, Selasa (7/9/2021).

Pergerakan Reksadana Bervariasi

Kondisi pasar saham Indonesia yang mengalami koreksi pada pekan lalu, berdampak secara variatif terhadap kinerja seluruh jenis reksadana. Namun menariknya, indeks reksadana saham masih mampu menorehkan kenaikan tipis sekaligus menjadi yang tertinggi pada pekan lalu dengan kenaikan 0,08 persen.

Sumber: Bareksa

Kemudian di peringkat kedua disusul oleh indeks reksadana pasar uang yang bertambah 0,05 persen.

Adapun dua jenis reksadana yang mengalami koreksi di peringkat ketiga dan keempat ditempati oleh indeks reksadana campuran dan indeks reksadana pendapatan tetap dengan masing-masing penurunan tipis -0,01 persen dan -0,03 persen.

Di sisi lain, top 10 reksadana yang berhasil mencatatkan kenaikan kinerja dengan imbal hasil (return) mingguan tertinggi pada pekan lalu mayoritas dikuasai oleh produk reksadana saham 8 produk, sementara 2 produk lainnya merupakan reksadana campuran.

Sumber: Bareksa

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(KA01/Arief Budiman/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.